Muliadi, "Innalilahi wainnailaihirojiun" Guru malas belajar, Jiwa Inovasinya Mati

Muliadi Kepala seksi pendidikan Madrasah pada kantor kementrian agama Loteng.

LOTENG (Postkotantb com)- Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah (Penmad), pada kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Tengah (Loteng), Muliadi mengucapkan istirja' saat membuka acara Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) guru tematik yang digelar di MIN 4 Loteng kemarin.

Ucapan istirja' tersebut layak diberikan kepada para pendidik yang malas belajar atau inovasinya nihil.

"Innalilahi wainnailaihirojiun" ungkapan ini layak kita berikan untuk para guru yang malas belajar, pasalnya, guru yang malas menambah ilmu pengetahuan, pertanda jiwa inovasinya mati, dan itu harus kita hidupkan kembali," katanya.

Menghidupkan semangat baru, salah satunya dengan cara melakukan Diklat, wharsop, bimtek dan yang lainnya, sebab kegiatan semacam ini, adalah salah satu langkah membangkitkan semangat juang para guru untuk terus berinovasi.

"Program pembinaan harus dihidupkan oleh seluruh madrasah, agar para guru punya ide dan inovasi baru," harapnya.

Sebagai pendidik yang kaya dengan Inovasi atau usaha mendayagunakan pemikiran, kemampuan, imajinasi, dengan tujuan menghasilkan produk baru, baik bagi dirinya sendiri, murid muridnya maupun lingkungan keluarga serta masyarakat luas.

Seseorang yang berhasil melakukan sebuah inovasi adalah seseorang yang inovatif. Secara tidak langsung, manfaat inovatif adalah membawa sesuatu hal yang baru, yang dapat memudahkan peserta didik untuk mencerna pelajaran, sehingga siswa tidak bosan dalam mengikuti semua mata pelajaran yang disajikan di Madrasah.

"Jika ini bisa diterapkan pendidik, saya yakin siswa kita tidak akan jenuh belajar dan insyaallah prestasinya juga akan semakin baik," ketusnya.

Dikatakan, saat ini jumlah guru dilingkup Kemenag lebih dari 12 ribu orang, dari jumlah tersebut, ada sekitar 4000 guru terdaftar Penerima program Tunjangan Sertifikasi (TS), dari jumlah tersebut hanya 3700 yang sudah dibayarkan.

"Kita punya guru penyandang TS, sekitar 4000, tapi yang sudah kita bayarkan hanya 3700 orang," terangnya.

Kurangnya jumlah yang dibayar, setelah dilakukan pengecekan ternyata guru tersebut ada yang sudah meninggal dunia, ada yang lulus CPNS, tidak memenuhi jam pembelajaran dan ada juga yang lulus P3K.

Kekurangan jam mengajar lanjutnya, lembaga pendidikan saat ini dituntut untuk berusaha agar di masing-masing madrasah, perkelasnya jangan sampai kurang dari 15 orang siswa.

Sebab jika kurang, ini bisa berimbas terhadap jam mengajar guna memenuhi persyaratan pembayaran sertifikasi.

"Sekarang sudah ada aturan baru, pembayaran sertifikasi termasuk dituntut per kelas harus 15 orang siswa. Makanya saya menyarankan guru untuk lebih kreatif, inovatif, sebab jika kita sudah sukses, pastinya tempat kita mengajar akan diidolakan dan pastinya masyarakat akan berbondong-bondong menyekolahkan anak anaknya ditempat kita mengajar," tutupnya (AP)