Nuansa Spiritual nan Harmonis di Geosite Goa Pengkoak

, Tuesday, July 28, 2020 WIB Last Updated 2020-07-28T07:01:23Z
Unik: Geosite Goa Pengkoak, berukuran mini. Sebagian pengunjung yang mandi diminta mengenakan kain putih. (Sumber: Sri Yulianti)

Lombok Barat (postkotantb.com) - Pada umumnya, objek wisata dikaitkan sebagai lokasi yang penuh dengan keunikan serta tersedia aneka kuliner. Berbeda dengan kondisi di Destinasi Wisata Goa Pengkoak. Geosite yang satu ini, menyuguhkan nuansa tersendiri.

Destinasi tersebut berlokasi di Dusun Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada. Berada sekitar 200 meter di atas areal wisata Air Terjun Segenter dan masih termasuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura).

Setiap akhir pekan, sebagian pengunjung  rata-rata berpakaian putih, berdatangan. Mengenakan sapu' (ikat kepala,red) dengan corak dan warna  beragam, ditambah kain putih berhiaskan warna kuning keemasan di bagian ujung kain.

Mereka merupakan umat Hindu yang sengaja datang untuk melaksanakan ritual persembahyangan, bersama keluarga dan kerabatnya. Sejumlah perlengkapan bersembahyangan dan makanan serta berbagai jenis kembang, memenuhi bekal para pengunjung yang memanfaatkan kedatangannya untuk meningkatkan spiritual keagamaan.

Sampai di tempat tujuan, para pengunjung ini disambut oleh sekepat (berugak,red) dan pepohonan yang kokoh, serta kesejukan iklim di areal Goa Pengkoak. Beberapa diantara pengunjung, bergegas menyalakan dupa dan menyiapkan sesajen, pertanda bahwa pengunjung akan memulai persembahyangan.

Setelah ritual diselesaikan, sebagian orang menyiapkan makanan dan kopi sambil berbincang hangat dengan kerabat, hingga menjelang sore hari. Sebagiannya lagi, terkadang memilih menginap sehari agar lebih fokus dengan  persembahyangannya.
Pengunjung lain, memiliki tujuan berbeda. Seperti umat muslim, dimana destinasi tersebut dimanfaatkan untuk rekreasi melepas rasa penat, setelah melakukan aktivitas keseharian.

Kendati jumlahnya di Dominasi oleh Umat muslim, diantara mereka tetap menjaga kerukunan dan keharmonisan hubungan emosional antar agama. Kondisi demikian terpancar, ketika masing-masing dari mereka saling berpapasan di tengah jalur setapak  menuju Goa Pengkoak. Tampak diantaranya saling menunduk, sembari menyapa dan betabe'(permisi,red).

"Selaku pemerintah sekaligus pengelola Kawasan Tahura, kami akan berupaya menfasiltasi masyarakat, demi mendongkrak kepariwisataan lokal Geosite Goa Pengkoak,"terang Kepala Balai Tahura Nuraksa, Samsyah Samad, S. Hut, M. Si, Selasa (28/7).

Tradisi tersebut menurut dia, cerminan kearifan lokal penduduk beragama Muslim dan Hindu yang memahami, betapa pentingnya saling menjaga dan menghormati, diantara pemeluk agama.

Nuansa itu menjadi daya tarik wisata yang jarang ditemukan di destinasi wisata lainnya. Kedepan, tradisi ini mampu menarik minat pengunjung, baik lokal maupun mancanegara untuk berwisata di kawasan Geosite tersebut.

Senada disampaikan Koordinator Tahura, Eko Budi Santoso. Kata dia, Destinasi tersebut tertimbun rintisan sejarah alam. Sampai saat ini, sejarah itu menjadi hal yang fenomenal di mata pengunjung dan hanya mampu di eksplore, melalui proses spiritual dan keyakinan individu.

"Itulah keunggulan Geosite Goa Pengkoak. Tentunya, ini menjadi andalan bagi kami, di dalam memperkenalkan destinasi ini kepada para pelaku wisata,"tutupnya.(yul)

Komentar

Tampilkan

Terkini