L. Khaeril: Selama tidak melanggar aturan, Menyelamatkan anak bangsa itu wajib kami lakukan

Lombok Tengah (postkotantb.com) - Adanya sejumlah orang mempertanyakan keberadaan salah seorang siswa di SMAN 1 Praya Barat Lombok Tengah (Loteng), inisial LJR tercatat sudah menikah, namun tercatat sebagai pelajar di SMAN 1 Praya Barat, ditanggapi santai kepala sekolah setempat.

Kepada (postkotantb.com) - Kasek SMAN 1 Praya Barat Loteng L. Khaeril Anwar membenarkan, kalau siswanya kelas  XII inisial LJR sudah menikah.

"Kami akui satu orang siswa sudah menikah," katanya di salah satu rumah makan di Praya," kemarin

Anak tersebut lanjutnya, adalah anak pindahan di salah satu Madrasah di Lobar tahun 2019 atau pindahan saat kelas 1 atau kelas X. Dan saat itu pihaknya belum menjabat sebagai kepala.

Selanjutnya, anak ini menikah saat kelas XII atau kelas 3. Awalnya pihaknya bersama rekan guru yang ada, ingin mengeluarkan anak tersebut, akan tetapi anak ini bersikeras untuk melanjutkan pendidikan. 

Sehingga pihaknya berinisiatif untuk menyelamatkannya, dengan cara memasukkannya ke SMA terbuka, hanya saja untuk SMA terbuka, sampai saat ini belum ada yang sampai kelas XII, sehingga pihaknya  bersama guru dan wakil Kesiswaan, sepakat menyelamatkan anak tersebut, untuk bisa melanjutkan pendidikannya di SMAN 1 Praya Barat Loteng.

 "Kita upayakan menyelamatkan anak tersebut untuk kita masukkan ke SMA terbuka, hanya saja belum ada yang kelas XII, sehingga kami berinisiatif memasukkan ke sekolah formal, guna kita selamatkannya," ungkapnya.

Selain itu berbicara HAM, ketika seseorang ingin melanjutkan pendidikan, namun melakukan penghalangan, itu sama artinya dengan melanggar HAM, sehingga pihaknya menilai anak tersebut harus diselamatkan.

"Di samping kita selamatkan, anak ini juga serius mau lanjutkan sekolah dan itu harus kita hargai, dengan cara menyelamatkannya," paparnya.

Selain hal diatas lanjutnya, pihaknya juga sudah memberikan saran, artinya karena statusnya sudah menikah, sudah pasti banyak yang mengejek. Contohnya dipanggil dengan bahasa sudah tua atau yang lainya. Namun anak tersebut siap menerima resiko, kendati diejek oleh teman temannya.

Selanjutnya masalah pernikahan, anak tersebut masih dibawah umur, dan nikahnya tidak tercatat dalam buku nikah secara negara, melainkan nikah secara agama. Dan yang terakhir, sebelum mengijinkan untuk melanjutkan pendidikan, sebelumnya pihaknya sudah memanggil kades berdomisili anak tersebut.

Pihaknya menegaskan status pernikahan anak tersebut dan dibenarkan, hanya saja pernikahannya itu tidak tercatat secara negara namun secara agama. "Ada sekitar dua Minggu anak ini nikah, kita sudah koordinasi dengan kades tempat anak ini berdomisili dan anak ini juga sanggup penuhi beberapa persyaratan yang sudah kita tekankan," bebernya.

Senada disampaikan Wakil Kepala bagian Kesiswaan H. Mahsun, selama beberapa persyaratan yang diberikan pihak sekolah dan disanggupi, baginya itu tidak masalah. Sebab sampai saat ini beberapa aturan larangan sekolah, tidak ada yang dilanggar, terutama masalah nikah, sebab anak tersebut nikah dibawah umur dan tidak tercatat dalam pernikahan secara negara.

Selanjutnya masalah anak tersebut suka buat keonaran dan sempat berkelahi dengan BKD Desa Batujai, sejauh ini pihaknya tidak pernah mendengar dan malah anak ini dikenal pendiam dan jarang keluar. "Anak ini malah pendiam dan tidak pernah buat masalah, malah kami yang heran, saya selaku Waka kesiswaan pastinya tau apa yang terjadi di dalam sekolah, kok ada orang luar yang menyebutkan anak ini suka bikin onar. Saya yang lebih tau itu tidak benar," tutupnya. (AP)