Breaking News

Hendrawan : Lombok Barat Bergerak Maju, Tapi Harus Bertanggung Jawab Pada Kasus Stunting dan TBC

 

Hendrawan : Lombok Barat Bergerak Maju, Tapi Harus Bertanggung Jawab Pada Kasus Stunting dan TBC
Hendrawan aktivis Mahasisiwa Lombok Barat. Foto Istimewa



Lombok Barat, (postkotantb.com) - Ditengah upaya Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini bergerak maju.Suara Mahasiswa Untuk Demokrasi Rakyat NTB menyoroti gemuruh pembangunan dan janji-janji kesejahteraan yang masih bersifat kontradiktif.

Lombok Barat ternyata masih  dihadapkan pada kenyataan yang pahit.Terdapat temuan 125 anak stunting terdeteksi positif TBC dari 1.000 anak yang disaring pada tahap awal. Angka ini bukan sekadar statistik.Ini adalah alarm keras yang menggetarkan nurani kemanusiaan seluruh masyarakat NTB.

Demikian disuarakan Hendrawan Salah seorang Ativis Mahasiswa di Lombok Barat kepada media ini, Sabtu (13/12/2025).

Menurut data yang diketahui Hendrawan,dengan populasi sekitar 5.000 anak stunting,temuan awal tersebut mengindikasikan prevalensi lebih dari 10 persen angka yang mencerminkan kedaruratan kesehatan masyarakat dan menunjukkan hubungan kuat antara gizi buruk, kemiskinan struktural, serta kerentanan terhadap penyakit menular seperti TBC.

Kasus tersebut,diklaim,tersebar merata di seluruh kecamatan di Lombok Barat. Menandakan bahwa persoalan ini bukan insiden lokal, melainkan kegagalan sistemik dalam manajemen kesehatan publik.

Suara mahasiswa menggema: jesehatan rakyat bukan komoditas politik nahasiswa sebagai jantung moral perubahan kembali menyuarakan ultimatum pedasnya.

“Kesehatan anak-anak Lombok Barat bukan angka yang boleh dinegosiasikan. Ini bukan sekadar kelalaian birokratis; ini adalah soal masa depan bangsa! Siapa pun yang tidak mampu memimpin sektor kesehatan dengan integritas dan profesionalisme harus bertanggung jawab,"tegasnya.

Kritik keras tersebut mengalir deras karena masyarakat menilai bahwa penanganan stunting dan TBC tidak boleh ditangani secara lamban, apalagi terabaikan. Kegagalan dalam pencegahan dan deteksi dini adalah kegagalan dalam melindungi generasi masa depan Lombok Barat.

Kepada Bupati LAZ, Mahasiswa dan masyarakat mendorong untuk mengambil langkah tegas. Mereka menilai perlu adanya evaluasi mendalam terhadap kinerja jajaran Dinas Kesehatan.Termasuk seruan agar kepala dinas dicopot dari jabatannya apabila terbukti tidak mampu menjalankan amanah besar dalam mengelola kesehatan masyarakat.

Seruan ini bukan untuk menciptakan kegaduhan, melainkan bagian dari checks and balances dalam sistem demokrasi lokal. Evaluasi kinerja pejabat publik adalah hal wajar, terlebih ketika menyangkut nasib ribuan anak yang rentan.

Namun, tentu saja keputusan final tetap berada di tangan Bupati, berdasarkan penilaian objektif, audit profesional, dan pertimbangan kepentingan rakyat luas.

Menuju Kemaslahatan Lombok Barat: Jalan Panjang yang harus ditempuh,
Narasi ini bukan semata mata kritik dan Ini adalah seruan untuk perubahan struktural:

1. Penguatan skrining dan deteksi dini TBC pada anak stunting
Program skrining harus diperluas hingga mencakup seluruh anak stunting di Lombok Barat, bukan hanya 1.000 sampel awal.

2. Intervensi gizi terintegrasi
Stunting harus ditangani sejak hulu: peningkatan pangan bergizi, edukasi keluarga, akses layanan kesehatan primer, dan pemantauan tumbuh kembang.

3. Reformasi manajemen kesehatan daerah
Transparansi data, percepatan layanan, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan harus menjadi prioritas.

4. Kolaborasi lintas sektor
Melibatkan tokoh masyarakat, akademisi, organisasi pemuda, dan lembaga keagamaan untuk memastikan semua pihak bergerak bersama.

5. Komitmen politik yang jelas dan terukur
Pemerintah daerah harus menunjukkan bahwa kesehatan rakyat adalah prioritas utama, bukan sekadar dokumen rencana kerja tahunan.

Sebagai penutup suara aspirasinya, Lombok Barat Harus Bangkit.Temuan 125 anak stunting yang positif TBC adalah tamparan keras bagi semua pihak. Ini adalah panggilan moral bahwa kesehatan masyarakat bukan sekadar angka, melainkan cermin martabat suatu daerah.

Mahasiswa, rakyat, tokoh masyarakat, dan pemerintah harus bersatu untuk memastikan bahwa tragedi ini tidak berulang bahwa Lombok Barat mampu bangkit, lebih transparan, lebih sehat, lebih manusiawi.

“Kemaslahatan Lombok Barat adalah tanggung jawab kolektif, ketika satu anak sakit, seluruh daerah sedang sakit," tandasnya. (jeti)

0 Komentar

Posting Komentar

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close