Himmah NW Loteng Gagas Program Zakat dan Wakaf Berbasis Digital

M. Syukri selaku narasumber mengaku salut dengan terobosan program Himmah NW Loteng

DISKUSI: jajaran pengurus Himmah NW Loteng, berpoto bersama usai dialog dengan tema Pengelolaan zakat dan wakaf di era digital, kemarin.
DISKUSI: jajaran pengurus Himmah NW Loteng, berpoto bersama usai dialog dengan tema Pengelolaan zakat dan wakaf di era digital, kemarin.

 Lombok Tengah (Postkotantb.com) - Usai pengukuhan pengurus pekan lalu, Himpunan Mahasiswa (Himmah) NW cabang Lombok Tengah menggelar diskusi yang menghadirkan sejumlah pihak Senin (17/1). Pengelolaan zakat dan wakaf era menjadi tema diskusi tersebut. Ketua panitia diskusi, Izzuddin Iqbal, mengatakan, diskusi berkaitan dengan adaptasi  terhadap kemajuan teknologi.

"Saat ini kita sudah masuk di zaman serba digital, sehingga trend ini sebagai acuan pemuda dan mahasiswa harus mampu beradaptasi. Makanya kami ambil tema tersebut dalam dialog ini," ungkapnya.

Implementasi dari tema tersebut, pihaknya akan meminta kepada pengurus Himmah NW tingkat wilayah untuk bisa melahirkan program, terutama dalam penguasaan digital.

"Bila perlu nanti kami akan minta ke PW Himmah NW untuk membuatkan program penguasaan digital menyambut era digital, implementasi dari dialog ini," ujarnya

Sementara itu M. Syukri selaku narasumber mengaku salut dengan terobosan program Himmah NW Loteng. "Setelah saya terima undangan sebagai Nara sumber dengan tema Pengelolaan Zakat dan wakaf diera digital, saya langsung menyambut baik, sebab tema ini sangat tepat dengan kondisi terkini," ungkapnya.

Dikatakan, sebagai ummat muslim, zakat dan wakaf merupakan pilar ekonomi umat yang harus diperkuat, dibarengi dengan kemajuan saat ini. Penguasaan digital amat penting dalam mempertahankan nilai nilai keumatan, terutama dalam hal zakat dan wakaf.


"Penguasaan teknologi dalam mempertahankan ilmu agama, saat ini amat penting, makanya tema dialog kali ini, sangat tepat," ungkapnya.

Dikatakan, potensi zakat di Indonesia sekitar Rp 200 triliun dengan estimasi rata rata per orang Rp 10 ribu, namun saat ini yang terkumpul masih sangat rendah.

"Yang terpenting saat ini adalah mahasiswa sebagai generasi penerus, harus menguasai digital sebagai tempat sosialisasi manfaat dari zakat dan wakaf. Sosialisasi itu apakah melalui FB, WAG, Instagram, Youtube, Metube, dll, semua itu penting," sambungnya.
 
Guna menarik ketertarikan terhadap laman yang akan disosialisasikan, desain laman juga penting. Sehingga para pecinta digital tertarik ketika membuka laman sosialisasi yang berisikan media promosi, tentang wakaf, zakat, infaq dan sadakah. Dan itu harus dilakukan setiap hari secara terjadwal dan teratur.

Diakuinya, tantangan saat ini yang kita hadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia, terutama dalam pengelolaan zakat dan wakaf, selain itu keterbatasan fasilitas dan perangkat pendukung.

Termasuk sumber zakat atau wakaf masih terbatas. "Peran pemuda dan mahasiswa dengan kondisi terkini, sangat diharapkan untuk bisa menguasai teknologi dan komunikasi," harapnya . (AP)