Konsen Perjuangkan Hak Madrasah dan Pondok Pesantren

H. Lalu Pelita Putra, SH.

Mataram (postkotantb.com)- Momentum Pilkada Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terselenggara tahun 2024 mendatang. Namun demikian, H. Lalu Pelita Putra, SH, sudah menampakan sinyal kesiapannya untuk maju sebagai Bakal Calon Bupati di kabupaten tersebut.

"Mengutip kalimat Gus Baha, fatwa Haram seribu ulama terhadap praktik prostitusi, kalah daripada satu tanda tangan kepala daerah untuk menutup tempat prostitusi," ujar Pelita mengisyaratkan kesiapannya mencalonkan diri, Selasa (15/6).

Diakui politisi udayana ini, optimistis yang dia miliki, didasari niat untuk merubahan kondisi masyarakat Loteng. Di mana masih banyak kewajiban yang belum tersalurkan saat menjabat sebagai  wakil Ketua Komisi IV DPRD NTB, dapat dituntaskan, ketika telah dipercaya masyarakat sebagai kepala daerah.

Salah satunya memberikan reward. Yakni mendorong pendidikan, terutama madrasah dan yayasan pondok pesantren agar memiliki hak yang sama dengan sekolah negeri. Selama ini, lembaga pendidikan tersebut kerap diurutkan di nomor dua setelah sekolah negeri.

Padahal, keberadaan lembaga pendidikan tersebut, memiliki peranan yang penting. Antara lain menampung para tenaga pengajar. "Kita juga harus suport mereka dalam bentuk penganggaran. Termasuk juga untuk guru-guru kita. Terkadang mereka hanya mendapatkan honor Rp. 100 ribu per bulannya," imbuhnya.

Di sisi lain soal daya tampung. Jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan peserta didik, dia memastikan sekolah negeri sekolah negeri tidak mampu menampuh seluruh siswa di Loteng.

"Kalau bicara sekolah negeri, daya tampungnya berapa? Berapa kita punya, berapa usia sekolah. Contoh dari SD, SMP ke SMA. Lalu berapa daya tampung kita di SMA, SMK dan Aliyah. Dan berapa MTs Negeri. Lalu kemudian hitung berapa jumlah siswa. Saya yakin sekolah negeri tidak mampu. Disitulah peran pondok pesantren," jelasnya.

Di sisi lain, madrasah dan pondok pesantren merupakan lembaga yang mengutamakan pendidikan keagamaan. Sehingga, dinilai layak untuk diperhatikan secara khusus.

"Saya berfikir, justru lembaga pendidikan ini nomor satu. Karena siswa dibekali imtak dan imtek. Jujur kalau kita mau maju di dunia politik, kita tidak boleh kehilangan iman dan taqwa. Ini juga sebagai bagian dari membangun sumber daya manusia," tutupnya.(RIN)