Catatan Jurnalistik Didin Maninggara, Jurnalis Lintas Zaman
Pada suatu wawancara khusus, Rabu, 7 September 2011. Saya menanyakan kepada Surya Paloh mengenai kekalahannya dalam Munas Partai Golkar di Riau. Dengan diselingi suara musik di kantor redaksi Media Indonesia di Jalan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Paloh menjawab santai.
"Peristiwa itu nggak usah dianalisa, tetapi cukup dengan menunjukkan sikap," ungkapnya santai, mengawali wawancara.
Saya setuju, bahkan sepemahaman dengan penegasan itu. Namun, belum sepenuhnya jawaban yang saya harapkan dari seorang Paloh yang pernah menjadi wartawan. Yang saya minta dari Paloh adalah analisis. Namun, jawaban yang disampaikan adalah sikap.
Bagi saya sebagai jurnalis, tanggapan analisis itu perlu. Setidaknya, dalam konteks pemikiran politik. Namun, saya pun baru menyadari bahwa ketika saya mewawancarainya, Paloh baru saja selesai mendeklarasikan pengunduran diri dari Golkar. Pengunduran dirinya dalam momentum yang tepat. Yakni, pada Rabu, 7 September 2011 bersamaan ia mendirikan Ormas Nasional Demokrat (NasDem), sekaligus menjadi ketuanya.
Saat itu, saya hadir meliput sebagai wartawan dan Wakil Pemimpin Redaksi Koran Senator Indonesia. Dengan orasi menggebu-gebu, Surya Paloh mengatakan peresmian pengunduran dirinya tersebut termasuk salah satu upaya untuk menjawab berbagai polemik mengenai status dirinya sebagai Ketum Nasdem yang dipertanyakan partai Golkar. "Saya secara resmi menyatakan keluar dari Partai Golkar. Dan inilah ketetapan hati saya sebagai bagian dari kaum pergerakan sekaligus Ketua Umum Nasional Demokrat, karena tidak ada satu orang pun, kelompok mana pun, yang bisa menghambat gerakan perubahan yang saya gelorakan lewat Panji Restorasi Indonesia," ujar dia saat melakukan konferensi pers di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, Rabu itu.
Paloh mengaku, dirinya mengalami kebimbangan saat mengambil langkah pengunduran diri tersebut. Tentu saja, saya memaklumi. Paloh sudah berkiprah selama 43 tahun di Partai Golkar. Maka, pengunduran dirinya merupakan titik kulminasi. Bahkan, anti-klimaks, karena ide-ide yang dia usung tidak memperoleh ruang di Partai Golkar.
"Inilah yang menjadi perenungan, pandangan, serta pendirian saya sebagai salah satu orang yang sudah berkiprah dari jenjang paling bawah sampai posisi Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar," kata Paloh.
Salah satu pertimbangan pengunduran dirinya adalah karena ia menilai Partai Golkar tidak mampu berinteraksi dengan satu keinginan yang timbul dalam masyarakat. Hal itu, dapat dilihat dari angka pemilih Partai Golkar pada Pemilihan Umum, dari 24 persen pada 1999 menurun hingga 14 persen di Pemilu terakhir pada 2009.
"Ini merupakan sebuah tren penurunan. Ada apa, apa yang salah? Ada yang kurang dalam Golkar. Tentu wajar apabila ini merupakan sebuah perenungan bagi kader-kader sejati Golkar," jelas Paloh.
Ketika saya tanya, banyak kalangan menilai posisinya di Partai Golkar dan Ormas Nasdem merupakan pemikiran yang tidak benar. Paloh menegaskan, ini sikap. Menurutnya, selama ini dirinya hanya aktif dalam ormas Nasdem, bukan dalam partai Nasdem yang beberapa waktu lalu baru dibentuk sebagai partai politik.
"Saya memahami etika itu. Kalau saja ormas yang dianut menjadi anggota partai tertentu, itu adalah suatu sikap yang salah dan bodoh. Tetapi, kalau itu adalah kader Golkar yang ada di organisasi masyarakat, pertanyaan selanjutnuya adalah siapa yang lebih bodoh," kata dia.
Paloh memutuskan keluar dari Golkar setelah mendirikan organisasi massa Nasdem dan membaktikan diri untuk partai yang telah digelutinya selama 43 tahun itu. Paloh bergabung Golkar sejak Pemilu 1971 ketika dia masih berusia 19 tahun. Ketika itu dia dicalonkan menjadi anggota DPRD Kotamadya Medan.
