Lombok Utara, (postkotantb.com) - Kabid Kebudayaan pada kantor Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara, Raden Sawinggih melayangkan agar pihak terkait segera mengganti visual tersebut dengan dokumentasi asli agar sesuai dengan upaya pemajuan kebudayaan dan pelestarian sejarah.
Desakan untuk memperbaiki visualisasi/ilustrasi Maulid Adat Bayan yang dipajang di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) karena dianggap tidak sesuai dengan narasi aslinya.
Masalah ini mencuat setelah adanya laporan warganya yang merasa ilustrasi di bandara tidak mencerminkan realita Maulid Adat Bayan yang sebenarnya.
Mengingat Maulid Adat Bayan adalah bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN), kesalahan visual di pintu masuk utama (bandara) dianggap mencederai kejujuran informasi dan citra budaya NTB.
Raden Sawinggih dalam rilis resminya yang dikirim via WhatshApp kepada postkotantb.com, Jum'at 13 Maret 2026, menyampaikan "bandara adalah etalase budaya". Informasi yang keliru di dapat merusak pemahaman wisatawan tentang jati diri dan kekayaan daerah.
Ia meminta pihak BIZAM untuk segera mengganti visual tersebut dengan dokumentasi asli agar sesuai dengan upaya pemajuan kebudayaan dan pelestarian sejarah.
Raden Sawinggih mengakui mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak aduan dari masyarakat dan tokoh adat terkait kekeliruan tersebut.
Menurutnya, masalah ini bukan sekadar urusan estetika, melainkan menyangkut kejujuran sejarah dan pelestarian identitas asli masyarakat Bayan.
"Ini bukan persoalan sederhana. Ini masalah kejujuran kita dalam mencitrakan daerah apa adanya. Terlebih lagi, Maulid Adat Bayan sudah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Sangat disayangkan jika informasi yang disuguhkan di gerbang utama NTB justru keliru," tegas Sawinggih dalam Rilisnya, Jum'at (13/03-2026).
Sawinggih menekankan bahwa bandara bukan hanya sekadar pintu masuk fisik bagi wisatawan, melainkan etalase budaya yang menjadi platform efektif untuk mempromosikan kekayaan daerah. Jika terjadi kesalahan informasi di lokasi strategis seperti BIZAM, hal tersebut dikhawatirkan akan merusak upaya penguatan jati diri bangsa yang sedang dibangun.
"Bayangkan dampaknya jika wisatawan domestik maupun mancanegara menyerap informasi yang salah sejak mereka menginjakkan kaki di bandara. Ini tentu sangat mempengaruhi citra daerah kita," tambahnya.
Atas dasar tersebut, Bidang Kebudayaan KLU mendesak pihak pengelola atau instansi terkait, untuk segera mengganti visualisasi tersebut dengan dokumentasi atau ilustrasi asli yang sesuai dengan fakta lapangan Maulid Adat Bayan.
Langkah perbaikan ini dianggap krusial sebagai bagian dari upaya kolektif memajukan kebudayaan daerah serta memastikan warisan leluhur tetap terjaga keasliannya di mata publik nasional maupun internasional.
Pewarta: Jaharuddin.S.Sos


0Komentar