Monday, October 2, 2017

40 Ribu Balita Di Lombok Akan Di Imunisasi Pneumonia


Mataram (postkotantb.com)- Provinsi Nusa Tenggara Barat akan di jadikan lokasi untuk pilot project imunisasi vaksin Pneumonia/ Pneumokokus Konyugasi (PCV). Lokasi tempat pemberian imunisasi di dua kabupaten yakni Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Barat dan akan mulai di laksanakan secara serentak pada hari Selasa (3/10).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Burhandini Eka Dewi Spa menjelaskan di pilihnya NTB sebagai pilot project untuk imunisasi pneumonia karena angka penderita pneumonia khususnya pada bayi dan balita sangat tinggi. 

Menurut dr Eka Dewi penyebaran virus pneumokokus di NTB khususnya di dua kabupaten sangat tinggi, meski belum ada data real penderita penyakit pneumonia namun Dikes NTB yakin kedua daerah tersebut sangat rentan terkena virus pneumokokus dimana penyebaran virus ini melalui udara. 

"jadi dua kabupaten ini menjadi pilot project, bila di NTB imunisasi vaksin pneumonia berhasil maka imunisasi serupa akan di lakukan di seluruh Indonesia." paparnya. 

Sementara Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Elizabeth Jane Soepardi MPH menyatakan pneumonia merupakan penyakit peradangan pada paru-paru atau biasa di sebut dengan paru paru basah. Penyakit ini rentan di derita oleh bayi atau balita dan orang tua. Namun bayi dan balita lebih rentan terkena penyakit pneumonia. 

Ada tiga penyebab bayi atau balita terkena pneumonia diantaranya adalah tertular dari orang yang mengidap bakteri pneumonia dari batuk, bayi atau balita tidak mendapatkan imunisasi pneumonia, lingkungan yang tidak bersih dan adanya polusi dari dalam. 

Sementara tanda tanda bayi atau balita yang terkena bakteri pneumonia menurut dr. Jane seperti panas tinggi, napas yang berat dan denyut nadi yang cepat, batuk yang berat sampai mengeluarkan lendir kental. 

"harus di perhatikan kondisi dan tanda tanda awal jangan anggap remeh, bila napas dan denyut nadi cepat, batuknya berat sampai mengeluarkan lendir harus segera di berikan pertolongan medis yang tepat." paparnya. 

Hal senada juga di sampaikan oleh Ketua Indonesia Tecnical Advisory Group Of Imunizzation (ITAGI) Dr. Sri Rezeki Pudjaprasetya. Ia menambahkan pneumonia merupakan pembunuh nomer dua setelah diare. Data WHO ITAGI dan Kementerian Kesehatan menyebut 5,9 juta balita dan anak meninggal dalam setahun dan 23 persen penyebab kematian akibat pneumonia atau sekitar 159 ribu kasus kematian anak dan balita. 

"angka kematian akibat pneumonia ini sangat tinggi, di Indonesia saja 23 persen kematian anak dan balita di sebabkan oleh pneumonia." jelasnya. 

Dengan imunisasi pneuomokokus ini di harapkan dapat menekan angka penderita pneumonia. Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan pada tahun 2020 Indonesia akan terbebas dari pneumonia. Untuk imunisasi vaksin pneumonia di NTB pemerintah mengalokasikan anggaran 35 milyar rupiah yang berasal dari APBN dan bantuan lembaga dunia. (RZ)

No comments:

Post a Comment