Breaking News

Peserta Diskusi Menawarkan Resolusi Pada Acara Gendu Rasa 2024

 


Lombok Utara (postkotantb.com)  - Sejak Tahun 2011 lebih kurang 12 Tahun kami mengikuti Gendu Rasa tetapi sampai tahun ini untuk membangun Indentitas dan jati diri masyarakat Dayan Gunung yang sudah ada di depan hidung kita belum
bisa kita wujudkan.

Sebagai output Gendu Rasa yang konon merupakan Agenda Tahunan berkumpulnya perwakilan besar tokoh tokoh terutama pemerhati budaya spesipik untuk mengembangkan kebudayaan Tioq Tata Tunaq. ucap Sekretaris Majelis Keramat Adat (MKD) KLU, Putrawadi.

Artinya kalau sudah Tioq/ Tumbuh harus di Tata/diatur dan Tunag /disayang untuk itu Putrawadi  memberikan Resolusi sebagai berikutnya :

1. Kata Gensu tidak ditemukan dimasyarakat Dayan Gunung maupun pada KBBI. Kita hanya menemukan
ditengah masayakat Dayan Gunung yaitu kata Genu (Genu artinya kumpul) ditambah kata Rasa maka
Genu Rasa yang mempunyai substansi masyarakat dayan gunung berkumpul / Genu untuk mengungkapkan perasaanya kepada pemerintahnya untuk menyampaikan Identitas yang mempunyai jati
diri jujur, tindih, polos dan ijaq wrang untuk kesejahteraan seluruh masayarakat dayan gunung dan
kemungkinan kata Gendu berasal berasal dari luar dayan gunung yang sangat merusak hazanah kosa kata
masyarakat dayan gunung maka solusinya untuk Gendu Rasa tahun 2025 kembali kepada prasa kata
Genu Rasa.

2. Kamus Bahasa Dayan Gunung hampir 10 Tahun tercetak oleh Akademisi tetapi banyak mengadopsi kata kata Bahasa dari Lombok Barat dan Lombok Tengah sehingga tidak bisa dipublikasikan di Dayan Gunung
karena akan merusak Bahasa Masyarakat Dayan Gunung, maka solusinya harus segera di Revisi dengan logar, kuto kute dan harus segera diupayakan untuk diterbitkan dengan melibatkan budayawan dan Ahli yang ada di Dayan Gunung serta diajarkan kepada Generasi muda, karena menurut data di Kantor Kesbangpol NTB sudah 14 Bahasa Daerah hilang di Indonesia.

3. Gapura /Gerbang Dayan Gunung sudah diseminarkan dan sudah dilombakan hampir puluhan Tahun juga tetapi sampai Tahun ini belum Nampak wujudnya, solusinya segera diwujudkan dengan gambar Masjid
kuno atau Berugak Sekepat dengan disain dipecah 2 (dua) itu yang dibangun dikanan dan kiri jalan.

4. Muatan Lokal tentang Tata Krama Ngeraos, Tata Krama Berpakaian, Tata Krama Berprilaku, Aksara, Tembang dan Hukum Adat belum diajarkan pada Generasi Dayan Gunung, apa kita ingin seperti di Jakarta hampĂ­r tiap hari Pemudanya tawuran dengan membawa senjata tajam dan sudah terjadi dibeberapa tempat di Pulau Lombok bahkan oleh orang tua yang tidak Tau Adat dan Tata Krama yang merupakan jati diri masyarakat Dayan Gunung.

Solusinya harus Segera dikerjakan dengan membuat buku bahan ajar karena materi RPP sudah kami sampaikan secara resminya kepada Kabid Kebudayaan Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara dan Dikbud. Provisi NTB.

5. Pakaian Adat Dayan Gunung juga belum ada kesepakatan pakaian Adat yang seperti apa yang kita pergunakan maka kita lihat orang memakai celana jean memongot, kita lihat juga memakai batik bercota
tetapi memakai kiprah. Solusinya segera sepakat pakaian adat yang kita pergunakan.

6. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lombok Utara belum dipublikasikan sehingga belum diketahui oleh
publik Dayan Gunung. Solusinya segera Publikasikan.

7. Berugak Sekenem disetiap kantor OPD. sebagai Solusi Indentitas jati diri Dayan Gunung.


8. Dewan Kebudayaan, ini mungkin yang menjadi benteng kita untuk membangun Identitas dan Jati Diri
Masyarakat Dayan Gunung yang Selaras Angen Satunggal Kayun untuk segera dibentuk dengan
melibatkan budayawan Dayan Gunung.

Berbeda dengan Camat Kayangan, Siti Ruqa'iyah, SPt, menilik soal joget jogetan dengan berpakaian adat serta di iring Gamelan yang merupakan kesenian sasak Lombok. Siti Ruqaiya khawatir dengan sikap anak anak dan ABG yang sangat mudah meniru hal hal yang bertentangan dengan adat budaya serta Agama kita, ucapnya.
Pada kontek ini, solusi menurut Ibu Camat Kayangan adalah segera dibuatkan aturan larangan adanya kesenian joget joget baik di rumah maupun di jalan.

Terkait adat dan budaya yang sebenarnya, sepatutnya dimasukan dalam kurikulum di sekolah, agar anak anak kita tidak terkontaminasi dengan joget joget ala sasak saai ini. Sekaligus dapat mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur. harapnya. (@ng)

0 Komentar

Posting Komentar
DISCLAIMER: POST KOTA NTB menggunakan iklan pihak ketiga ADSTERRA. Kami tidak bisa sepenuhnya mengatur tayangan iklan. Jika muncul tayangan iklan yang dianggap melanggar ketentuan, harap hubungi kami untuk kami tindaklanjuti.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close