-->

Gubernur Minta Pembangunan Kawasan Pertanian Terpadu di Labangka Dikoordinasikan Dengan Kementan RI

, Tuesday, September 01, 2020 WIB Last Updated 2020-09-10T08:02:33Z
Gubernur Minta Pembangunan Kawasan Pertanian Terpadu di Labangka Dikoordinasikan Dengan Kementan RI


Mataram (postkotantb.com) – Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Sistem Pertanian Terpadu (SPT) Pertanian Terpadu Labangka, yang direncanakan dibangun di Pulau Sumbawa harus dapat meningkatkan hasil produktivitas dan kesejahteraan petani.
Hal ini dikatakan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah saat mendengarkan paparan Dinas Pertanian Provinsi NTB tentang rencana pembangunan dan pengembangan Kawasan Sistem Pertanian Terpadu di Labangka, Senin, 31 Agustus 2020 di ruang kerja Gubernur NTB.
“Lahan pertanian yang sudah direncanakan di Labangka harus dimanfaatkan dengan baik. Untuk dijadikan tumpuan agar meningkatkan produktivitas demi kesejahteraan petani,” harap Doktor Zul sapaan Gubernur NTB.
Menurutnya, untuk mewujudkan ikhtiar itu, Doktor Zul meminta agar pembangunan kawasan Labangka sebagai ‘Integrated Farming’ ditata dengan baik dan sistematis.

“Tata letak dan pengelompokan sektor tanaman pangan, holtikuktura, perkebunan, peternakan maupun sektor perikanan harus ditata dengan baik,” jelas Doktor Ekonomi Industri tersebut.
Selain itu, mantan Anggota DPR RI ini meminta, pembangunan sistem ini harus terjadwal sesuai dengan rencana. Sehingga pembangunannya dapat dipercepat dan panen di tahun 2021.
Doktor Zul menambahkan, pembangunan sistem ini harus terus dikoordinasikan dengan Kementerian Pertanian RI. Dukungan dan intervensi dari pemerintah pusat dapat disinergikan dengan rencana Pemprov NTB.

“Saat panen perdananya nanti, kita undang Menteri Pertanian di lokasi itu,” tutupnya.
Sementara itu, Kadis Pertanian Provinsi NTB, Husnul Fauzi menjelaskan dipilihnya kawasan Labangka ini karena awalnya merupakan Kawasan Terpadu Mandiri (KTM) daerah Transmigrasi.
Menurut Husnul, potensi yang dimiliki lahan pertanian di Labangka memang cukup besar. Dengan luas wilayah mencapai 24.308 hektare, hampir setengahnya adalah lahan pertanian.

“Di sana itu lahan sawahnya seluas 184 hektare, tegalan 10.666 hektare, perkebunan 915 hektare, hutan negara 2.040 hektare, tambak dan sejenisnya 727 hektare. Yang bukan pertanian hanya 9.776 hektare,” jelasnya.
Untuk panen produk pertanian padi Labangka memiliki lahan tanam seluas 37,7 hektare, jagung 1.220 hektare, bawang merah dan cabai 50 hektare, jambu mete 645,05 hektare, dan kelapa 20,75 hektare.

Menurutnya, dalam konsep pertanian terpadu yang akan dikembangkan di kawasan tersebut antara lain terintegrasi dengan kegiatan peternakan, perikanan, kehutanan, dan ilmu lain yang berkaitan dengan pertanian dalam 10.000 hektare lahan yang akan digarap.
Luas hutan yang ada di kawasan itu juga akan dipertahankan. “Sistem ini dibangun untuk menjaga keaslian dan keasrian hutan,” katanya.
Keberadaan hutan ini kedepan, mampu menghasilkan sumber air untuk mendukung Sistem Pertanian Terpadu. Untuk mendapatkan air sebagai media penting dalam membangun kawasan tersebut, akan dimanfaatkan mata air kawasan di hutan tersebut.

“Kita buatkan penampung air untuk mendukung sistem tersebut,” ujarnya.
Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming) bukan hanya sektor pertanian dan perkebunan, namun akan dipadukan dengan sektor perikanan, peternakan, perdagangan, pariwisata dan sektor-sektor lainnya.

Di atas lahan ribuan hektare ini, Pemerintah akan memfasilitasi dan membantu untuk dibuat Sistem Pertanian Terpadu. Sehingga keberadaan sistem ini mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan perkebunan masyarakat sebagai penerima manfaat.
“Kita sebagai fasilitator untuk mengintegrasikan dan menata komoditas di area tersebut,” tuturnya.
Awalnya, komoditas holtikultura seperti padi hanya produksi panennya sekali setahun. Dengan sistem ini, dapat panen secara berkelanjutan dengan tanaman palawija lain. Ketersediaan air dan tanaman lain juga mendukung pakan untuk perikanan dan peternakan.

Untuk kawasan itu, tanaman pangan akan ditanami holti seperti kacang hijau seluas 6000 Ha, Cabe 50 Ha, Padi Gogo 10.000 Ha, Jagung 10.000 Ha, 20 Ha untuk Bawang Merah. Termasuk tanaman perkebunan seperti alpukat dan lainnya.
“Contohnya Oktober hingga Januari ini akan ditanam 10.000 padi hibrida, setelah itu jagung, kemudian jagung dengan tumpangsari, secara terus menerus, integrasi lainnya ada ikan, hunian, wisata edukasi dan hal lainnya, ungkapnya.
Di lahan tersebut akan ditata dengan teratur, letak dan lokasi pertanian, pangan, perikanan, peternakan dan sektor lain. Termasuk lahan untuk pemasaran yang di dalamnya ada UMKM atau dunia usaha.
Rencananya sesuai jadwal, pada awal Januari 2021 akan dilakukan perdana di sektor pertanian, khusus tanaman padi. Tetapi kawasan tersebut sudah tertata sesuai rencana pembangunan kawasan tersebut. (RZ)



Komentar

Tampilkan

Terkini