-->

Pembangunan Smelter "On Track" Pemprov NTB Bentuk Tim Percepatan Pembangunan

, Wednesday, October 30, 2019 WIB Last Updated 2019-10-30T07:28:15Z

Asisten dua Setda NTB Ridwansyah menegaskan pembangunan Smelter oleh PT. AMNT masih sesuai rencana
Mataram (postkotantb.com)- Rencana pembangunan Smelter di Benete Kabupaten Sumbawa "on the track". Pernyataan tersebut di sampaikan oleh Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono, usai membuka pertemuan perhimpunan para ahli pertambangan yang tergabung dalam Perhapi yang di gelar di Senggigi, Rabu (30/10).

Bambang menjelaskan rencana pembangunan smelter setiap enam bulan sekali di cek progress nya, dan di targetkan setiap enam bulan harus memenuhi 90 persen target. Bila setiap enam bulan tersebut tidak menunjukan progres yang siginifikan PT. AMNT terancam akan di cabut izin eksport konsentrat. 

"Pembangunan smelter ini kan selama lima tahun dan setiap enam bulan akan di evaluasi, harus sesuai target sampai nanti rampung pembangunannya, bila tidak memenuhi target ada punishment dimana akan di cabut izin eksport konsentratnya," jelas Dirjen Minerba. 

Hal senada juga di sampaikan oleh Asisten dua Setda NTB Ridwansyah. Menurut Ridwan pembangunan smelter masih sesuai rencana. Sesuai PP Nomor 1 tahun 2017 mereka (PT. AMAN) harus membangun smelter. Pemkab Sumbawa Barat dan pemerintah Provinsi NTB memberikan  dukungan penuh. Bahkan Pemprov NTB ujar Ridwansyah telah membentuk tim percepatan pembangunan smelter. Ridwansyah sendiri di tunjuk sebagai ketua tim percepatan pembangunan smelter. 

Adapun biaya pembangunan smelter serta infrastruktur dan pabrik ikutan lainnya di butuhkan anggaran sekitar 22 triliun. Sementara kapasitas smelter kata Ridwansyah mencapai 1 juta 300 ton dengan luas lahan 850 hektar. 

Sementara kapasitas untuk pengolahan konsentrat milik AMNT sendiri tegas Ridwansyah hanya sekitar 800 ton. Sebagian besar lainnya nanti di isi pengolahan lainnya milik Gresik, Indotan dan lainnya. 

"Jadi kapasitas smelter itu 1,3 juta ton, sebagian besar nanti pengolahan akan di isi oleh Gresik, Indotan dan pengolahan lainnya," papar mantan kepala dinas perhubungan Provinsi NTB.

Lebih jauh Ridwan menjelaskan selain pembangunan smelter di kawasan seluas 850 hektar ini juga akan di bangun jaringan infrastruktur dan industri lainnya. Saat ini kata Ridwan PT. AMNT telah membebaskan lahan 50 persen dari total luas lahan yang di pakai untuk pembangunan smelter dan industri ikutan serta infrastruktur.

"Pembangunan smelter ini nanti juga di bangun infrastruktur serta industri ikutan lainnya, pembebasan lahan sudah di lakukan, dan akhir tahun ini semua lahan yang di butuhkan sudah selesai di bebaskan, untuk lahan smelter sendiri di butuhkan lahan 150 hektar dan tersisa sekitar 14 hektar yang belum di bebaskan," ulas Ridwan.

Adapun infrastruktur untuk menunjang ekspor konsentrat, PT. AMNT akan membangun pelabuhan. Namun kemungkinan besar akan di lakukan tukar guling pelabuhan milik Kabupaten Sumbawa Barat di Pelabuhan Lalar dengan Pelabuhan milik Kementerian Perhubungan di Benete.

Seperti di rencanakan pembangunan smelter ini akan di laksanakan selama lima tahun dan di targetkan smelter akan beroperasi pada tahun 2022. Diperkirakan bila smelter ini beroperasi akan menyerap 600 orang tenaga kerja. Dan ribuan orang tenaga kerja untuk pembangunan fisik akan di rekrut. Gubernur NTB sendiri telah menjadwalkan pertemuan dengan direksi PT. AMNT dalam waktu dekat ini untuk membahas pembangunan smelter tersebut.(RZ) 
Komentar

Tampilkan

Terkini