Tanah Lombok Memang Berbisa, Jadi Jangan Berstatmen Propaganda


 

LOTENG, (postkotantb.com) -  Tanah Lombok Memang Berbisa, Jadi Jangan Berstatmen Propoganda. Demikian dikatakan Direktur Public Institute NTB, Ahmad SH.

Selasa (16/11) dalam pres rilisnya mengatakan, apa yang ia katakan sekarang sudah terbukti atas telah di pecat nya Dyan Dilato karyawan MGPA, yang telah mengeluarkan statemen propaganda, terkait

kisruh Marshal untuk gelaran Asia Talent yang akan lanjut ke WSBK.

"Jangan macam macam jika ingin selamat di bumi seribu masjid, yang suka propaganda masyarakat, pasti akan bernasib naas, tuuuh buktinya Dyan Dilato karyawan MGPA langsung dipecat," kata aktivis yang biasa di panggil bang memed.

Atas apa yang dikatakan lanjut Sekretaris DPC Nasdem Loteng ini, pihaknya memberi penilaian tegas bahwa keadaan sekarang adalah tumpahan sendimen masalah yang tidak diselesaikan dengan baik. Proses berjalan tetapi selalu menemui kendala, bahkan itu secara tekhnis. 

Mulai dari tahapan pembangunan sampai rekrutmen tenaga teknis. Sibuk aspal sirkuit, lupa pada pembangunan manusia di sekitarnya.

Namun terlepas dari itu lanjut Memed nama kerennya, pihaknya juga menekankan jika semua harus rendah hati menerima kritik, perbaiki keadaan dengan cepat, para pemimpin daerah ini harus segera duduk bersama untuk merumuskan keadaan.

"Termasuk pihak penyelenggara. Mereka juga harus melakukan evaluasi ke dalam dan meningkatkan disiplin kerja mereka, bukannya menyalahkan tenaga teknis yang sudah di rekrut. Itu menunjukkan rendahnya tingkat profesionalisme dalam bekerja. Jadi jangan cuma menyalahkan SDM yang mereka rekrut, evaluasi internal juga bahwa mereka sudah melaksanakan proses pelatihan dan sebagainya dengan benar belum?" ketus pria yang biasa bersuara lantang ini.

Ahmad menambahkan, mewanti- wanti jika siapapun di ITDC dan MGPA yang mengatakan bahwa SDM di NTB rendah, apalagi itu orang "luar" dan ke-Jakarta-an, harusnya berfikir yang komprehensif, jangan atas nama bisnis yang menguntungkan segelintir orang terus semaunya "acak-acak" kawasan, mulai dari urusan Marshal sampai pembatalan race. Sudah terlalu banyak biaya dan tenaga yang terbuang hanya untuk mensukseskan Mandalika. Dan itu adalah wajah Indonesia dan wajah presiden.

"Semua harus ingat, jangan sampai kita kena kutuk tanah ini, ingat kenapa ada kalimat para tetua _"Lombok Mirah Sasak Adi"._ karena tanah Lombok ini tanah bertuah, tanah azimat, jangan sampai "tular manoh" atau kualat nanti kita semua gara-gara sikap dan ucapan yang seenaknya .. ini tanah legenda, bung! Jangan sompral," tutup Ahmad dengan kesal. (AP)