Rasa Familiar Karyawan PDAM Terlihat, Setelah Gathering Digelar di Holiday Hotel Senggigi


LOTENG, (postkotantb.com)- Terhitung sejak tahun 2011 silam, karyawan dan kru Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) PT Arditha Rinjani Lombok Tengah (Loteng), tidak pernah melaksanakan gathering lagi. 

Hal tersebut memantik perhatian Direktur PDAM Praya, untuk melakukan gathering atau menjalin tali silaturahmi, membangun keakraban dan rasa kekeluargaan, antar karyawan dan kru PDAM. 

Kepada postkotantb.com PLT Direktur Utama PDAM Lombok Tengah, Bambang Supratomo, S.Ip mengatakan, menjalin kebersamaan dalam satu wadah atau perusahaan itu paling utama, pasalnya jika tidak ada kekompakan maka omong kosong bisa sukses, apalagi ini sekelas perusahaan yang membidangi air minum yang melayani ribuan orang.

"Apapun yang kita kerjakan, jika tanpa ada kekompakan kesuksesan itu jauh, makanya sejak dilantiknya sebagai direktur umum dan PLT direktur utama, saya terus melakukan pendataan apa yang harus dibenahi, sehingga setelah berdiskusi dengan para direktur, baru kami temukan langkah awal yang harus saya lakukan, termasuk program gathering guna menjalin keakraban dan bersilaturrahmi, dengan seluruh kru di 12 UPTD PDAM SE Loteng," Katanya panjang, Sabtu (18/12).

Kenapa ini penting lanjutnya, sebab sesuai informasi yang ia terima, sejak tahun 2011 gathering antar kru atau karyawan tidak pernah dilakukan. Padahal itu sangat penting sebagai wadah atau tempat menjalin keakraban dengan seluruh karyawan. 

"Kan lucu kalau sesama satu gerbong tidak kita saling kenal, oleh karenanya gathering ini salah satu langkah menyatukan persepsi membangun PDAM lebih baik dan menjalin keakraban dengan sesama karyawan," terangnya.

Dan yang paling menakjubkan dalam program gathering ini, rata rata semua karyawan banyak yang menyampaikan ide cemerlang yang sangat masuk akal. Sehingga semua ditampung untuk selanjutnya diupayakan demi penyempurnaan PDAM.

"Saya benar benar kagum dengan ide ide mereka, dan bagi saya itu sangat wajar mereka utarakan sebab selama ini tersumbat, disebabkan tidak pernah mengadakan gathering seperti ini kecuali tahun 2011 silam," paparnya.

Selain hal diatas, sesuai hasil temuan BPKP tahun 2020 kinerja di tubuh PDAM tidak sehat, bukan hanya soal keuangan, namun manajemennya juga kurang baik. Minim pelatihan, SOP belum maksimal dan yang lainnya. Sehingga lahirlah upaya pembenahan di internal, guna memenuhi beberapa kekurangan hasil temuan BPKP tersebut.

Diakuinya sebelumnya, di salah satu hotel di Loteng, sudah dilakukan rencana kerja dan keuangan, rencana strategis untuk memberikan pelayanan terbaik dan yang lainnya.

"Pemetaan dan pemantapan sudah kita lakukan sebelumnya, di program gathering ini kita sampaikan, biar semua karyawan tahu kondisi dan langkah yang akan kita lakukan, termasuk kita sudah buka layanan keritikan melalui akun medsos baik FB ataupun Instagram," ujarnya. "Yang jelas kita kerja dengan memakai super tim,"sambungnya.

Semoga apa yang telah dilakukan dan dibedah secara maraton ini, nantinya membawa manfaat demi kesembuhan PDAM dan terciptanya kepuasan dan pelayanan prima untuk pelanggan dan karyawan.

Sementara itu direktur Tekhnisi Lalu Sukemi Adiantara mengaku, pada giat gathering kali ini  Epesiannsi produksi, belum maksimal. Dan itu disebabkan air baku belum maksimal dan stabil.

"Perubahan lingkungan adalah faktor utama, sehingga kita belum maksimal memberikan pelayanan terbaik," katanya.

Misalnya saja ketika, musim hujan air PDAM kadang warnanya berubah tentu secara kualitas dipertanyakan, termasuk di musim kemarau debit air menyusut drastis.

Beberapa kekurangan tersebut, tentunya bermuara dari faktor lingkungan dan kurangnya memahami tekhnologi. " faktor lingkungan adalah tanggung jawab bersama, sedangkan penguasaan tekhnologi, kita upayakan di masing masing UPTD ada ahli Tekhnologi yang akan kita tempatkan," ungkapnya.

Sedangkan di musim kemarau ini, terjadinya perubahan air baku yang keruh, PDAM sedang mengupayakan memanfaatkan alat yang ada dengan mengoptimalisasi ground keptring bangunan penangkap pengolahan air sederhana, dan alat itu sudah ada ditempatkan di masing masing bak penampung.

Kendati pihaknya akui, hal itu belum maksimal memaksimalkan mengubah warna air baku, namun paling tidak bisa dimanfaatkan.

"Mengimbangi dan membuat instalasi pengolahan air, kita butuh anggaran Rp 15 miliar, dengan kapasitas 25 ribu liter perdetik, namun jelas itu belum mampu kita penuhi, sehingga untuk sementara kita manfaatkan bahan yang ada sambil pelan pelan melakukan penataan lebih baik," ujarnya. (AP)