Cerita Haru Sang Pelopor KEK dan Cercuit Mandalika (1)




Diawal Persentase Jadi Cemoohan Para Investor, hingga Kini Jadi Idola

Tahun 2015, jadi bukti sejarah suramnya perjuangan lahirnya KEK Mandalika. Bagaimana tidak dihadapan Jokowi saat persentase di Bandara, para investor mencemooh kan KEK jadi terwujud, dan sepakat global Hub KLU diutamakan, Namun Allah berkehendak lain KEK Mandalika kini jadi incaran investor

SAPARUDDIN

LOMBOK TENGAH

CEMOOHAN Tidak pernah terbayangkan puluhan tahun tanah negara yang terbentang dan terbengkalai di ujung selatan wilayah Lombok Tengah, mulai dari ujung selatan yakni di Kuta Kecamatan Pujut dan sekitarnya, kini menjadi salah satu destinasi wisata prioritas pemerintah.

Pasalnya diawal tahun 2015 silam, ketika pantai Kuta diubah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus(KEK) Mandalika dan masuk dalam daftar destinasi wisata prioritas pemerintah, saat persentase di Bandara yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo bersama puluhan Investor yang berasal dari Cina dan sejumlah negara lainnya. KEK Mandalika seolah olah jadi cemoohan para investor, sebab tak ada satupun yang membahas dan tertarik dengan keindahan pantai Kuta, kendati saat itu sudah di canangkan pemerintah menjadi KEK Mandalika.

Pengambilan nama Mandalika saat itu, di sesuaikan dengan legenda sejarah dan kepercayaan masyarakat, khususnya Lombok Tengah dan umumnya NTB. Dimana di pantai selatan ini dipercaya dulu ada seorang putri bernama Mandalika, yang menceburkan diri ke pantai dan setiap tahun diadakan acara gawe besar bau Nyale.

Saat persentase, semua para investor lebih banyak mengidolakan dan membahas potensi yang dimiliki Global Hub Kabupaten Lombok Utara.

Yang lebih miris dan menyedihkan, saat persentase hanya satu baliho atau spanduk yang ditempel di sekitar Bandara tentang gambaran keindahan KEK Mandalika. Namun saat itu, pihaknya diam dan bersabar, sembari berdoa kepada Allah agar Allah membukakan pintu hati bapak presiden, agar KEK Mandalika jadi prioritas, kendati tidak di sebut sebut oleh para investor.

Demikian curhat mantan Bupati Lombok Tengah dua periode, HM. Suhaili yang sekaligus pelopor dan  bapak pembangunan di Lombok Tengah, di kediamannya, Senin (14/12).

Seiring waktu berjalan lanjutnya, saat persentase bapak presiden bersama sang permaisurinya, sekitar jam 10 malam Jum'at, keinginan bapak presiden berubah dan usai solat subuh, rombongan bapak presiden langsung menuju ke pantai Kuta, yakni pertama ditapaki adalah gunung maresek. 

Di sana bapak presiden bersama permaisuri dan rombongan, seolah olah terkesima dengan pemandangan eksotis pantai Kuta. 

Spontan bapak presiden, langsung terfokus ingin melakukan penataan dan Global Hub Kabupaten Lombok Utara, saat di persentase bersama para investor, seolah olah tidak pernah di dengar.

Hal tersebut dibuktikan, kendati di cemooh kan, bapak presiden tetap terfokus ingin memajukan wisata pantai selatan.

"Inilah yang dinamakan hidayah Allah untuk masyarakat Lombok Tengah secara khusus, kendati di cemooh namun tetap bapak presiden kita memilih pantai kita harus di tata hingga kini menjadi destinasi wisata prioritas pemerintah," tuturnya.

Menapaki gunung maresek Kuta, pak Jokowi malah enggan turun sampai sarapan pagi pun, dilakukan diatas gunung maresek.

Setelah mengelilingi seluruh wilayah sekitar pantai Kuta, siangnya langsung ke masjid Agung Praya, untuk melaksanakan solat Jum'at dan sorenya barulah balik.

"Kepercayaan saya semakin kuat, kalau bapak presiden ingin membangun wisata selatan ternyata benar, semuanya jadi kenyataan sampai sekarang dan ini harus di syukuri oleh masyarakat Lombok Tengah pada khususnya," ungkapnya.

Selain itu, sejumlah pejabat terdekat bapak presiden, juga melaporkan kalau di sepanjang pantai Kuta, banyak tanah negara yang tidak dimanfaatkan, dan ini juga salah satu penyebab, bapak presiden ingin melakukan penataan.

Selang beberapa bulan, turunlah tim bersama ITDC selaku perusahaan plat merah melakukan pendataan mana tanah negara, yang dimanfaatkan oleh masyarakat, ada tanah negara yang dijadikan tanah adat, tempat bercocok tanam, berjualan dan yang lainnya. Sehingga berjumlah 109 hektar.

Dengan di kuasainya tanah negara berpuluh-puluh tahun, pihaknya menawarkan untuk diberikan tali asih dan pemerintah menyetujuinya.

Dan pemerintah juga tidak menginginkan hadirnya KEK Mandalika bagian dari penzaliman kepada masyarakat dan di sisi lain Alhamdulillah masyarakat yang menguasai tanah negara mengerti kalau itu bukan tanah mereka dan ikhlas menerima tali asih sesuai yang ditawarkan pemerintah dan Pemda Lombok Tengah saat itu.

"Di awal pertama pemerintah mengucurkan dana Rp 50 M," cetusnya.

Dana tersebut diberikan kepada masyarakat sebagai tali asih, atas jasa jasanya telah mengelola tanah tanah negara tersebut, dimana satu are di hargakan Rp 4,5.

"Saat pembagian tali asih, saya sih ngotot biar satu are di hitung Rp 10 juta, namun karena anggaran Rp 50 M. Sehingga satu are di hitung tali asih untuk masyarakat Rp 4, 5. Atau Rp 50 M di bagi 109," terangnya.

Mantan Bupati Loteng dua periode ini menambahkan, setelah pemetaan banyak perlawanan yang dilakukan masyarakat, terutama masyarakat yang bertahun tahun memanfaatkan tanah Negera di sepanjang pantai kuta.

Namun Alhamdulillah berkat kerjasama dengan seluruh pemangku adat, tokoh agama masyarakat, tokoh muda dan yang lainnya. Semua menerima dan KEK Mandalika kini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat, bukan hanya masyarakat NTB, namun sejumlah Provinsi lainnya juga sudah terdampak manfaat dari pembangunan KEK Mandalika ini.

"Terimakasih pak Joko Widodo, ketulusan dan keseriusan membangun di Lombok Tengah, kendati disetiap Pilpres di NTB selalu kalah telak, semoga apa yang dilakukan di NTB menjadi amal ibadah dan jasa jasamu akan selalu kami kenang," ujarnya dengan nada haru. (Bersambung)