Kupas Nama-Nama Pahlawan Yang Melekat di Bandara Se-Indonesia

Lahir di Luar Tempat Berdirinya Bandara, Dijadikan Simbol Kehormatan


BANDARA: inilah Bandara International Lombok (LIA) yang berlokasi di Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. 

Pahlawan Nasional adalah suatu kehomatan yang diberikan kepada para pejuang yang telah mengorbankan jiwa raga dan harta untuk kemerdekaan Indonesia. Ketokohannya telah diabadikan oleh negara di sejumlah bandara se Indonesia, kendati lahir di luar tempat berdirinya bandara.

SAPARUDDIN 
LOMBOK TENGAH

PAHLAWAN adalah sebuah piagam penghargaan yang diberikan oleh pemerintah kepada para pejuang di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang telah ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Besarnya jasa yang telah dilakukannya, sehingga pemerintah memberikan penghormatan kepada mereka, dengan sebutan PAHLAWAN NASIONAL.

Untuk mengabadikan nama nama pahlawan tersebut, pemerintah tidak segan segan, telah menjadikan nama para pejuang tersebut menempel di sejumlah bandara se Indonesia. Kendati lahir diluar tempat bandara itu dibangun, namun karena nama pahlawan nasional melekat, sehingga beliau adalah milik bangsa dan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Sebut saja seperti Bandara Djuanda Surabaya Jawa Timur. Adalah sosok pahlawan Nasional yang lahir di Tasikmalaya Jawa Barat. Selanjutnya Bandara Adi Sumarmo di Boyolali, bukan asli Boyolali namun asli Blora Jawa Tengah. Bandara Adi sucipto Jogjakarta, lahir di Salatiga atau bukan asli Jogjakarta.

Selain itu Bandara Abdurahman Saleh Malang. Lahir di Jakarta artinya bukan asli Malang Jawa Timur. Bandara Halim Perdana Kusuma Kemayoran Jakarta, beliau orang Sampang Madura Jawa Timur dan sejumlah bandara lainnya.Dari beberapa nama pahlawan yang disematkan di sejumlah bandara, ternyata bukan asli dimana tempat bandara itu dibangun.

Demikian pula dengan penamaan nama bandara internasional Lombok yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Sedangkan bandara ini, baru baru ini di SK-kan oleh menteri perhubungan dengan nama pahlawan Nasional, putra asli NTB yakni TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid.

Habib Ziadi salah seorang pembina Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Lombok Tengah mengaku, jika merunut ke nama nama bandara di Indonesia, ternyata rata rata nama pahlawan yang melekat di bandara, bukan asli dimana tempat bandara itu dibangun.Namun karena beliau itu adalah tokoh pahlawan nasional, sehingga pemerintah mengesahkan nama beliau beliau melekat di bandara tersebut, kendati bukan kelahiran dimana tempat bandara itu dibangun.

"Saya rasa tidak ada yang salah ketika nama bandara internasional Lombok menjadi Bandara internasional Zaenuddin Abdul Madjid Lombok," katanya.

Kenapa demikian lanjutnya, sebab saat ini bandara kesayangan masyarakat NTB, hanya menjelaskan nama tempat berdirinya bandara, sedangkan nama bandara itu belum ada, sehingga sangat wajar jika pemerintah pusat, yang notabene nya memiliki hak, sehingga memberikan nama bandara kesayangan masyarakat NTB. 

"Pemerintah hanya menyempurnakan, biar nama bandara kesayangan kita ini, sama dengan bandara di luar NTB, yang memiliki nama, apalagi kita punya pahlawan Nasional," paparnya.


Sedangkan adanya Pro Kontra baginya itu sebenarnya hal biasa. Tapi menjadi luar biasa dan berkepanjangan ketika pihak pemkab Lombok Tengah, melakukan provokasi dan menfasilitasi penolakan itu. Bahkan dengan cara ektrim dan radikal, salah satunya dengan cara pengerahan ASN dan melakukan JEMPOL DARAH yang sengaja di bungkus dengan acara ISTIGASAH.

"Mestinya pemda yang harus mendukung, namun malah mengajak menolak dengan jempol darah," cetusnya.

Dikatakan, sebagai umat Islam, dianjurkan menanamkan kebaikan. Apalagi tokoh pahlawan kebanggaan masyarakat NTB adalah nama ulama dan pejuang perintis kemerdekaan.
Oleh karena itu, pelabelan sarana umum apalagi sekelas airport  dengan nama tokoh ulama sekaligus pahlawan ini sangat strategis, sebab bandara adalah pintu gerbang masuk, apalagi pulau Lombok sudah terkenal dengan sebutan pulau 1000 masjid sebagai identitas masyarakat Lombok yang relijius.

"Lombok kita ini sebelumnya sudah dikenal sebagai pulau 1000 masjid, alangkah eloknya ketika orang orang datang, setibanya di Lombok sudah membaca nama tokoh Ulama' kita sekaligus pahlawan Nasional," terangnya.

Selanjutnya masalah penolakan, khususnya pemkab Lombok Tengah saat itu. Sehingga semakin memperuncing dan mengundang aksi demi aksi berikutnya, baik yang pro dan kontra. Seharusnya pemkab bersikap meneduhkan dan menfasilitasi kedua belah pihak.

Hakikatnya semua bisa diselesaikan secara baik-baik dan dengan musyawarah. Jangan sampai orang luar menstempel daerah kita tidak kondusif. "Bermusyawarah itu lebih mulia dan berkah, saya yakin pasti semua persoalan ini akan selesai," tutupnya. (**)