Mataram, (postkotantb.com) - Katarsis diibaratkan sebagai cerobong asap untuk merilis emosi. Milinial dan Gen Z yang kurang paham cara penyaluran stres yang benar, biasanya hanya cerita tanpa tahu cara cerita yang tepat. Tidak mendapatkan manfaat dari cerita yang dilakukan. 

Komunitas kampus indi menghadirkan Fariz Akromy, seorang sarjana psykolog dalam sharing santai yang diselenggarakan pada jum'at 5 Desember 2025 di Artcaffelgo Mataram. 
"kita perlu memahami metode katarsis yang benar, cara mengenali emosi yang benar. Selama ini hanya mengenali emosi sedih dan senang padahal ada emosi jijik dan yang lain" ujar Ais panggilan akrab narasumber Jumat (05/12/2025). 

Kelelahan ekstrim adalah salah satu alarm terkait emosi dalam diri. Kelelahan ekstrim adalah tanda bahwa seseorang terlalu banyak menekan emosi dan hal itu butuh energi yang besar. "Bayangkan kamu sedang menahan bola pantai didalam air agar tidak muncul ke permukaan, itu melelahkan, energimu habis bukan untuk bekerja tapi untuk 'berperang' melawan diri sendiri" jelas Ais. 

Diantara cara yang tepat adalah pilih pendengar yang tepat. Ais memaparkan "tidak semua orang bisa menjadi tempat katarsis, salah memilih pendengar justru bisa menambah luka. Cari yang memiliki empati tinggi, seseorang yang mau mendengar tanpa memotong pembicaraan". 

Langkah berikutnya, fokus pada rasa bukan hanya kronologi. Penting untuk tidak menahan ekspresi fisik. "Prinsip katarsis adalah penyaluran. Jika saat bercerita sura kamu bergetar, ingin menangis atau perlu berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, lakukanlah. Menangis saat bercerita adalah tanda emosi sedang 'keluar' dari sistem saraf muka. Jangan minta maaf karena menangis" jelas Ais. 

Tutup dengan validasi diri. Ais menyampaikan pamungkas "setelah semua cerita keluar, jangan biarkan percakapan menggantung begitu saja. Lakukan penutupan kecil. Tanya pada diri sendiri, 'gimana perasaanku sekarang setelah cerita'" (nata).