Sumbawa Barat, (postkotantb.com) -
Sumber Daya Manusia (SDM) TRC Ambulans Kembali diperkuat dengan peningkatan kapasitas dokter melalui Pelatihan Advance Cardiac Life Support (ACLS). Dinas Kesehatan mengirim 10 dokter dan 1 perawat puskesmas di Sumbawa Barat untuk mengikuti pelatihan ACLS dari tanggal 1 – 7 Desember 2025 di Bapelkes Mataram Kemenkes RI. Pelatihan ini terasa Istimewa karena dipantau langsung perwakilan KOICA (Korea International Cooperation Agency).

Peningkatan kompetensi tenaga dokter TRC Ambulans menjadi perhatian Bupati Sumbawa Barat melalui Dinas Kesehatan dengan meningkatkan kehandalan dan ketepatan serta kecepatan medis dalam memberikan tatalaksana kedaruratan medis. Penanganan  yang tepat akan meningkatkan probability keselamatan dan kesembuhan pasien.

Pelatihan ACLS bagi dokter bukan hanya penting, tetapi merupakan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, menurunkan angka kematian akibat henti jantung mendadak, serta memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi pasien dengan  kegawatdaruratan kardiovaskular. 

Kepala Dinas Kesehatan, dr. Carlof, M.MRS dalam arahannya menyampaikan bahwa setiap dokter diharapkan mengikuti dan memperbarui kompetensi tentang tatalaksana kegawatdaruratan jantung secara berkala sesuai perkembangan ilmu dan teknologi medis. Kasus serangan jantung di masyarakat  cenderung meningkat. Pasien kemungkinan dapat diselamatkan jika dokter mampu memberikan pertolongan yang tepat dan cepat. 

Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia hingga saat ini. Berdasarkan data terbaru dari World Health Organization (WHO), diperkirakan pada tahun 2023 lebih dari 18 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit kardiovaskular, yang mencakup sekitar 32 persen dari seluruh kematian global. Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan data tahun 2004, di mana tercatat 17,1 juta kematian (29,1 persen dari total kematian) disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. WHO juga memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, jumlah kematian akibat penyakit ini dapat mencapai 23,6 juta jiwa per tahun, dengan kawasan Asia Tenggara – termasuk Indonesia – menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan tajam angka kematian.

Salah satu manifestasi komplikasi penyakit jantung yang paling fatal adalah henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest /SCA). Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit jantung pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 1,5 persen, sementara prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan mencapai 1,5 persen dan berdasarkan gejala sebesar 2,0 persen. Meski angka kejadian henti jantung mendadak secara nasional belum terdokumentasi secara pasti, peningkatan kasus penyakit jantung dipastikan turut meningkatkan risiko kejadian henti jantung mendadak di masyarakat.

Sebagian besar kasus henti jantung mendadak yang terdokumentasi menunjukkan irama jantung berupa ventricular fibrillation (VF), yang memerlukan penanganan segera berupa bantuan hidup dasar dan defibrilasi. Penelitian menunjukkan bahwa peluang keberhasilan resusitasi menurun 7-10 persen setiap menit jika defibrilasi tidak segera dilakukan. Oleh karena itu, tindakan bantuan hidup jantung dasar (Basic Life Support/BLS) dan ketersediaan automated external defibrillator (AED) di fasilitas umum menjadi sangat penting untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien henti jantung mendadak.

Pelatihan ACLS (Advanced Cardiac Life Support) berdampak besar pada pelayanan kesehatan dengan  melalui peningkatan meningkatkan keselamatan pasien, menurunkan angka kematian akibat henti jantung, dan memperbaiki kualitas penanganan kegawatdaruratan kardiovaskular  kompetensi klinis, kemampuan manajemen jalan napas lanjutan, interpretasi aritmia, dan intervensi farmakologis yang tepat, yang pada akhirnya meningkatkan peluang kelangsungan hidup pasien secara signifikan.(ADV)