Lombok Barat, (postkotantb.com) – Gelombang kekecewaan mendalam melanda warga Kecamatan Batulayar menyusul pernyataan pihak kepolisian yang membantah adanya aksi kelompok remaja bersenjata (gangster) pada malam Minggu kemarin. Warga menegaskan, bahwa insiden di depan Outlet Sasaku tersebut nyata dan sangat mencekam, sehingga tidak seharusnya dianggap sepi oleh aparat.

Tokoh masyarakat setempat, Bang Jajap menyatakan, bahwa sangat penyangkalan dari pihak Polsek Batulayar menunjukkan ketidakpekaan terhadap trauma kolektif masyarakat. Ia mengingatkan, bahwa pembiaran terhadap bibit kekerasan di jalanan dapat memicu eskalasi yang tidak diinginkan.
"Kejadian di depan Sasaku kemarin bukan main-main. Kami sangat menyayangkan bantahan Kapolsek. Jangan sampai ketidaktegasan ini justru memicu warga untuk bergerak sendiri. Kami tidak ingin peristiwa kelam 'Meninting Berdarah' beberapa tahun silam terulang kembali hanya karena aparat menganggap remeh laporan masyarakat," tegas Bang Jajap melalui rilis resminya kepada media ini pada Ahad, (01/03/2026).

Senada dengan hal tersebut, Nailul Hasis menekankan, bahwa keamanan di jalur utama Batulayar-Senggigi adalah harga mati. Ia menilai bantahan kepolisian di tengah maraknya isu sajam di wilayah Lombok Barat adalah langkah yang berbahaya.
"Sejarah mencatat betapa mahalnya harga sebuah keamanan di wilayah ini. Peristiwa Meninting Berdarah harusnya menjadi pelajaran bagi Polres Lombok Barat dan Polsek jajaran untuk selalu waspada dan merespons cepat keluhan warga. Kami tidak butuh klarifikasi di media, kami butuh patroli nyata dan tindakan tegas terhadap gangster tersebut," ujar Nailul.

Masyarakat Batulayar mendesak agar kepolisian segera melakukan langkah preventif yang konkret, pada titik-titik rawan sepanjang jalur pariwisata guna menjamin keselamatan warga dan pengunjung, sekaligus mencegah potensi konflik sosial yang dapat merusak citra pariwisata daerah. (red)