Sosok Politisi PKB Di Hadapan Keluarga Pengidap Penyakit Hemofilia

HEMOFILIA: anggota DPRD Loteng Umar Tarip, bersama penderita Penyakit hemofilia orang tuanya

Disebut Malaikat Penyelamat, Ketika Mereka Pasrah Atas Penyakit Yang Diderita Anaknya

Penyakit hemofilia salah satu penyakit mematikan yang membutuhkan banyak dana. Ditengah usahanya kandas, sosok anggota DPRD dapil 3 Loteng datang dan membantu, mereka menilai kalau beliau adalah malaikat penyelamat

Berikut pemaparan Postkotantb


SAPARUDDIN

LOMBOK TENGAH


HEMOFILIA Ditengah kesusahannya terhadap kondisi anaknya yang menderita penyakit hemofilia atau penyakit gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor VII dan IX.

Penyakit hemofilia disebabkan oleh mutasi genetik. Mutasi genetik yang terjadi pada hemofilia menyebabkan darah kekurangan protein pembentuk faktor pembekuan. Kekurangan faktor pembekuan ini akan menyebabkan darah sukar membeku.

Penyakit mematikan tersebut di alami oleh Dirga Mahesta kelahiran Desa Beleka Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah. Anak dari pasangan Amaq Andra dan Novi, menderita penyakit ini dialaminya sejak berumur 2 tahun jalan.

Kepada postkotantb.com Amaq Indra menuturkan, sejak dokter anak memvonis kalau anaknya menderita penyakit hemofilia, berbagi macam usaha ia lakukan, guna menyembuhkan penyakit sang buah hati. 

Mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan tradisional, namun segala usahanya sampai saat ini belum juga memenuhi hasil maksimal.

Kendati belum juga ada hasil, pihaknya bersama keluarga tidak putus harap, sembari berdoa agar ada mukjizat Allah SWT. "Sebagai hamba Allah yang beriman, saya terus berusaha dan berdoa semoga penyakit yang di derita sang buah hatinya segera diangkat," tuturnya di kediaman Umar Tarip, politisi PKB dapil 3 Praya Timur Pujut Lombok Tengah.

Ditengah perekonomian yang menghimpit dan uang habis, pihaknya sempat minta bantuan ke pemerintah desa, sehingga pihak desa mengusulkan untuk bisa mendapatkan kartu BPJS. Dan Alhamdulillah selama 3 tahun, kartu tersebut bisa membantu pengobatan anaknya.

"Selama tiga tahun saya memakai kartu BPJS, namun sampai saat ini penyakit yang diderita anak belum juga sembuh. Sedangkan kartu BPJS yang kami miliki, tidak bisa digunakan jika melakukan pengobatan lebih besar, sedangkan umur anaknya sudah 6 tahun jalan dan belum di khitan," ungkapnya

Ditengah kesusahannya, akhirnya pihaknya mencoba mengadukan nasibnya di pak Umar Tarip hingga Alhamdulillah bapak Umar Tarip langsung bersedia membantu.

"Alhamdulillah, kami menilai ditengah kesusahannya sosok pak Umar Tarip adalah malaikat penyelamat bagi saya dan keluarga, sebab dengan pertolongannya kesusahan yang selama ini mendera, bisa terobati," tuturnya dengan wajah berseri seri.

Sementara itu Novi ibu dari Dirga menuturkan, semenjak dokter memvonis penyakit hemofilia yang diderita anaknya sudah masuk hemofilia berat, dokter menyarankan untuk cek darah ke Surabaya dan membutuhkan dana Rp 30 juta. 

Sedangkan uang sebanyak itu, baginya sangat berat. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup saja sangat susah namun Alhamdulillah setelah ia mengadukan nasibnya ke pak Umar Tarip, harapan untuk menyelamatkan anaknya semakin terbuka sebab beliau bersedia untuk membantu hingga anaknya sembuh.

"Alhamdulillah, semoga beliau diberikan kesehatan dimudahkan segala urusannya dan pengobatan anaknya bisa mendapatkan hasil memuaskan hingga anaknya bisa dikhitan dan normal seperti layaknya anak anak normal lainnya," doanya.

Dituturkan, penyakit anaknya ini awalnya bengkak bengkak, jika ada lecet ditubuhnya pasti bengkak bernanah. Setelah di vonis hemofilia berat, harus membutuhkan 8 kotak obat, sedangkan BPJS hanya mampu menanggung 1 kotak.

"Saya tidak tahu berapa harganya satu kotak, tapi yang jelas BPJS hanya bisa membantu 1 kotak, namun dengan bantuan bapak Tarip, Alhamdulillah ada harapan 8 kotak tersebut bisa dibeli," tuturnya.

Sementara itu, Umar Tarip anggota DPRD Lombok Tengah mengaku perihatin terhadap kondisi anaknya. Sebagai manusia yang hidup sosial dan khadam masyarakat, pihaknya merasa terpanggil.

"Saya langsung mencoba konsultasi dengan pak Bupati, dan Alhamdulillah pemerintah Daerah bersedia bertanggung jawab, membiayai semua pengobatan anak tersebut hingga sehat," tuturnya.

Dikatakan, selain sudah konsultasi dengan bapak Bupati, pihaknya juga sudah melakukan konsultasi dengan salah seorang dokter, dimana dokter menyebutkan. Menyembuhkan anak tersebut harus membutuhkan biaya besar mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 50 juta, sebab kata dokter untuk menyembuhkan anak tersebut dibutuhkan 8 kota obat lebih, sedangkan harga obat per kotak cukup mahal.

"Insyaallah, semoga anak tersebut bisa terbantu dan penyakit yang dideritanya segera disembuhkan, hingga anak ini bisa dikhitan dan normal layaknya anak anak lainnya," harapnya.

Ia menambahkan, insyaallah besok pagi pihaknya bersama keluarganya akan mendampingi mengurus semua persyaratan dan semoga anak ini sehat. "Sebagai manusia sosial, sebuah kewajiban baginya untuk saling membantu dan terima kasih saya sampaikan kepada Pemda Loteng yang telah bersedia membantu anak kita ini," tutupnya. (**)