Guru SMAN 1 Janapria, Membuat Ide dan Inovasi Baru Selama Covid-19

MEMANTAU Kepala SMAN 1 Janapria H. Wildan saat memantau jalannya pembelajaran melalui Daring kemarin

Lombok Tengah (Postkotantb.com) - Ditengah penyebaran Covid-19, seluruh kebijakan dan aturan pun berubah, termasuk sistem pembelajaran di sekolah.

Berubahnya sistem pembelajaran tersebut, tentunya ini bagian dari tuntutan para guru untuk lebih berinovasi dalam melahirkan ide dalam mendidik, sehingga target pembelajaran tepat sasaran sesuai ritme waktu yang telah ditentukan selama Covid-19.

Di SMAN 1 Janapria Lombok Tengah (Loteng) misalnya, seiring berubahnya aturan mengajar, terutama masalah batasan waktu mengajar, yang dulunya bisa dilakukan secara tatap muka dengan ritme waktu yang cukup panjang. Namun sekarang hal tersebut tidak bisa dilakukan, lantaran musibah Covid-19.

"Musibah ini telah membuat kita para guru harus berinovasi melahirkan ide ide mengajar lebih efektif. Sebab dengan keterbatasan waktu mengajar dengan cara tatap muka, membuat kita harus mampu memanfaatkan waktu sebaik baiknya," kata kepala SMAN 1 Janapria Loteng H. Wildan, Kamis (15/7).

Seiring perubahan tersebut, tentunya ini telah membuat dirinya mengajak seluruh guru mata pelajaran, untuk mencari solusi yang tepat tanpa mengesampingkan aturan dari dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi NTB. 

Terutama, bagaimana caranya mengajar dengan waktu tatap muka terbatas. "Inovasi tetap kami tuntut kepada seluruh guru tanpa mengesampingkan aturan Dinas, biar pembelajaran tepat sasaran kendati waktu terbatas," ungkapnya.

Dijelaskan, merujuk kepada proses pembelajaran sebelum Covid-19, masing masing mata pelajaran harus 45 menit setiap kali tatap muka. Namun sekarang dengan diberlakukannya aturan belajar ditengah Covid-19, mau tidak mau sistem pembelajaran harus berubah, terutama masalah waktu.

"Dari 680 siswa saat ini, kita sudah berlakukan pembelajaran dengan model 3 sif," cetusnya.

Dari 45 menit tatap muka sebelumnya, sekarang tatap muka hanya 20 menit, dan itu pihaknya sudah menekankan kepada semua guru mata pelajaran untuk membuat kesimpulan sebelum mengajar. 

Atau guru sudah diminta memberikan pembelajaran pada pokok pokok inti dari masing masing pelajaran yang di empu. "Yang jelas di sinilah, guru harus mampu benar benar menunjukkan inovasi mereka sebagai pendidik, terjepit waktu namun mampu memanfaatkan dengan sebaik baiknya, sehingga pembelajaran tepat sasaran," pintanya.

Selanjutnya 25 menit dari sisa 45 menit tersebut, guru memberikan pembelajaran melalui daring, dan pihaknya juga menyarankan agar guru memberikan pelajaran lebih dari 25 menit dari batas waktu yang telah ditentukan, misalnya guru memberikan tugas tambahan dan yang lainnya.

"Tidak masalah jika guru memperpanjang ritme ngajar lewat daring, asalkan tujuan capaian pendidikan tercapai atau kita manfaatkan sistem daring ini dengan sebaik baiknya," akunya.

Selanjutnya, untuk mengetahui proses pembelajaran melalui daring efektif atau tidak, pihaknya telah membuat pom pemantauan, atau guru dituntut menyerahkan bukti mengajar minimal dengan cara mengsengkrinsutkan bukti ngajar dan yang lainnya. (AP)