Ketua Gerindra NTB Ridwan Hidayat memaparkan bahayanya politisi yang lahir dari politik transaksional
Mataram (postkotantb.com)- Gerakan Mahasiswa Sosial Politik (GMSP) gelar "Ngopi" ngobrol politik menyikapi dinamika politik dalam negeri menjelang pilpres dan pemilu legislatif tahun 2019 di Lemon Grass Cafe, Mataram, Selasa (27/11).

Ngobrol politik ini menghadirkan Ketua Gerindra NTB Ridwan Hidayat, Ayatullah Hadi mewakili Akademisi dan di moderatori Akbar Jafar. Ketua GMSP Rian Arsyat mengambil tema diskusi peran dan tantangan politisi muda untuk kemajuan bangsa khususnya NTB. Menurut Rian selama ini peran pemuda di kancah politik masih minim. Sikap apatis dan pragmatis kaum milenial pada perpolitikan nasional membuat peran pemuda hampir tidak terdengar gaungnya. 

"Kami sengaja mengambil tema tantangan politisi muda menjelang pilpres dan pileg 2019 ini, kaum milenial harus ikut dalam kancah politik nasional dan lokal untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa," ujarnya. 

Sementara pemateri pada acara ngopi (ngobrol politik) Ketua Gerindra NTB H. Ridwan Hidayat meminta kaum milenial untuk melek politik. Lebih jauh ia menjelaskan peran pemuda dalam dunia politik untuk membangun bangsa tertulis dalam sejarah. Namun seiring waktu sikap apatis dan pragmatis kaum milenal dalam kancah politik nasional dan lokal membuat peran kaum milenial hampir terlupakan. 

Terlebih menjelang pilpres dan pileg 2019, Ridwan mengingatkan kaum milenial untuk cerdas dalam memilih figur maupun partai. Ridwan menegaskan politik transaksional sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa. Kaum milenial ujar Ridwan harus pandai memilah dan memilih figur yang mampu menyuarakan aspirasi dab kebutuhan kaum milenial. 

"Politik transaksional itu tidak hanya berdampak setahun dua tahun, politisi yang lahir dari polotik transaksional tidak hanya merugikan pemilihnya tetapi juga merusak sistem bernegara, karena tentunya politisi yang lahir dari politik transaksional akan mencari keuntungan pribadi," lugasnya. 

Ridwan juga mendorong kaum milenial untuk masuk dalam dunia politik. Menurut Ridwan kehadiran kaum milenial memberikan pilihan alternatif dengan ide dan gagasan yang masih segar. 

Hal senada juga di sampaikan oleh pembicara yang mewakili akademisi Ayatullah Hadi. Ia menegaskan kaum milenial memiliki dua pilihan menjadi penonton atau memberikan warna pada perpolitikan lokal ataupun nasional. Ketua Prodi di UMM ini memotivasi kaum milenial untuk ambil bagian pada perpolitikan di daerah ataupun di tingkatan yang lebih tinggi. Meski demikian Ayatulloh juga mengingatkan agar pemuda juga lebih pintar memilih kendaraan (partai politik).

"kendaraan partai politik memang saat ini menjadi instrumen penting untuk bisa masuk dalam sistem tata negara dan menentukan kebijakan, tetapi politisi muda juga harus jeli dan cermat dalam memilih kendaraan," pungkasnya.(RZ)