Sumbawa Besar, (postkotantb.com) - Nuansa religius dan kentalnya adat Samawa terasa kuat dalam Dzikir dan Doa Bersama di Istana Bala Kuning, Minggu malam (05/4), saat Bupati Sumbawa Barat, H.Amar Nurmansyah, ST., M.Si., hadir bersama para tokoh daerah dan adat dalam peringatan 15 tahun Penobatan sekaligus Malikelis ke-85 Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV.

Dalam momentum tersebut, Bupati Sumbawa Barat menegaskan bahwa kehidupan dalam lingkungan Kesultanan Sumbawa mencerminkan kuatnya marwah Tau dan Tana Samawa yang patut dijaga bersama. Menurutnya, identitas sebagai Tau Samawa adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab moral.


Ia menekankan, bahwa meskipun secara administratif Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat terpisah, keduanya tetap berada dalam satu ikatan adat dan sejarah yang sama, yakni Kesultanan Sumbawa. Lebih lanjut, Bupati Amar mengungkapkan bahwa dalam satu dekade awal pembangunan, Kabupaten Sumbawa Barat telah meletakkan fondasi peradaban yang kuat berbasis nilai-nilai adat dan keagamaan.

“Kami di KSB merasa bersyukur karena 10 tahun awal periode kepemimpinan telah diletakkan pondasi peradaban fitrah di Kabupaten Sumbawa Barat, banyak sekali ikatan-ikatan adat, falsafah adat bersendika syara, syara bersendi kitabullah sudah tertanam dalam jiwa masyarakat KSB,” ungkapnya.

Pada fase pembangunan berikutnya, nilai gotong royong atau basiru menjadi penguatan utama. Bahkan, menurutnya, Kabupaten Sumbawa Barat menjadi daerah yang memformalkan nilai gotong royong dalam bentuk peraturan daerah sebagai bagian dari arah pembangunan. Tradisi-tradisi lokal seperti bakalewang dan basanat tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dijadikan instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan daerah.

Namun demikian, Bupati Amar juga mengingatkan bahwa tantangan generasi saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Ia menyoroti berbagai persoalan sosial seperti judi online dan prostitusi daring yang menjadi ancaman nyata bagi generasi muda. Karena itu, ia menegaskan pentingnya pendekatan yang berakar pada nilai adat dan agama sebagai benteng utama.


“Generasi perlu pendekatan yang bisa menjadi benteng bagi mereka, sesuai dengan prinsip adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP., dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya menjadikan titah Sultan sebagai pedoman dalam menjaga marwah Tau Samawa serta memperkuat persatuan di tengah arus modernisasi.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam melalui nilai-nilai kearifan lokal seperti Mole Pade Antap, Balong Ai Kayu, dan Telas Kebo Jaran yang sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan.


Acara yang berlangsung hingga pukul 23.00 WITA ini turut dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Drs. Mohamad Ansori beserta istri; Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Dr. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.A.P.; Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa Dr. Dedy Heri Wibowo, S.Si., M.Si.; serta sejumlah tokoh masyarakat dari Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Hadir pula jajaran pegiat adat LATS, di antaranya Pariwa Adat LATS Dr. KH. Lalu Zulkifli Muhadli, SH., MM. dan Muhammad Yakub Daeng Kusuma Dewa, S.Sos; Sekretaris Majelis Adat LATS Yuli Andari Merdikaningtyas, MA; Ketua Dewan Syara’ LATS Dea Guru Syukri Rahmat, S.Ag., M.M.Inov.; Ketua Pajatu Adat LATS Dr. Muhammad Ikhsan Safitri, M.Si; serta anggota Dewan Adat dan Pajatu Adat LATS dari Kabupaten Sumbawa dan Kamutar Telu Kabupaten Sumbawa Barat.


Melalui kegiatan ini, Bupati KSB berharap nilai-nilai adat dan spiritualitas tetap menjadi pijakan utama dalam membangun masyarakat yang berkarakter, tangguh, dan berdaya saing di tengah perubahan zaman. (Amry)