Cara Kakanmenag Tangkal Kelompok Radikal Masuk Lombok Tengah

"Maksimalkan Peran Penyuluh Agama, Forkompinda dan Organisasi Keagamaan Dirangkul"

Zamroni Aziz

Lombok Tengah terus menggeliat. Daerah yang digadang menjadi barometer NTB ke depan ini  mulai ramai diperbincangkan. Pembangunan Lombok Tengah perlu sinergitas dari semua unsur agar tetap dijalurnya. Salah satunya Kantor Kementerian Agama. Pencegahan masuknya kelompok radikal jadi salah satu konsennya.


SAPARUDDIN-LOMBOK TENGAH


Lombok Tengah saat ini sedang memasuki zaman keemasannya. Sejumlah proyek infrastruktur nasional berskala besar tengah dikebut. Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dengan program pembagunan kawan wisata super prioritas dipastikan akan melambungkan pembangunan perekonomian daerah ini.


Selain KEK Mandalika dengan motogo-nya, sebelum ini Lombok Tengah punya bandara internasional, Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), poltekpar, dan Pelabuhan Perikan di Teluk Awang yang bertaraf internasional.


Menyambut kemajuan Lombok Tengah, Kantor Kementerian Agama yang notabenenya bergerak di bidang pendidikan keagamaan juga memiliki tanggung jawab atas kemajuan ini. Termasuk menjaganya dari segala hal. Salah satunya paham radikal.


"Kita sudah wanti wanti sebelumnya, di balik kemajuan yang di capai Lombok Tengah, kita dari kementerian agama sudah mempersiapkan diri guna menangkal masuknya aliran aliran radikal, termasuk budaya budaya yang tak sesuai dengan ajaran agama Islam," kata Kepala kantor Kementerian Agama Lombok Tengah H. Zamroni Aziz


Salah satu cara yang sudah disiapkan adalah memaksimalkan peran penyuluh agama yang dimiliki. Saat ini jumlah penyuluh agama yang menyebar di seluruh pelosok Loteng sebanyak 104 dan mereka semua sudah digembleng menjadi garda terdepan, memberikan pembinaan, pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.


"Kita sudah punya penyuluh agama yang siap memberikan pembinaan dan pendidikan agama di tengah masyarakat, dan insya Allah semua penyuluh kita sudah paham dengan tugas dan fungsi mereka," bebernya.


Dari 104 tersebut, ada yang berstatus PNS dan non PNS. "Semua penyuluh kita rata rata non PNS, hanya sebagian yang sudah PNS," cetusnya.


Selain penyuluh agama lanjut ketua GP Ansor NTB ini, pihaknya juga rutin melakukan koordinasi dengan seluruh forkopimda, TNI Polri, kejaksaan, pengadilan dan seluruh tokoh agama dan masyarakat, juga tidak luput, kita sentuh.


"Semua elemen kita rangkul, mengingat Lombok Tengah ini memiliki potensi besar, apalagi besok setelah motoGP beroperasi, tantangan kita dibidang keagamaan semakin menantang," ungkapnya.


Ditambahkan, selain hal di atas, ada empat organisasi besar yang  selalu dirangkul untuk menjaga Marwah daerah. Sebut saja organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), Muhamadiyah dan ada beberapa madrasah yang tidak berafiliasi dengan tiga organisasi ini.


"Yang jelas dari seluruh yang saya sebutkan diatas, kita tetap mengacu pada Ukhwah Islamiyyah, Ukhwah Wathoniah dan Ukhwah Basyariah," ungkap Zamroni.  (Adv)