Lombok Barat (postkotantb.com)- Niat tulus Kepala Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, Muhamad Hasyim, ST., untuk senantiasa berdampingan dengan masyarakat kian mengemuka.
Kendati hari libur, Kepala Desa bertubuh tegap ini tetap setia menghibahkan waktunya berpanas-panas dengan terik matahari, hanya untuk bergotong royong membangun rumah duka warga di Pura Dalem Tri Buana Dusun Lamper.
"Beginilah konsekuensi seorang pemimpin. Harus siap ketika warga membutuhkan," ungkap Hasyim, ditemui di sela-sela istirahat siangnya bersama warga, Kamis (18/05).
Ia mengaku, biaya pembangunan rumah kremasi ini bersumber dari dana aspirasi Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Dr. Ir. H Nanang Samodra, KA.,M. SC. Selain rumah kremasi, dana tersebut digunakan untuk menambah fasilitas berupa freezer (Pendingin). Sehingga menelan sekitar Rp 100 juta.
Di sisi lain, keberadaannya di lokasi kerja, sebagai upaya dalam rangka mempererat rasa kekeluargaan antar umat, demi terciptanya harmonisasi pemimpin dengan warga. "Sehingga rasa toleransi antar umat kian bertumbuh subur," imbuhnya.
Ini juga sesuai komitmennya ketika terpilih menjabat kepala desa. Kala itu di depan warga, dia mengucap bahwa pintu rumahnya terbuka 24 jam, untuk pelayanan masyarakat desa.
"Kalau kantor desa tutup, rumah saya selalu terbuka lebar untuk warga," ulasnya.
Kendati hari libur, Kepala Desa bertubuh tegap ini tetap setia menghibahkan waktunya berpanas-panas dengan terik matahari, hanya untuk bergotong royong membangun rumah duka warga di Pura Dalem Tri Buana Dusun Lamper.
"Beginilah konsekuensi seorang pemimpin. Harus siap ketika warga membutuhkan," ungkap Hasyim, ditemui di sela-sela istirahat siangnya bersama warga, Kamis (18/05).
Ia mengaku, biaya pembangunan rumah kremasi ini bersumber dari dana aspirasi Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Dr. Ir. H Nanang Samodra, KA.,M. SC. Selain rumah kremasi, dana tersebut digunakan untuk menambah fasilitas berupa freezer (Pendingin). Sehingga menelan sekitar Rp 100 juta.
Di sisi lain, keberadaannya di lokasi kerja, sebagai upaya dalam rangka mempererat rasa kekeluargaan antar umat, demi terciptanya harmonisasi pemimpin dengan warga. "Sehingga rasa toleransi antar umat kian bertumbuh subur," imbuhnya.
Ini juga sesuai komitmennya ketika terpilih menjabat kepala desa. Kala itu di depan warga, dia mengucap bahwa pintu rumahnya terbuka 24 jam, untuk pelayanan masyarakat desa.
"Kalau kantor desa tutup, rumah saya selalu terbuka lebar untuk warga," ulasnya.
![]() |
| Para ibu-ibu di Dusun Lamper, Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, yang ikut serta dan gotong royong menyiapkan makanan untuk pekerja di Pura Dalem.(Dok RIN) |
Selain gotong royong, keberadaannya di lokasi kerja, untuk memastikan proses pembangunannya tidak terkendala persoalan apapun. "Selain ikut kerja, tugas saya sebagai pelayan masyarakat itu mengawal agar pembangunannya berjalan dengan baik," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Lamper, I Wayan Edi Eka Saputra, menyampaikan apresiasi, serta ucapan terima kasih atas kesediaan kepala desanya mengawal proses pembangunan rumah duka Umat Hindu di dusun tersebut.
Menurutnya, pengorbanan itu sebagai wujud dari penghargaan, terhadap keanekaragaman di Desa Jagaraga. "Saya selaku perangkat desa mengucapkan terima kasih ke bapak kepala desa," ucap Eka.
Begitu pula dengan bantuan aspirasi dari DPR RI, ia mengaku sangat bersyukur. Karena dengan adanya rumah duka, warga dapat memusatkan proses kremasi jenazah di rumah itu. "Sebelumnya, warga melakukan kremasi di rumah masing-masing," ulasnya.
Senada disampaikan Komang Kari. Pria yang lama menjadi pengurus Pura Dalam ini menyebutkan, proses pembangunan rumah duka membutuhkan waktu dua bulan. "Keberadaan kepala desa mendorong semangat gotong royong warga," sanjungnya.
Kebahagian pun terpancar pula dari istri Komang Kari, Niluh Kirti. Menurutnya, rumah duka itu ke depannya sangat bermanfaat bagi generasi- generasi berikutnya. "Saya sebagai ibu rumah tangga sangat senang sekali. Nanti jenazah bisa kita tinggal kerja, di rumah duka ini sudah ada yang menjaga," tutupnya.(RIN)
Sementara itu, Kepala Dusun Lamper, I Wayan Edi Eka Saputra, menyampaikan apresiasi, serta ucapan terima kasih atas kesediaan kepala desanya mengawal proses pembangunan rumah duka Umat Hindu di dusun tersebut.
Menurutnya, pengorbanan itu sebagai wujud dari penghargaan, terhadap keanekaragaman di Desa Jagaraga. "Saya selaku perangkat desa mengucapkan terima kasih ke bapak kepala desa," ucap Eka.
Begitu pula dengan bantuan aspirasi dari DPR RI, ia mengaku sangat bersyukur. Karena dengan adanya rumah duka, warga dapat memusatkan proses kremasi jenazah di rumah itu. "Sebelumnya, warga melakukan kremasi di rumah masing-masing," ulasnya.
Senada disampaikan Komang Kari. Pria yang lama menjadi pengurus Pura Dalam ini menyebutkan, proses pembangunan rumah duka membutuhkan waktu dua bulan. "Keberadaan kepala desa mendorong semangat gotong royong warga," sanjungnya.
Kebahagian pun terpancar pula dari istri Komang Kari, Niluh Kirti. Menurutnya, rumah duka itu ke depannya sangat bermanfaat bagi generasi- generasi berikutnya. "Saya sebagai ibu rumah tangga sangat senang sekali. Nanti jenazah bisa kita tinggal kerja, di rumah duka ini sudah ada yang menjaga," tutupnya.(RIN)



0Komentar