Kalah dari Ical
Surya Paloh pernah bertarung dengan Aburizal Bakrie (Ical) di Kongres Golkar di Riau pada Oktober 2009. Politisi lahir di Banda Aceh pada 16 Juli 1951 itu, akhirnya harus mengakui kemenangan Ical meraih 296 suara. Sedangkan Paloh hanya mendapatkan 240 suara. Ical kemudian dinobatkan menjadi Ketua Umum Partai Golkar, menggantikan Jusuf Kalla (JK).
Ical sebenarnya sempat berniat merangkul Paloh dan berbagi posisi kepengurusan di Golkar. Namun, kubu Paloh menolak dengan tegas. Sejumlah pendukung Surya Paloh yang sempat di kepengurusan Golkar di era Jusuf Kalla (JK) pun harus hengkang dari kepengurusan pusat Golkar. Seperti antara lain, Ferry Mursyidan Baldan, Jeffry Geovani. Paloh pun mendirikan ormas Nasional Demokrat (NasDem). Paloh bahkan menggandeng tokoh sekaliber Sultan Hamengkubuwono X. Tokoh lintas parpol pun diundang Paloh ke ormas bentukannya.
Di awal berdirinya ormas NasDem, Paloh menegaskan ormas tersebut tidak terkait dengan panggung politik. Namun menjelang pendaftaran parpol peserta Pemilu 2014 di KPU digelar, Partai NasDem dideklarasikan. Dengan logo yang hampir sama dengan ormas NasDem, Partai NasDem resmi dideklarasikan pada Selasa 26 Juli 2011, meskipun pada deklarasi ini juga tidak dihadiri oleh para pendiri ormas Nasdem seperti Surya Paloh. Ketua Umum Partai NasDem pun bukan Paloh, melainkan Patrice Rio Capella.
Setelah NasDem resmi dideklarasikan sebagai parpol, Sekjen Golkar Idrus Marham melarang semua anggota Golkar bergabung di ormas NasDem. Sultan HB X pun mundur dari jabatan penting sebagai dewan pembina ormas NasDem. Golkar sempat khawatir Partai NasDem akan mengambil infrastruktur kepengurusan Golkar di daerah.
Popularitas Partai NasDem yang didongkrak oleh iklan besar-besaran pun terus naik. Hary Tanoesoedibjo kemudian memutuskan berpolitik dan menempati posisi strategis sebagai Ketua Dewan Pakar Partai NasDem. Paloh kemudian mengambil posisi Ketua Majelis Nasional Partai NasDem. Hary Tanoe dan Paloh pun kemudian dikenal sebagai dua kekuatan yang mendongkrak popularitas Partai NasDem. Di sejumlah survei terakhir, Partai NasDem telah masuk 5 besar parpol.
Hingga kemudian Partai NasDem diumumkan sebagai satu dari 10 parpol peserta Pemilu 2014 pada 8 Januari 2013 lalu. Internal Partai NasDem pun mulai bergejolak. Surya Paloh telah menegaskan akan adanya Kongres Partai NasDem. Surya Paloh pun menegaskan kesiapannya maju sebagai Ketum Partai NasDem.
"Toh partai ini saya yang ikut melahirkan, saya yang ikut membesarkan. Kesiapan itu sudah pasti ada, ada di dalam jiwa, semagat dan spirit saya," tegas Paloh yang mengenakan setelah jas warna hitam ini saat ditanya kesiapannya menjadi Ketum Partai NasDem.
Namun Surya Paloh menuturkan belum ada rencana mengambil alih Ketum Partai NasDem. Namun jika toh dia mengambil alih, ada satu target yang dia ingin kejar. "Bagaimanapun ini adalah tahapan yang harus dilalui, revitalisasi, penyempurnaan, dan penguatan harus dilakukan," tegas Paloh yang mengaku diminta banyak pengurus NasDem menggantikan Rio Capella menjadi Ketum Partai NasDem ini.
Lalu apa sebenarnya cita-cita besar Surya Paloh yang setelah gagal menjadi Ketua Umum Partai Golkar kemudian mendirikan Partai NasDem dan ketua umum-nya yang tak tergantikan.
Jadi capres? Yang jelas, bisa dilihat dari jejak politik Paloh. Ia dua kali Pilpres dukung Jokowi. Pada Pilpres 2024 dukung Anies Baswedan, dan mengucapkan selamat kepada Prabowo terpilih menjadi presiden.
Dari jejak politik itulah, semoga menjadi pelajaran dan pembelajaran politik berharga bagi kader pilihan Partai NasDem yang mengikuti Bimtek dan pendidikan politik di Jakarta secara bertahap dan berjenjang.***


0Komentar