Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan 
Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Sumbawa, Dian Sidharta, S.T., M.M.,



Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Kabar baik bagi masyarakat di kawasan samping Perumahan Raberas. Pemerintah Kabupaten Sumbawa mulai menyiapkan langkah penanganan banjir yang selama ini kerap terjadi setiap memasuki musim penghujan.

Menjelang meningkatnya curah hujan, Pemda memetakan sejumlah solusi, mulai dari langkah jangka pendek, menengah hingga jangka panjang. Penanganan ini diharapkan dapat mengurangi persoalan genangan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Sumbawa, Dian Sidharta, S.T., M.M.,  mengatakan persoalan banjir di kawasan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu langkah.

"Kalau melihat petanya, persoalan ini bukan hal yang sederhana. Karena itu kita petakan solusi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang," ujarnya.

Menurut Dian, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah tingginya debit air ketika musim hujan. Saat kebutuhan air untuk pertanian menurun, debit air dari Bendungan Batu Bulan dapat meningkat sehingga air harus dialirkan menuju bagian hilir.

Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika kawasan hilir telah berkembang menjadi permukiman, sementara sistem drainase belum sepenuhnya tersedia. Di sisi lain, saluran irigasi juga turut menerima limpasan air dari kawasan perbukitan.

Untuk langkah jangka pendek, Pemda akan memperkuat koordinasi dan pengaturan pintu-pintu air di kawasan tersebut. Memasuki periode curah hujan tinggi, penjaga pintu air diharapkan aktif melakukan pemantauan dan mengatur bukaan pintu sesuai kondisi debit, sehingga aliran air dapat diarahkan menuju sungai dan tidak menumpuk di kawasan permukiman.

"Ketika musim penghujan mulai meningkat, pintu-pintu air harus aktif dipantau. Kalau debit air tinggi, pengaturannya harus dilakukan agar air tidak menumpuk dan masuk ke kawasan permukiman," jelasnya pada Kamis (08/10/2026).

Selain pengaturan pintu air, kebersihan saluran juga menjadi perhatian. Sedimentasi maupun sampah yang berpotensi menghambat aliran harus dibersihkan secara berkala.

Normalisasi saluran dengan pembersihan sedimentasi sebelumnya juga telah dilakukan. Namun, menurut Dian, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, penjaga pintu air, pengelola perumahan dan masyarakat sekitar.

Untuk jangka menengah, pemerintah melihat peluang membangun kolam penampungan air (pond) di lokasi yang memungkinkan. Salah satu titik yang telah dilihat berada di sekitar kawasan bank sampah milik pemerintah daerah.

Kolam tersebut nantinya dapat berfungsi sebagai tempat penampungan sementara ketika debit air hujan meningkat, sehingga tidak seluruh limpasan langsung masuk ke saluran atau kawasan permukiman.

"Air hujan perlu kita kelola. Kalau ada tempat penampungan sementara, beban saluran bisa dikurangi ketika curah hujan meningkat," katanya.

Dian juga menekankan pentingnya setiap kawasan perumahan memiliki sistem pengelolaan air yang baik. Pengembang perlu memperhitungkan limpasan air dari kawasan yang dibangun agar tidak langsung membebani jalan maupun saluran yang sudah ada.

Sementara untuk jangka panjang, Pemda akan mendorong penyusunan masterplan drainase kawasan secara menyeluruh. Sistem drainase tidak cukup dibangun secara parsial, tetapi harus terintegrasi antarkawasan dan memiliki arah pembuangan yang jelas menuju sungai.

"Kalau satu rumah menutup saluran, dampaknya bisa dirasakan rumah yang lain. Karena itu kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Harus ada tata drainase kawasan yang jelas," tegasnya.

Rencana penataan drainase tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dipersiapkan dalam perencanaan pembangunan 2027. Tahap awal akan dilakukan melalui penyusunan desain dan pemetaan sistem drainase sebagai dasar penganggaran.

Menurutnya, perkembangan permukiman harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur pengendali air. Pemerintah tidak mungkin menghentikan pertumbuhan kawasan perumahan, sehingga sistem drainase harus disiapkan sejalan dengan perkembangan kawasan.

"Dulu mungkin belum menjadi masalah karena kawasan belum berkembang. Sekarang permukiman semakin tumbuh, sehingga sistem drainasenya juga harus kita tata," ujarnya.

Dengan pengaturan pintu air sebagai langkah jangka pendek, pembangunan kolam penampungan sebagai solusi jangka menengah, serta penyusunan masterplan drainase sebagai langkah jangka panjang, Pemda berharap risiko banjir di kawasan samping Perumahan Raberas dapat ditekan.

Penanganan tersebut sekaligus menjadi bentuk respons pemerintah terhadap persoalan yang selama ini dinantikan masyarakat, dengan mengedepankan kerja sama lintas pihak agar persoalan banjir yang berulang setiap musim penghujan dapat ditangani secara bertahap dan berkelanjutan. (Jhey)