Wednesday, December 12, 2018

Yuk...!!! Berwisata Di DESA BUDAYA BUKIT MANTAR , Negeri Diatas Awan


Sumbawa Barat (postkotantb.com)- Hamparan persawahan diselingi kebun berpagar pohon banten menghiasi perkampungan di perbukitan yang berada pada ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu. Tak jauh dari lokasi itu nampak rumah-rumah panggung tradisional berjejer rapi serta Pepohonan hijau yang mengelilingi perkampungan dan hawa dingin khas pegunungan bukit Mantar terasa kental dengan nuansa pedesaan. Kehidupan warganya yang tetap mempertahankan tradisi leluhur menciptakan suasana damai dan harmonis.

Desa Mantar yang masuk wilayah Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat itu merupakan desa di atas pegunungan atau "village on mountain"  atau yang dikenal dengan sebutan “ NEGERI DIATAS AWAN “ menyimpan sejuta pesona dan kedamaian.  Desa Mantar masuk wilayah administratif Kecamatan Poto Tano dengan luas wilayah 3.085 kilometer persegi dan jumlah penduduk 1.755 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki 800 jiwa lebih  dan perempuan 900 jiwa lebih

Desa di atas perbukitan Mantar itu pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film "Serdadu Kumbang" garapan sutradara kondang Ari Sihasale yang mengisahkan tentang kehidupan tiga bocah yang hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Tokoh masyarakat yang juga Ketua Adat Desa H Sulaiman 108 tahun mengisahkan konon penduduk Desa Mantar merupakan keturunan dari bangsa Portugis yang kapalnya terdampar dan rusak di perairan pantai di bawah Bukit Mantar tahun 1814 silam yang kini masuk wilayah Desa Tuananga, Kecamatan Poto Tano.

Para penumpang kapal itu terpaksa menetap di Desa Kuang Buser dan Tuananga. Bangsa Portugis tersebut kemudian mendaki lereng bukit dan akhirnya mereka kemudian menetap di pucak bukit berketinggian 630 meter di atas permukaan laut yang kini menjadi di Desa Mantar.


Terlepas dari benar tidaknya asal muasal nenek moyang warga Desa Mantar itu. Kini desa yang yang berada di atas perbukitan Mantar yang dihuni oleh warga yang masih tetap mempertahankan kearifan lokal itu telah ditetapkan menjadi "Desa Budaya".

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menjadikan Desa Mantar, itu sebagai desa budaya guna menarik minat wisatawan kunjungan ke daerah ini sebagai Ikon Destinasi Wisata Unggulan

Mantar telah dijadikan desa budaya yang telah didukung dengan berbagai fasilitas penunjang. Namun infrastruktur yang akan dibangun tetap mempertahankan keasliannya agar benar-benar bernuansa kearifan lokal pedesaan 

Desa Mantar sebagai desa budaya kini mirip dengan  sebuah desa budaya di Cina, yakni Desa Wisata "Hallstatt". semua bangunan rumah penduduk berarsitektur khas Sumbawa, yakni rumah panggung tanpa mengurangi kearifan lokal


Konsep pembangunan pariwisata di Desa Budaya Bukit Mantar ini akan mengedepankan pariwisata berbasis masyarakat, artinya para wisatawan yang berkunjung ke desa ini bisa menginap di rumah penduduk yang berfungsi sebagai homestay.

Ini akan menjadi sumber pendapatan masyarakat, karena para wisatawan akan membayar penginapan dan makanan yang disuguhkan untuk para wisatawan. Dengan cara ini masyarakat benar-benar akan menikmati dampak pariwisata.

Obyek wisata Budaya Bukit Mantar menawarkan suasana pedesaan yang penuh kedamaian. Tak ada hotel bintang atau restoran mewah, para tamu yang menginap akan disuguhkan menu makanan khas Sumbawa barat, seperti "sepat" dan "singang" (masakan berbahan ikan).


Mantar sebagai desa budaya telah  membangun berbagai fasilitas penunjang seperti Home Stay, Spot paralayang, spot Selfie, spot minum kopi khas mantar (Adv/Edi)

No comments:

Post a Comment