Kepala SLBN 1 Lombok Barat, Baiq Minarni Wati.

Lombok Barat (postkotantb.com)- Belum genap dua hari pembukaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Lombok Barat diramaikan oleh para pendaftar. Terutama yang mendaftarkan anaknya melalui handphone.

"Saya terus terang baru kemarin membuka pendaftaran, sudah banyak pihak yang ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah ini. Banyak juga yang saya terima via handphone," ungkap Kepala SLBN 1 Lombok Barat, Baiq Minarni Wati, Selasa (20/06).

Baiq Inar, sapaan akrab wanita ini, mengaku, bahwa jauh hari sebelumnya, pihak sekolah sudah merancang dengan baik agar minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SLBN 1 Lombok Barat meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Terlebih lagi, dengan banyaknya penghargaan serta rentetan prestasi yang dikantongi sekolah ini dalam setiap perlombaan, kian menggejot keinginan masyarakat Lombok Barat.

Seperti Penghargaan AISO 2023. SLBN 1 Lombok Barat berhasil memborong tiga penghargaan untuk tiga kategori. Diantaranya Pelaksanaan IT terbaik, Pelaksanaan Vokasi Terkreatif dan Video Profil Sekolah terbaik.

Begitu juga dengan LKS SLB tingkat Provinsi NTB yang diadakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB di Kabupaten Lombok Timur.  Dari lima siswa utusan SLBN 1 Lombok Barat, dua siswa diantaranya berhasil menembus juara 1 di mata lomba Kriya Kayu dan Kecantikan. Sedangkan tiga lainnya berhasil meraih juara 3.

"Ini juga berkat inovasi, serta kreatifitas yang di munculkan Dikbud NTB, semenjak pra PPDB, sangat luar biasa untuk menarik minat masyarakat," puji Baiq Inar.

Kendati demikian, dirinya mengaku was-was dengan peningkatan jumlah pendaftar. Sebab, hal ini tidak sebanding dengan jumlah siswa dan dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap layanan pihak sekolah.

Saat ini saja, jumlah siswa baik tingkat SD hingga SMA di SLBN 1 Lombok Barat,  secara keseluruhan sebanyak 160 orang. Sedangkan Jumlah guru yang berstatus PNS hanya 19 orang. Selebihnya masih berstatus honor.

"Karena idealnya, perjelas itu 1 banding 5 untuk SD, untuk SMA nya 1 banding 8. Tapi kalau sudah lebih dari itu, sudah tidak memadai," keluhnya.

"Memang ada beberapa guru honorer yang lulus dan diangkat menjadi tenaga P3K. Tapi pindah karena kelulusannya di sekolah lain. Mudah-mudahan guru-guru itu bisa kembali untuk membantu kami di sini," harapnya.(RIN)