Lombok Utara, (postkotantb.com) -- Panggung utama Festival Kayangan atau Gawe Beleq Kayangan 2025 di Lapangan Umum Kecamatan Kayangan pada Sabtu malam, 06 Desember 2025 M/14 Jumadil Akhir 1447 H, dibanjiri tepuk tangan meriah. Hal ini menyusul penampilan memukau dari para santriwati Pondok Pesantren Nurul Islam Kayangan yang sukses membawakan tarian khas daerah Aceh, "Tari Ratoh Jaroe".
Penampilan yang enerjik dan penuh makna ini menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian acara tahunan tersebut.
Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan para santriwati sebelum tampil, Ustaz Najamudin, S.Pd., selaku Pembina Organisasi Santri Intra Madrasah (OSIM) sekaligus pelatih dan koreografer tarian, mengungkapkan latar belakang pemilihan tarian Aceh tersebut.
"Kami sengaja memilih tarian ini untuk dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan dan solidaritas kepada saudara-saudara kita yang saat ini terdampak musibah banjir bandang (Galodo) dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera Utara," ujar Ustaz Najamudin.
Beliau menambahkan bahwa penampilan ini bukan sekadar hiburan semata, namun juga sebagai penggalangan dana dan dukungan moral. "Mudah-mudahan kami bisa menyumbangkan materi untuk kebutuhan mereka. Dari Nurul Islam Kayangan untuk Aceh," tegasnya penuh harap.
Ustaz Najamudin juga menyampaikan rasa empati yang mendalam terhadap nasib masyarakat Aceh yang tertimpa musibah, yang ia sebut sebagai ujian dari Allah Swt.
Ia mengingatkan kembali momen solidaritas di masa lalu, "Dahulu, ketika kita tertimpa musibah gempa pada tahun 2018, saudara-saudara kita di Aceh juga pernah membantu kita. Ini adalah momentum bagi kami untuk membalas kebaikan itu, meskipun hanya melalui sebuah persembahan budaya," pungkasnya.
Selain Pembina, perasaan bangga dan haru juga diungkapkan oleh salah satu peserta penari, Intan Lestari. Ia mengaku bangga bisa terlibat dalam aksi solidaritas melalui seni.
"Perasaan saya campur aduk, bangga karena bisa membawakan tarian yang begitu indah dan enerjik ini di depan banyak orang. Tapi juga terharu karena setiap hentakan dan gerakan yang kami lakukan adalah doa dan semangat untuk saudara-saudara kami di Aceh," kata Intan Lestari.
Intan juga menyampaikan pesan mendalam dari para santriwati. "Kami berharap, tarian ini bisa menyalurkan semangat dan ketabahan kepada korban bencana. Musibah ini adalah ujian dari Allah Swt. Pesan kami, jangan pernah patah semangat. Kami di sini, di Kayangan, selalu mendoakan agar musibah ini cepat berlalu, dan semua saudara kami diberikan kesabaran dan kekuatan untuk bangkit kembali. Kami ada untuk Aceh," tutupnya.
Terkait aksi solidaritas ini, Ustaz Sumawadi, S.Pd. selaku Pimpinan Yayasan Ponpes Nurul Islam Kayangan turut angkat bicara. Beliau menyatakan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif yang digagas oleh para santri dan pembina.
"Kami sangat mendukung kegiatan ini, bukan hanya sebagai ajang menampilkan bakat santri, tetapi yang utama adalah menanamkan nilai-nilai empati dan kepedulian sosial," ujar Ustaz Sumawadi. "Ini sejalan dengan visi yayasan untuk mencetak santri yang cerdas secara akademik dan agamis, serta memiliki kepekaan terhadap kondisi umat," imbuhnya.
Beliau menambahkan bahwa langkah solidaritas ini adalah cerminan dari ajaran Islam dan sejarah kebersamaan bangsa. "Kita ingat betul, ketika Kayangan diuji gempa 2018, saudara-saudara kita di Aceh menjadi yang terdepan membantu. Sudah selayaknya kita membalas kebaikan itu. Semoga persembahan dan sumbangan materi yang terkumpul bisa meringankan beban mereka," tutupnya.
Penampilan yang sukses memukau penonton ini tidak hanya menonjolkan aspek seni budaya, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan dan semangat kemanusiaan antar daerah di Indonesia. (@ng)




0 Komentar