Sambut Investasi di NTB, UMMAT Bakal Buka Prodi Vokasi

Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Dr. H. Arsyad Abdul Gani, S. Pd., M. Pd.

POSTKOTANTB, Mataram-  Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Dr. H. Arsyad Abdul Gani, S. Pd., M. Pd., menyambut baik adanya wacana investasi di wilayah Provinsi NTB. Salah satunya seperti Food Estate.

Namun sebaliknya, program investasi ini menjadi tantangan bagi kampus swasta ternama di NTB ini. Terutama soal teknologi pertanian serta ketersediaan sumber daya manusia (SDM).

"Ini yang menjadi PR Buat kita di bidang pendidikan, bagaimana menyambut investasi dengan ketersediaan SDM yang memadai," ungkapnya usai pembukaan Kongres Ke III APTS-IPI, Senin (6/12).

Jika investasi itu terwujud, pihaknya berkomitmen akan membuka program studi (Prodi) baru, yakni Prodi Vokasi. Dia optimis dengan adanya prodi ini, UMMAT dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa, khususnya di dunia industri pertanian. Sehingga ke depan, UMMAT dapat melahirkan SDM yang berdaya saing.

Di sisi lain, Prodi Vokasi ini menjadi penyempurna terhadap dua prodi yang sudah ada. Antara lain, Teknolgi Pertanian dan Pengolahan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian (Faperta) UMMAT.

"Jadi kami tidak hanya memberikan teori. Tetapi mahasiswa harus memiliki keterampilan bekerja. Ini juga sesuai program utama pemerintah bahwa pendidikan vokasi itu harus diutamakan. Tahun ini untuk dua jurusan Fakultas Pertanian jumlah mahasiswanya sudah meningkat 2 kelas," bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertambun) NTB, Muh. Riadi, SP., M. Ec., Dev, mensupport rencana UMMAT untuk membuka Prodi Vokasi. Terlebih, kata Riadi, kampus itu lebih memprioritaskan praktik di lingkup industrialisasi pertanian dibanding hanya sekedar teori.

Menurutnya, hal demikian dapat memancing minat calon mahasiswa untuk memilih studi di sektor pertanian. Secara alamiah, sebut Riadi, semakin banyak peminat, maka kian bertambah SDM untuk sektor tersebut.

"Jadi karena ada praktik di sektor industri pertanian, memancing banyak minat untuk bertani dengan memanfaatkan teknologi. Mereka juga dapat menjadi motor penggerak, baik petani di sektor hulu maupun pengolahan baham baku di sektor hilirnya untuk menjadi nilai tambah," ujarnya.

Tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi. Pihaknya juga berharap para regenerasi yang melakukan budidaya di lahan pertanian di kampus ini, dapat menjadi petani yang modern, serta mumpuni dalam menyesuaikan jenis komoditas dengan kebutuhan pasar. Sehingga, meski lahan yang digarap sedikit, namun mampu menghasilkan keuntungan yang besar.

"Seperti petani di Bug-bug, Lingsar, Lombok Barat. Padahal luas lahan 20 are. Tapi Per satu kali tanam bisa menghasilkan puluhan juta. Jadi ini yang kita inginkan," tutupnya.(RIN)