Korban Banjir Resah Dilanda Wabah Penyakit

Kalaupun pak gubernur bersama Wabup dan Muspida lainnya sudah turun, bagi kami itu bukan bentuk kepedulian mereka, Sebab beliau beliau datang hanya un

Lombok Tengah (postkotantb.com) - Masyarakat di Desa Mertak, Kuta dan Sukadana Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng), masih khawatir banjir susulan. Ditengah kekhawatiran mereka, masyarakat juga mulai di resahkan dengan wabah penyakit menyerang warga setempat.

Ketua Karang Taruna Kecamatan (KTK) Pujut Sri Anom Putra Sanjaya menyatakan, kendati banjir sudah mulai surut, akan tetapi melihat curah hujan masih tinggi, masyarakat di tiga desa di Kecamatan Pujut Loteng, masih khawatir banjir susulan.

Belum selesai rasa takut mereka berakhir, kini mereka juga diresahkan dengan penyakit mulai menyerang masyarakat, terutama di kalangan anak anak, seperti gatal gatal, panas, demam dan penyakit lainnya.

Akan tetapi sampai saat ini, belum ada perhatian dari pemerintah, minimal pemerintah harus menerjunkan tim medis, untuk mengontrol kondisi masyarakat, pasca banjir.

Karang Taruna Kecamatan Pujut saat turun meninjau lokasi banjir
Karang Taruna Kecamatan Pujut saat turun meninjau lokasi banjir

"Belum selesai penderitaan masyarakat kami yang terkena banjir, sekarang masyarakat kami mulai diresahkan datangnya penyakit," katanya, Sabtu (6/02).

Semestinya, pemerintah menerjunkan tim medis untuk mengontrol kondisi masyarakat, namun sepertinya pemerintah lepas tangan.

Diakuinya, kedatangan pak gubernur bersama Wabup Loteng dan sejumlah Muspida lainnya, pihaknya bersyukur. Akan tetapi baginya itu tak ada pengaruhnya bagi masyarakat, sebab kedatangan mereka hanya datang Selvi, tidak dibarengi dengan upaya serius, untuk memberikan perhatian, terutama kesehatan masyarakat pasca banjir.

“Kalaupun pak gubernur bersama Wabup dan Muspida lainnya sudah turun, bagi kami itu bukan bentuk kepedulian mereka, Sebab beliau beliau datang hanya untuk Selfi, buktinya tak ada perhatian untuk jaminan kesehatan masyarakat, sampai penyakit ini datang dan meresahkan masyarakat" ungkapnya.


Semestinya lanjutnya, ketika orang nomor satu datang di NTB ini dan Bupati terpilih, paling tidak ada upaya yang akan dilakukan, namun sejauh ini pihaknya menilai tak ada kepeduliannya, pasca mereka turun.

"Apa buktinya mereka prihatin kepada masyarakat Pujut, mereka datang hanya untuk Selfi, buktinya sampai sekarang tak ada kepeduliannya," geramnya.

Anom juga menambahkan, perihal penyebab banjir di Kecamatan Pujut, ia menilai terjadi salah satu faktornya yakni karena saluran drainase yang tidak normal. Sehingga jika ini tidak segera ditangani pemerintah, maka banjir akan kembali terjadi selama musim hujan. Bahkan dampaknya bakal lebih besar lagi dari yang kemarin. Kondisi ini baginya membuat masyarakat akan semakin resah dan terganggu karena di hantui terus oleh kemungkinan terjadinya bencana banjir susulan. Selain itu, kondisi ini akan mengganggu psikologi masyarakat karena tidak bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya.

“Saya ibaratkan banjir ini seperti sakit gigi, maka bantuan sembako ini obat peringan saja, bukan penyembuhan penyakit. Aksi nyata memperbaiki pokok penyebab banjir ini harus dituntaskan,” sebut pemuda yang juga Ketua BUMDes Mertak ini.

Lebih jauh disampaikannya, bahwa yang lebih fatalnya lagi menurutnya yakni lokasi banjir ini terjadi di KEK Mandalika. Yang mana, tentu ini seharusnya steril dari berbagai bencana karena tempat wisata itu harus nyaman dan aman dari banjir. Bukan malah tempatnya rawan banjir.

“Bagaimana penonton bisa nyaman jika mereka di hantui banjir. Desa Mertak dan Sukadana ini kan direncanakan sebagai kawasan atau lokasi inap para tamu ke depannya. Jika tidak steril dari banjir, lalu wisatawan mana yang akan mau menginap di sini,” katanya dengan nada miris.

“Ayolah pemerintah segera bertindak, masyarakat tidak butuh selfy-selfy, masyarakat butuh penanganan serius dari pemerintah. Ini sudah beberapa hari lo, kami tunggu gerakannya,” tutupnya

Senada juga disampaikan Haji Bangun, salah satu tokoh masyarakat Desa Mertak. Terhadap banjir itu, ia juga melihat bahwa saat ini langkah terpenting selain pemberian bantuan sosial yakni perbaikan infrastruktur. Karena baginya, akan lebih efektif dalam keberlanjutan ekosistem. Artinya, pemerintah mestinya fokus untuk mencari solusi untuk penanganan penyebab banjir dari hulu sampai hilir.

“Pemerintah harus ambil tindakan serius soal penyebab banjir ini. Jangan kita terlena dengan penyaluran Bansos saja,” saran mantan Kepala Desa (Kades) Mertak dua periode ini.

Bangun juga menerangkan, bahwa pemberian Bansos tanpa perbaikan infrastruktur bukan solusi. Sehingga untuk saat ini Pemda, baik Pemkab maupun Pemprov harus punya langkah khusus mengurai persoalan ini sebelum dampaknya lebih besar lagi. Apalagi, tiga desa yang terparah banjir itu berada di kawasan inti KEK Mandalika.

“Jembatan, saluran, jalan dan lainnya yang rusak karena banjir kemarin, itu penting untuk kita perhatikan. Apa penyebab lainnya juga diuraikan. Ya misalnya kalau galian C, ya dihentikan,” pungkasnya. (AP)