Catatan 
Jurnalistik
Didin Maninggara
dari Silatul Fikri 99
Tokoh Tana Samawa
(Episode 5)



Buta huruf ekonomi yang ditekankan Dr. Zulfikliemansyah (Dr. Zul) di PMI Dea Malela, Sabtu 26 September, bukan sekadar tidak bisa membaca laporan keuangan. Maknanya jauh lebih dalam: kemiskinan struktural.

Dan kemiskinan itulah yang pelan-pelan merontokkan falsafah tertinggi Tana Samawa: _Adat barenti ko syara, syara barenti ko Kitabullah._

Mengapa? Bang Zul menjelaskan, adat butuh biaya, bukan hanya niat.

Dalam budaya Sumbawa, adat bukan sekadar seremoni. Adat adalah sistem ekonomi. Sebab ada pesta adat, gotong royong dan sebagainya semua butuh ongkos.

Orang Sumbawa yang miskin tidak akan mampu menjalankan adat secara utuh. Ia akan malu mengundang, malu datang karena tidak bisa membawa _pangkenang_. Akibatnya, ia menarik diri dari lingkaran adat. Inilah awal putusnya _barenti_ (sendi).

Semangat kerja tinggi ada, tapi kemiskinan membuat adat tidak hidup.

Begitu pula Syara, butuh kemerdekaan ekonomi.

Syara barenti ko Kitabullah, menurut Bang Zul, artinya hukum Islam menjadi penyangga adat. Zakat, infaq, qurban, ongkos haji, menyekolahkan anak ke pesantren, semua adalah perintah syara yang mensyaratkan kemampuan ekonomi.

Bagaimana seseorang bisa menegakkan syara, jika untuk makan besok saja ia harus berhutang? Kemiskinan membuat orang terpaksa melanggar syara: riba, judi, merantau tanpa kejelasan, meninggalkan keluarga. 

Dr. Zul benar: kemiskinan adalah buta huruf yang membuat kita tidak mampu membaca kewajiban syara.

Hilangnya Daya
Saing dan Harga
Diri Tau Samawa
____

Dulu, Tau Samawa berdaya saing karena tanahnya kaya, ternaknya banyak, lautnya luas. Namun, lanjut Bang Zul, globalisasi hari ini menuntut literasi baru: literasi digital, pasar, modal.

Ketika Tau Samawa buta huruf ekonomi, ia hanya jadi penonton di tanahnya sendiri. Hasil bumi dijual mentah, dibeli murah, diolah orang lain, dijual mahal kembali ke Sumbawa. 

Semangat kerja keras ada, tapi tanpa literasi ekonomi, kerja keras itu hanya jadi _kerja untuk orang lain._

Inilah yang merusak tatanan dan martabat. Falsafah _adat barenti ko syara_ menjadi jargon di spanduk, jargon di seminar, tapi tidak terwujud di dapur.

Solusi Kultural

Maka solusi yang ditawarkan Dr. Zul sangat relevan: Adat tidak hanya bersendikan syara, tapi juga kewirausahaan.

Mengembalikan ekonomi adat, koperasi samawa, adalah cara mengembalikan sendi itu.

Karena sejatinya, manusia tidak bisa _beradat_ kalau perutnya lapar, dan tidak bisa _bersyara_ kalau tangannya terikat kemiskinan.

Adat akan kembali tegak, jika ekonominya merdeka.