Sumbawa Besar, (postkotantb.com) — Penyaluran LPG 3 kilogram bersu''bsidi kembali menjadi perhatian masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, tabung gas 3 kg atau yang dikenal sebagai “gas melon” tetap menjadi pilihan utama karena harganya lebih terjangkau dibandingkan LPG non-subsidi.
Ketua ORARI Lokal Sumbawa, Muhammad Sagenta, SH, kepada awak media, Selasa (03/03/2026), menjelaskan bahwa LPG 3 kg merupakan program subsidi pemerintah yang distribusinya berada di bawah pengawasan PT Pertamina (Persero).
Menurutnya, LPG non-subsidi tersedia dalam kemasan 5,5 kg, 12 kg hingga 50 kg. Untuk ukuran 12 kg, harga di pasaran bisa mencapai ratusan ribu rupiah per tabung. Nominal tersebut dinilai cukup berat bagi sebagian masyarakat jika harus dibeli sekaligus.
“Banyak warga memilih LPG 3 kg karena lebih ringan dari sisi pengeluaran. Selain lebih terjangkau, pembeliannya juga tidak terlalu membebani keuangan rumah tangga,” ujarnya.
Di lapangan, sejumlah keluarga mengaku penghasilan bulanan mereka sebagian besar habis untuk kebutuhan pokok. Dalam sebulan, rata-rata rumah tangga membutuhkan dua kali pengisian gas. Karena itu, LPG 12 kg dianggap kurang realistis bagi masyarakat dengan pendapatan pas-pasan.
Sagenta menilai persoalan utama saat ini terletak pada ketepatan sasaran subsidi. Ia menekankan pentingnya pembaruan data penerima serta pengawasan distribusi yang lebih konsisten agar LPG 3 kg (melon) benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak.
“Kalau ingin tepat sasaran, data penerima harus jelas dan pengawasan dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat terjadi kelangkaan,” tegasnya.
Selain itu, muncul pula wacana penyediaan tabung 3 kg non-subsidi dengan warna berbeda sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak masuk kategori penerima subsidi, namun juga belum mampu membeli tabung 12 kg. Hingga kini, usulan tersebut masih sebatas wacana dan belum ada kebijakan resmi dari pemerintah pusat.
Masyarakat berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi LPG agar lebih adil dan tidak menimbulkan polemik berulang, terutama saat pasokan terbatas. Bagi sebagian keluarga, selisih harga gas cukup berpengaruh terhadap stabilitas pengeluaran rumah tangga setiap bulan. (Jhey)


0Komentar