Lombok Timur (postkotantb.com) - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur “Nurul wathoni, menyambut positif terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena terkiat dengan masalah konsentrasi dan disiplin belajar, Menurutnya belajar merupakan faktor utama yang sangat menentukan keberhasilan akademik siswa di tingkat sekolah.
Baginya ,kemampuan siswa untuk fokus dalam menerima pelajaran tidak terlepas dari kondisi fisik yang sehat serta status gizi yang terpenuhi dengan baik,"katanya.
Namun dalam pelaksanaannya, aspek kedisiplinan yang menjadi bagian penting dari tujuan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) nyaris tidak mendapat perhatian serius dari pengelola MBG di Kabupaten Lombok Timur.
Hal ini menurut Nurul Watoni, terdeteksi melalui hasil pantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang menemukan masih adanya ketidaksesuaian dalam pengelolaan program di lapangan,
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi efektivitas MBG dalam mendukung kesiapan belajar siswa, sehingga diperlukan pembenahan dan pengawasan yang lebih ketat agar tujuan program dapat tercapai secara optimal,"terangnya
Dengan demikian,lanjutnya, "bahwa pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada pengelola Program Makan Siang Gratis (MBG) sebagai bentuk perhatian dan tindak lanjut atas temuan tersebut.
"Kita sudah menyurati semua pengelola MBG agar menerapkan sistem penyaluran makan gratis secara disiplin agar tidak mengganggu sistim dan proses belajar anak atau peserta didik," Jelas wathoni,saat di temui di ruang kerjanya, Rabu, (28/01/2026)
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran proses belajar mengajar serta menegakkan kedisiplinan di lingkungan pendidikan, sehingga pelaksanaan MBG dapat berjalan selaras dengan tujuan peningkatan konsentrasi, kesehatan, dan prestasi belajar siswa,
“karena program ini dilaksanakan pada siang hari
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Nurul Wathoni menekankan dukungan penuh karena Program ini merupakan program prioritas nasional, namun ia mengakui masih terdapat kendala koordinasi di lapangan, Oleh sebab itu, pihaknya telah bersurat kepada seluruh pengelola MBG agar pengantaran makanan dilakukan pada jam istirahat yang telah ditentukan, demi menjaga ketertiban, kesehatan, serta tidak mengganggu proses belajar mengajar."ujarnya.
Lebih Lanjut dikatakan, Nurul wathoni, bahwa terkait kerusakan bangunan sekolah akibat faktor bencana alam maupun maupun akibat dari usia bangunan, pihaknya hanya sebatas melaporkan dan berkoordinasi dengan BPBD serta Pemerintah Daerah karena keterbatasan Anggaran dan kewenangan serta tidak adanya dana taktis di internal Dikbud,Maka harus berkoordinasi untuk mengusulkan rehabilitasi melalui program Repit baik dari pusat maupun APBD, meski jumlahnya terbatas dan bergantung pada kuota serta hasil survei tim independen,"paparnya.
Tak hanya itu,Baginya bahwa dana DAK pusat saat ini sudah tidak tersedia, sehingga upaya perbaikan dilakukan melalui jalur koordinasi lintas sektor dan legislatif.
Selain itu, Dikbud tengah mempersiapkan zonasi Penerimaan Murid Baru (PMB) secara lebih matang guna meminimalisir persoalan yang terjadi pada tahun sebelumnya.
Dia juga menyebut bahwa jumlah sekolah yang telah dilaporkan mengalami kerusakan mencapai lebih dari 100 unit. Namun, realisasi bantuan rehabilitasi masih sangat terbatas, sebagaimana tahun sebelumnya yang hanya mengakomodasi sekitar 30 sekolah.
Oleh karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur terus berupaya memperjuangkan tambahan bantuan dengan menempuh berbagai jalur, termasuk melalui DPD dan DPR, agar lebih banyak sekolah yang dapat memperoleh program rehabilitasi dan segera diperbaiki sesuai tingkat kerusakan di masing masing sekolah,"pungkasnya. (Mul)


0Komentar