-->

Tepis Stigma Negatif, NTB Bakal Dijadikan Model Kesetaraan Gender Nasional

, Tuesday, June 23, 2020 WIB Last Updated 2020-06-22T16:13:02Z
Wagub NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah memaparkan posisi perempuan dalam berbagai sektor dan profesi, NTB di lirik menjadi model kesetaraan gender nasional oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan
Mataram (postkotantb.com)- Memiliki Wakil Gubernur Perempuan membuat Provinsi Nusa Tenggara Barat  NTB disebut sebagai contoh daerah dengan kesetaraan gender yang baik. Tak heran jika NTB dilirik menjadi model Nasional bagaimana perempuan diberikan peran di segala bidang.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Kesetaraan Gender, Ir. Agustina Erni, M.Sc, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) saat membuka acara webbinar WIE IEEE “Women in Leadership” pada Senin 22 Juni 2020.

“NTB akan dijadikan model bagaimana perempuan diberikan peran tak hanya di ranah domestik namun juga di berbagai bidang termasuk pemerintahan,” kata Ir. Agustina Erni, M.Sc, yang mewakili Menteri KPPPA.

Dalam webbinar yang diikuti 549 peserta se-Indonesia tersebut, Wagub NTB Sitti Rohmi Djalilah menyambut baik hal tersebut. Rohmi menceritakan bagaimana perempuan di Provinsi NTB sudah masuk ke berbagai bidang profesi. Tak hanya di bidang pemerintahan, namun juga di bidang engineering dan sains.

Data terakhir Penduduk Usia Kerja, Angkatan Kerja dan TPAK Menurut Jenis Kelamin di Provinsi NTB pada tahun 2018 menunjukan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada tahun 2018 sebesar 54,25 persen.

Angka ini memang lebih rendah bila dibandingkan dengan TPAK penduduk laki-laki sebesar 78,83 persen. Dalam rilis BPS Statistik Gender NTB 2018 menyebutkan ini wajar terjadi, karena penduduk laki-laki umumnya yang menjadi tulang punggung keluarga (bread winner) dalam system patriarkal. Namun data TPAK perempuan sebesar 54,25 persen menunjukan perempuan sudah banyak yang terjun di bidang profesi.


Masuknya perempuan di ranah profesional, dikatakan Rohmi, sudah cukup diterima oleh masyarakat. Meskipun masih menyisakan PR stigma negative di kalangan masyarakat, namun biasanya perempuan yang sudah terjun ke dalam dunia profesi tak akan terganggu dengan stigma negative tersebut.

Perempuan-perempuan tersebut akan membuktikan bahwa mereka mampu membagi peran antara keluarga dan jabatan. Sehingga dengan bukti nyata tersebut lama-lama akan mengikis stigma negative yang ada.

“Saya tidak terlalu terganggu dengan stigma perempuan yang sering diremehkan, karena memulai dari dunia professional. Kita bisa menunjukan kepada masyarakat melalui aksi nyata,” kata Wagub yang pernah menjabat sebagai General Foreman di PT Newmont Nusa Tenggara (2000—2009) tersebut.

Rohmi yang juga merupakan alumni  Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mengaku, background pendidikan engineering yang dimilikinya sangat bermanfaat pada setiap jenjang karier yang dimilikinya. Ditambah perannya sebagai perempuan dalam rumah tangga yang menuntutnya untuk selalu disiplin dan multitasking.

Hal tersebutlah yang mengantarkannya mendapatkan berbagai capaian yang dimilikinya sekarang. Sehingga Rohmi berharap dapat menginspirasi perempuan-perempuan yang lain.

“Menjadi perempuan adalah kelebihan bagi saya. Membuat saya bisa mengambil banyak opportunity di bidang-bidang yang lain,” tandasnya. (RZ)
Komentar

Tampilkan

Terkini