Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS), Dr. Muazzar Habibi. Foto Istimewa.



Lombok Barat, (postkotantb.com) — Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum krusial bagi seluruh elemen pondok pesantren untuk kembali memperkuat komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus melakukan introspeksi diri. Hal tersebut ditegaskan oleh Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS), Dr. Muazzar Habibi. Kamis, (22/10/2026).

Menurutnya, Hari Santri bukan sekadar seremonial untuk mengenang perjuangan alim ulama dan santri saat merebut kemerdekaan, melainkan pengingat atas peran sejarah pesantren sebagai benteng utama moral dan kesusilaan bangsa.
Menanggapi berbagai dinamika dan persoalan yang sempat menerpa lingkungan pesantren khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) Muazzar secara terbuka mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk tidak menutup mata. Menurutnya, potensi timbulnya masalah adalah hal yang wajar dalam sebuah lembaga yang dihuni ratusan hingga ribuan orang.

Ia memberikan apresiasi tinggi kepada berbagai pihak, mulai dari LSM, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), hingga Aparat Penegak Hukum (APH) yang berani mengungkap oknum maupun persoalan di internal lembaga pendidikan keagamaan.

"Adanya persoalan kemarin jangan sampai mendowngrade pesantren, tetapi harus memperkuat jati diri untuk kembali kepada fitrahnya. Jika ada persoalan, kita tidak boleh menunggu lama bertahun-tahun. Harus ada yang berani speak up. Kami mengapresiasi LSM, LPA, dan APH yang berani mengungkap hal ini demi kebaikan bersama," tegas Muazzar.

Ia menambahkan bahwa sikap terbuka ini penting agar keberadaan oknum tidak merusak citra pesantren secara umum.
Untuk memberikan warna baru pada peringatan Hari Santri, LHIBS menggeser konsep acara dari seremonial kaku menjadi kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Panitia mengundang para pelaku UMKM lokal di kawasan Gunungsari, seperti pedagang bakso, soto, hingga siomay untuk berjualan dan meramaikan acara bersama para santri dan wali santri.
"Kita ubah konsepnya. Jangan sampai acara hari santri hanya jadi ajang seremonial di mana pejabat datang lalu santri dan wali santri hanya jadi penonton. Kami hadirkan UMKM lokal agar pesantren lebih dekat dengan masyarakat. Pesantren ini bukan hanya milik Tuan Guru, melainkan milik seluruh masyarakat sekitar," jelasnya.

Di samping itu, LHIBS juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang bebas dari intimidasi. Pendekatan disiplin yang diterapkan berfokus pada metode yang humanis dan edukatif.

Muazzar menjelaskan bahwa jika santri melakukan pelanggaran, bentuk kedisiplinan yang diberikan diarahkan pada hal-hal yang membangun karakter, seperti hukuman fisik yang terukur dipadukan dengan hukuman kognitif.

"Jika ada kesalahan, tetap ada tindakan disiplin, tetapi harus yang mendidik. Ada keseimbangan antara hukuman motorik seperti piket membersihkan sampah atau push-up dengan hukuman kognitif, misalnya menulis surat Yasin berulang-ulang atau menambah hafalan Juz Amma. Tanpa kekerasan, mereka secara tidak langsung justru akan hafal," terangnya.

Menutup pernyataannya, Pimpinan LHIBS menyampaikan dua pesan penting dalam momentum Hari Santri:
Untuk Para Santri (Generasi Alpha): Muazzar mengimbau para santri yang sudah melek teknologi agar tidak mudah terprovokasi oleh potongan video singkat di media sosial (reels Instagram, TikTok, atau Facebook) mengenai kondisi pesantren. Ia mengajak publik melihat secara nyata bahwa kehidupan di pesantren justru lebih tertata dan melatih kedisiplinan.

Untuk Para Masyayikh dan Pengasuh Pesantren Ia mengingatkan agar setiap ujian yang datang tidak dijadikan ajang saling menyalahkan, melainkan sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri dari dalam.

"Jadikan ujian sebagai momentum untuk perbaikan internal. Jangankan kita, Rasulullah SAW pun mendapatkan ujian berat saat pertama kali menyebarkan Islam. Ujian adalah cara agar kita terus memperbaiki diri menuju kebaikan," pungkas Muazzar. (Ramli Jamak)