Air Terjun Bidadari, Spot Wisata Tersembunyi di Kaki Gunung Tambora

, Monday, February 10, 2020 WIB Last Updated 2020-02-10T08:16:35Z
Dok: Air Terjun Bidadari, Spot Wisata di kaki Gunung Tambora

Bima (postkotantb.com)- Memiliki hamparan alam yang luas, di kelilingi laut, membuat tambora mempunyai pemandangan yang sangat eksotik. Banyak tempat-tempat menarik yang masih alami untuk tujuan spot wisata alam, tetapi selama ini belum terkelola dan terpublikasi dengan baik. Salah satunya adalah spot wisata alam Air Terjun Bidadari.

Memang belum banyak yang tahu, Air Terjun Bidadari memiliki keindahan yang memanjakan mata para pengunjung. Air Terjun Bidadari atau dikenal pula dengan Air Terjun Oi Marai, terletak di Kaki Gunung Tambora Desa Kawinda To'i Kecamatan Tambora. Air terjun ini masuk di kawasan Taman Nasional Tambora.

Ketinggiannya diperkirakan mencapai 25 meter, memiliki debit air sangat besar dan di bawahnya mengalirkan air sungai hingga ke permukiman masyarakat Desa Kawinda To'i dan Desa Oi Katupa. Dari air terjun ini pula, masyarakat beberapa desa menggantungkan hidup untuk irigasi pertanian, perkebunan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Air Terjun Bidadari diapit perbukitan, disisi kiri dan kanan penuh dengan pepohonan rindang.

Sehingga di musim kemarau sekalipun, pengunjung akan selalu merasa sejuk. Bagian atas air terjun masuk kawasan hutan lindung dan konservasi. Keindahannya semakin sempurna karena struktur air terjun dihiasi tebing dan bebatuan yang menambah pesona bagi siapapun yang memandang. Selain pesonanya yang menakjubkan, Air Terjun Bidadari tidak pernah kering dan kurang debit airnya walaupun musim kemarau.

Menurut Kepala Dusun Kawinda Toi Abdul Haris, sungai yang bersumber dari Air Terjun Bidadari selalu mengalir sepanjang tahun. Manfaatnya sangat dirasakan masyarakat beberapa desa di bawahnya karena tidak pernah kesulitan air.

"Sepanjang tahun airnya tetap mengalir, tidak pernah kering dan berkurang debitnya airnya selama ini," kata Abdul Haris.

Keberadaan Air Terjun Bidadari menjadi anugerah bagi masyarakat yang mendiami Kaki Gunung Tambora. Walaupun sebagian desa lainnya memiliki kondisi tanah yang tandus, tetapi Desa Kawinda Toi sangat subur karena dialiri air yang melimpah. Pipa yang tersambung ke areal perkebunan hingga ke perkumiman masyarakat selalu mengalirkan air.

"Air sungai yang bersumber dari air terjun setiap hari digunakan warga untuk kebutuhan minum, mandi dan semua keperluan lainnya. Kita tidak pernah kesulitan sama sekali," ujarnya.

Hanya saja diakuinya, pengelolaan Air Terjun Bidadari untuk tujuan wisata memang belum maksimal dilakukan. Pengunjung masih sedikit dan terbatas masyarakat lokal saja karena lokasinya belum banyak diketahui.

Ada banyak kendala yang dirasakan pemerintah desa sehingga promosi air terjun belum begitu meluas. Seperti akses jaringan telekomunikasi dan internet, jarak lokasi air terjun yang cukup jauh dan keterbatasan anggaran untuk menatanya. Wajar saja, panorama alam di sekitar Air Terjun Bidadari masih sangat alami karena belum banyak disentuh sarana pendukung.

Rute Perjalanan

Dok: Jalur Menuju Air Terjun Bidadari

Untuk sampai ke Air Terjun Bidadari memang tidak mudah. Butuh stamina dan persiapan fisik yang prima karena jaraknya terbilang cukup jauh. Untuk sampai ke lokasi air terjun, ada dua rute yang digunakan yakni lingkar utara dan lingkar selatan.

jika mengambil rute lingkar utara, Dompu-Sanggar-Kawinda To,i pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam menggunakan mobil. Namun, sepanjang perjalanan kita tidak akan jenuh karena disuguhkan dengan pemandangan indah. Banyak spot atau tempat-tempat menarik yang dilalui. Mulai dari Enca Kilo, Rade Na'e (kuburan Besar) peninggalan Kerajaan Sanggar, Pantai Boro, Benteng Sanggar, Mata Air Tampuro dan panorama alam yang hijau tentunya.

Apabila memilih jalur lingkar selatan, Dompu-Pekat-Labuan Kananga-Kawinda Toi waktu tempuh relatif lebih lama sekitar 5 sampai 6 jam, karena perjalanannya memutar ke lingkar selatan. Meski begitu, tempat-tempat menarik yang dilalui juga tak kalah mengasyikan, seperti Taman wisata Oi Hodo, Padang Sabana Doro Ncanga, Taman Wisata Sarae Nduha, hamparan perkebunan tebu dan taman wisata Pulau Satonda.

Menuju ke lokasi air terjun, pengunjung masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer dari jalan utama. Tetapi jangan kuatir, jalan masih bisa dilalui mobil kendati harus ekstra hati-hati karena jalanan cukup terjal dan sempit. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter ke atas air terjun karena mobil hanya bisa diparkir di bawah.

Fasilitas Wisata Masih Minim

Dok: Salah satu Fasilitas sebelum menuju Air terjun Bidadari

Selain kondisi jalan yang rusak menjadi kendala menuju air terjun, ketersediaan fasilitas wisata memang masih minim. Di sekitar lokasi, hanya tersedia satu bangunan barugak untuk tempat istrahat, sebuah papan informasi jalur pendakian Gunung Tambora yang dipasang, dan peta Taman Nasional Gunung Tambora.

Dok: Pengunjung Berpose di Peta Taman Nasional Gunung Tambora

Namun beruntung sepanjang perjalanan kaki ke air terjun, pengunjung cukup terbantu dengan penataan yang dilakukan Komunitas Pencinta Alam (KPA) AI Gura Tambora. Mereka membuat tulisan dan informasi yang kreatif menggunakan papan kayu untuk memudahkan pengunjung.

Papan Jalur Pendakian Gunung Tambora

Informasi dari pemerintah desa setempat, KPA Al Gura bermitra dengan desa untuk menata dan mengelola Air Terjun Bidadari sejak setahun terakhir meskipun masih sangat terbatas. Retribusi bagi pengunjung juga belum ada, kecuali pada hari-hari tertentu, informasinya ada warga yang menjaga lokasi. Sehingga saat ini siapapun yang ingin menikmati Air Terjun Bidadari masih belum dibebankan biaya masuk alias gratis. (Eka)
Komentar

Tampilkan

Terkini