Tak Patuh Prokes, Sekolah Ditutup

"Kami menerapkan prosedur protokol kesehatan. Kami berharap siswa dapat memahami dan menerapkannya di tengah pandemi ini. Kalau sekolah gagal akan di

TAAT PROKES: Sekolah di Mataram wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat simulasi belajar tatap muka.
TAAT PROKES: Sekolah di Mataram wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat simulasi belajar tatap muka.

Mataram (postkotantb.com) -Evaluasi belajar tatap muka yang diselenggarakan pemerintah Kota Mataram akan dilaksanakan di bulan Februari 2021.

Diharapkan program simulasi sekolah tatap muka ini dapat berjalan lancar dengan catatan tetap menerapkan protokol Covid 19. Bagi sekolah yang gagal menerapkan protokol tersebut akan ditutup.

"Kami menerapkan prosedur protokol kesehatan. Kami berharap siswa dapat memahami dan menerapkannya di tengah pandemi ini. Kalau sekolah gagal akan ditutup," tegas Ketua MKKS Kota Mataram, Muhammad Nazuhi, Selasa (18/1).


Kata dia, simulasi tatap muka sebagai edukasi agar siswa memahami protokol Covid 19. Sejauh ini, para siswa di SMP sangat antusias menjalani simulasi tersebut. Namun, kembali lagi ke masing-masing orang tua.

"Karena simulasi di SMP, syarat terakhir itu izin orang tua, mengizinkan atau tidak anaknya sekolah tatap muka. Kalaupun tidak, siswa bersangkutan belajar dari rumah," imbuhnya

Menurutnya, belajar tatap muka merupakan pilihan yang sulit bagi pemerintah setempat. Mengingat daerah belum pulih dari pandemi Covid 19. "Tapi siswa sudah 11 bulan tidak pernah bertemu dengan gurunya. Apalagi siswa kelas tujuh yang baru satu dua kali tatap muka," cetusnya.

Di sisi lain, sistem belajar daring tidak maksimal berdampak pada siswa. Bahkan sebagian siswa di masing-masing SMP sama sekali tidak merespons serta ada siswa yang nyaris putus sekolah.

"Itulah kendala teknis yang kami hadapi di dunia pendidikan, sehingga kami memilih belajar tatap muka. Tapi dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat," jelasnya.  

Dia mengajak seluruh masyarakat, khususnya para orang tua agar bersinergi dengan pihak sekolah. Sekolah dapat mendidik dan mengawasi hanya pada saat siswa berada di lingkungan sekolah. Sebab, di luar sekolah rawan adanya kerumunan.  

Bila perlu, siswa tidak lagi diizinkan mengendarai sendiri motor ke sekolah."Kami akan segera bersurat ke orang tua, supaya anak sekolah diantar. Jangan bawa motor sendiri. Kalau anaknya gak mau silahkan belajar dari rumah," pungkasnya. (RIN)