Syukuran Tokoh Lintas Agama di Pamotan
Para tokoh lintas agama tengah melaksanakan syukuran atas dibangunkannya Hunian Sementara (Huntara) untuk warga Pamotan, Rabu (16/08/2025) dengan cara begibung (makan bersama,red).


Mataram (postkotantb.com)- Tokoh lintas agama terdiri dari Hindu, Islam, dan Kristen, mengadakan syukuran atas hunian sementara (Huntara) yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram untuk warga lingkungan Pamotan, Kelurahan Mayura, yang menjadi korban banjir kali Ancar pada 6 Juli lalu. 

Acara syukuran berlangsung sederhana nan khidmat di lokasi Huntara, Rabu (20/08/2025) sore. Syukuran ini merupakan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) RI di Lingkungan Pamotan. Menurut agenda, hunian tersebut akan diserah terimakan pada Jumat pekan ini. 

Hadir dalam kesempatan tersebut, perwakilan tokoh umat Hindu Lombok, Guru Mangku Gede Wenten bersama putranya, perwakilan tokoh Umat muslim, Ustaz Baihaqi Sya'bani, tokoh Gereja Injili Baptis Indonesia (PB), Pendeta Suardi, Lurah diwakili sekretarisnya bersama rombongan, dan seluruh warga Pamotan serta para penerima manfaat.

Huntara ini dibangun sebanyak 15 unit dengan posisi fondasi yang kini semakin ditinggikan sekitar 2 meter. Tokoh Umat Hindu Lombok, Guru Mangku Gede Wenten, pun menyampaikan rasa syukur serta apresiasi terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram atas hunian tersebut.

"Peristiwa banjir di Bulan Juli 2025 itu sangat tragis dan menyedihkan. Saya ucapkan terima kasih, pasca kejadian, Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana langsung berkomitmen untuk membangun Huntara,"pujinya.

Ia mengungkapkan bahwa warga Pamotan tinggal di Bantaran Kali Ancar sejak 1991. Selama bermukim di lokasi tersebut, warga bisa membangun kediaman yang layak untuk dihuni bersama keluarga, serta menciptakan suasana sosial yang harmonis, kental dengan Nuansa Bhineka Tunggal Ika. 

Semenjak peristiwa banjir bandang, rumah warga rusak parah bahkan amblas tersapu arus banjir. Meskipun tak ada korban jiwa, warga mengalami kerugian yang besar dan terpaksa harus mengungsi di kontrakan milik Gereja Injili Baptis Indonesia. 

Kondisi ini memantik kepedulian banyak pihak. Pasca peristiwa, bantuan kemanusiaan dari banyak pihak untuk para korban selama berada di pengungsian mengalir deras. Gede Wenten menilai bahwa hal ini sebagai wujud dari rasa peduli terhadap sesama, tanpa mengenal latar belakang agama. 

"Ini bagian dari kebhinekaan, jangan sampai perbedaan keyakinan, rasa kemanusiaan diabaikan. Rasa toleransi jangan hanya ucapan, tapi bagaimana implementasinya," tegasnya.

Pujian senada disampaikan Ustaz Baihaqi Sya'bani. Kendati demikian, dia meminta agar pemerintah baik kota maupun provinsi untuk kembali memberikan atensi soal izin dan status lahan di bantaran kali Ancar. Karena selama bermukim, nasib warga menggantung dan sangat sulit mendapatkan bantuan fasilitas pemerintah.

"Kawasan ini sejak dulu tidak ada izinnya dan sudah lama diperjuangkan belum berhasil. Meski pun tidak disuruh pergi, tapi tidak dapat izin bahkan untuk pemasangan meter  listrik, dan air PDAM. Jadi mereka hanya bisa numpang di tempat lain," keluhnya.

"Kondisi Huntara sangat luar biasa. Tapi kalau suatu saat pemerintah mau kasih kesempatan untuk disertifikat hak milik, minimal sertifikat Hak Guna pakai, kami sangat bersyukur sekali," ungkapnya.

Sementara itu, tokoh Gereja Injili Baptis Indonesia (PB), Pendeta Suardi dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Pemkot Mataram membangun Huntara untuk para korban banjir. 

Menurutnya, bantuan tersebut murni atas dasar rasa kemanusiaan, dan jauh kaitannya dengan hal-hal yang sifatnya politik. Dia berharap bantuan tersebut dapat mendorong para korban untuk kembali memulai dan  membangun kehidupannya.

"Saya ucapkan selamat kepada keluarga baru saya di lingkungan Pamotan. Harapan kami, mereka bisa sejahtera, serta mendapatkan pekerjaan lebih layak. Sehingga pendidikan anak-anaknya bisa lebih baik lagi," harapnya.


Pewarta: Syafrin Salam.