Andur: ITDC Disinyalir Sebagai VOC Bagi Kami

Lombok Tengah (Postkotantb.com)- Ternyata Keberadaan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero), Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), di Kuta Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng), tak selamanya membawa manfaat bagi masyarakat setempat. 

Seperti yang dituturkan Andur keluarga Mise pemilik lahan di Jurang Pongos Dusun Bunut Desa Kuta. 

"Bagi kami ITDC adalah kelamaan VOC jaman penjajah Belanda," katanya, Ahad (1/8)

Kenapa pihaknya mengatakan demikian, pasalnya ITDC telah melakukan penggusuran dengan cara membabi-buta, seolah olah tak punya rasa perikemanusiaan. Padahal lokasi penggusuran tersebut nyata nyata milik Mise warga Kuta peninggalan atau warisan orang tuanya, atas nama Amaq Aluh (almarhum) yang terletak di batas timur Desa Kuta Dusun Bunut.

"Mise punya SPPT sebagai tanda bukti kepemilikan yang sah dari mendiang bapaknya, kok sang penjajah ITDC ini seenaknya saja melakukan penggusuran,"kesalnya.

Atas kejadian itu, pihaknya mencoba melakukan penghalangan bersama warga sekitar, tapi penggusuran tetap dilanjutkan dan tidak peduli, malah kami disarankan untuk langsung minta ke pihak ITDC.

"Para penjajah itu minta ke ITDC, kami lakukan itu tapi malah di sana tak ada siapa siapa yang kita temui," ungkapnya.

Melakukan pembelaan terhadap keluarganya yakni Mise sudah tiga kali mendatangi ITDC, tapi malah pihak ITDC selalu menghindar. "Kami butuh keadilan pak, kita sudah merdeka puluhan tahun, tapi kami masyarakat bawah masih merasa di jajah, terutama oleh pihak ITDC," ujarnya.

Tidak adanya keadilan, pihaknya meminta kepada publik dan Pemerintah serta Komnas HAM, untuk jangan tutup mata atas persoalan menimpa kami ini.

"Pertama kali saya datang, saya minta ITDC tunjukkan bukti jual beli tapi ITDC diam dan tanpa peduli pada kami dan mereka menggusur tanpa ada rasa perikemanusiaan," imbuhnya.

Atas segala usaha yang telah dilakukan tersebut, pihaknya bersama keluarga akan tetap terus berjuang dan pihaknya bertekad akan tetap membangun gubuk seadanya, kendati sudah digusur habis. "Seribu kali digusur sejuta kali saya akan pagari, dan kami siap mati dilokasi" tandasnya. (AP)