𝑃𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔𝑎𝑡𝑎𝑛 88 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑆𝑢𝑚𝑝𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑚𝑢𝑑𝑎
Oleh Muis Debe
Warga Pemerhati
Sering kali kita mengira bahwa persatuan itu adalah keadaan di mana semua orang berpikir, merasa, dan berpendapat sama. Padahal sesungguhnya, persatuan adalah kemampuan untuk tetap berdiri bersama meskipun kita berbeda pendapat, berbeda keyakinan, dan berbeda pilihan hidup. Itulah makna yang paling mendalam dari ikrar yang diucapkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 — bukan janji untuk menjadi serupa, melainkan tekad untuk tetap satu meskipun berbeda.
𝑲𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒈𝒂𝒎𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑳𝒆𝒃𝒊𝒉 𝑲𝒐𝒎𝒑𝒍𝒆𝒌𝒔
Delapan puluh delapan tahun telah berlalu. Kita masih hidup di bumi yang sama, di bawah bendera yang sama, dan menyebut diri sebagai satu bangsa. Namun keragaman yang kita hadapi hari ini tidak lagi hanya berbentuk perbedaan suku, bahasa, atau daerah asal — sebagaimana yang dihadapi generasi pendahulu kita. Keragaman hari ini jauh lebih kompleks. Ia merambah pada perbedaan pandangan politik, perbedaan cara memahami kebenaran, perbedaan akses terhadap informasi, bahkan perbedaan pengalaman hidup yang menciptakan dunia yang nyaris tak saling bersentuhan. Inilah realitas yang tidak bisa kita pungkiri.
𝑯𝒊𝒅𝒖𝒑 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒏𝒂 𝑫𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑷𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂𝒂𝒏
Masalah yang muncul bukanlah karena kita berbeda. Perbedaan itu sendiri bukan masalahnya. Justru masalahnya terletak pada kenyataan bahwa kita belum memiliki budaya untuk hidup bersama dengan perbedaan itu. Ketika seseorang berbeda pendapat, ia dengan mudah dianggap musuh. Ketika ada yang menyampaikan pandangan yang tak sejalan, ia langsung dicap sebagai pihak yang merugikan. Ruang untuk berdebat dengan hormat semakin menyempit, sementara ruang untuk saling mencurigai semakin meluas. Kita seolah lupa bahwa dalam satu bangsa yang sehat, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar — justru itulah tanda bahwa bangsa itu sedang berpikir, sedang berkembang, dan sedang mencari jalan terbaik bersama.
𝑷𝒆𝒓𝒔𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏 𝑩𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒔𝒆𝒓𝒂𝒈𝒂𝒎𝒂𝒏
Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kita cenderung memahami persatuan sebagai keseragaman. Kita merasa nyaman hanya di antara mereka yang sejalan dengan kita. Kita membentuk kelompok-kelompok yang saling menguatkan keyakinan masing-masing, dan menutup diri terhadap suara-suara yang berbeda di luar sana. Padahal, persatuan yang sesungguhnya justru diuji ketika kita berada di tengah perbedaan. Persatuan yang hanya tumbuh di antara orang-orang yang sependapat, itu bukan persatuan — itu sekadar kelompok kepentingan.
𝑺𝒖𝒎𝒑𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑩𝒆𝒍𝒖𝒎 𝑺𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊 𝑫𝒊𝒖𝒄𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏
Berkaca kepada fenomena tersebut di atas, kita akan sampai kepada satu kesadaran: bahwa semangat Sumpah Pemuda yang kita rayakan setiap tahun ini, sesungguhnya belum selesai diucapkan. Ia masih harus diperjuangkan setiap hari. Jika dulu para pemuda berjuang agar bangsa ini terbebas dari perpecahan akibat penjajahan dan sekat-sekat kolonial, maka tugas kita hari ini adalah membangun jembatan di antara perbedaan yang makin menjauh itu. Kita tidak dipanggil untuk menyamakan pendapat semua orang — itu mustahil dan tidak demokratis. Yang kita perlukan adalah kesepahaman bahwa kita semua, bagaimanapun berbeda pandangannya, tetap adalah bagian dari satu kesatuan yang sama.
𝑩𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝑴𝒆𝒏𝒈𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕𝒊 𝑷𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂𝒂𝒏.
Dengan menggali lebih dalam kesadaran tersebut di atas, maka kita akan dapat memperbarui kembali pesan sederhana namun mendasar dari Sumpah Pemuda: mari belajar kembali untuk menghormati perbedaan.
Bukan sekadar mentoleransi — karena toleransi masih berarti menahan diri karena terpaksa — melainkan menghargai, bahwa kebenaran itu bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Bahwa saudara kita yang berbeda pendapat belum tentu salah, dan kita pun belum tentu selalu benar. Bahwa satu bangsa yang besar tidak dibangun di atas keseragaman pikiran, melainkan di atas kebersamaan hati yang mampu menampung keberagaman. Itulah Sumpah Pemuda yang sesungguhnya — bukan seremonial di atas kertas, tetapi sikap yang hidup dalam setiap perbincangan kita sesama anak bangsa.


0Komentar