Lombok Barat, (postkotantb.com) - Pemerintah Kecamatan Gerung menyoroti rendahnya tingkat kehadiran balita ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang dinilai berpengaruh terhadap akurasi data pemantauan stunting di wilayah tersebut.
Fitriyati Wahyuni, Camat Gerung, menyampaikan bahwa angka stunting yang tercatat sebesar 9,2 persen perlu dicermati bersama dengan rendahnya cakupan penimbangan dan pengukuran balita di Posyandu.
Menurutnya, capaian D/S di wilayah Gerung masih berada di angka 49 persen. Indikator D/S merupakan perbandingan jumlah balita yang datang dan ditimbang di Posyandu dengan jumlah seluruh balita yang menjadi sasaran.
“Angka stunting yang tercatat 9,2 persen, tetapi D/S kita masih 49 persen. Artinya, balita yang datang ke Posyandu untuk ditimbang dan diukur masih kurang dari setengah jumlah sasaran,” ungkap Fitri, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, rendahnya cakupan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader Posyandu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki balita.
Sejumlah faktor diduga memengaruhi rendahnya kehadiran balita, mulai dari kesibukan orang tua, jadwal pelayanan Posyandu yang belum sesuai dengan waktu masyarakat, hingga kurangnya kesadaran membawa anak untuk menjalani pemantauan pertumbuhan secara rutin.
Karena itu, kader Posyandu diharapkan lebih aktif mengajak dan mengingatkan orang tua agar membawa anak mereka ke Posyandu sesuai jadwal. Dengan demikian, pengukuran berat badan dan tinggi badan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
Data Akurat Jadi Dasar Penanganan Stunting
Ibu Camat Gerung menegaskan, penanganan stunting tidak cukup hanya berfokus pada angka kasus yang sudah tercatat. Pemerintah juga perlu memastikan seluruh balita sasaran terpantau agar anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan dapat segera diidentifikasi dan memperoleh penanganan.
Menurutnya, data yang lengkap dan akurat sangat penting sebagai dasar penyusunan program, penentuan sasaran intervensi, hingga perencanaan anggaran di tingkat desa.
Jangan sampai perhatian pemerintah hanya tertuju pada balita yang sudah teridentifikasi mengalami stunting, sementara anak-anak yang belum terpantau justru luput dari perhatian.
Selain stunting, balita dengan kondisi berat badan kurang atau underweight juga perlu mendapatkan perhatian. Begitu pula ibu hamil yang memiliki faktor risiko, karena kondisi kesehatan dan kecukupan gizi selama kehamilan turut memengaruhi pertumbuhan anak sejak dalam kandungan.
Upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui pemantauan kesehatan ibu hamil, pemenuhan kebutuhan gizi, serta pemeriksaan pertumbuhan balita secara berkala.
Dengan peningkatan cakupan pelayanan Posyandu, pemerintah berharap data kondisi balita di wilayah Gerung semakin akurat sehingga intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran. Langkah ini sekaligus penting untuk mencegah munculnya kasus stunting baru.
Dasan Geres Menjadi Perhatian
Dalam keterangannya, Camat menyebut Kelurahan Dasan Geres sebagai salah satu wilayah yang masih memiliki angka stunting tinggi sehingga membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa, Puskesmas, dan kader Posyandu diharapkan dapat memperkuat koordinasi untuk meningkatkan cakupan pemantauan pertumbuhan balita sekaligus memastikan anak-anak yang berisiko mendapatkan pendampingan.
Penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, kader Posyandu, tenaga kesehatan, hingga pemerintah desa , kelurahan dan kecamatan.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya diukur dari penurunan persentase kasus, tetapi juga dari meningkatnya cakupan pemantauan, ketepatan data, serta terjaminnya perhatian terhadap seluruh balita yang menjadi sasaran pelayanan kesehatan. (RamliJamak)


0Komentar