Wayang SuKa Mandalika Karya Dosen UBG Doktor Sunardy Wakili NTB d i Pameran Internasional di Arma Museum Bali
Doktor Sunardy Kasim,S.Pd. M.Sn Dosen Prodi Desain Komunikasi Visual Universitas Bumigora (kiri) bersama bersama Profesor Dr. I Wayan Kun Adnyana Rektor ISI Bali (kanan)

 Bali, (postkotantb.com) - Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA) menggelar pameran kriya internasional bertajuk "Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma" di ARMA, Ubud, Gianyar, Bali. 

Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-30 ARMA tersebut resmi dibuka oleh Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan "Kun" Adnyana, pada Minggu (05/7/2026), dan berlangsung hingga 18 Juli 2026.

Ketua Panitia Pameran, Prof. Dr. Wayan Suardana, menjelaskan bahwa pameran ini menghadirkan 50 seniman dari delapan negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, dan Iran. Sebanyak 79 karya seni dua dimensi dan tiga dimensi ditampilkan, meliputi 28 patung keramik, sembilan guci keramik, enam karya terakota, enam karya wastra, enam karya mixed media, empat karya kriya logam, empat tapestri, empat instalasi, tiga keris, tiga batik seni, dua kriya kayu, dan satu karya wayang kulit.


Menariknya, satu-satunya karya wayang kulit yang dipamerkan berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu Wayang SuKa Mandalika, karya Dr. Sunardy Kasim, S.Pd., M.Sn., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Bumigora. Kehadiran karya tersebut sekaligus menjadikan Universitas Bumigora sebagai satu-satunya perguruan tinggi asal NTB yang berpartisipasi dalam pameran kriya internasional bergengsi ini.

Menurut Sunardy Kasim, Wayang SuKa Mandalika merupakan sebuah inovasi dalam dunia pewayangan yang memperkaya khazanah wayang Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Wayang ini lahir melalui proses riset dan penciptaan seni yang mengangkat kisah Putri Mandalika berdasarkan naskah lontar Mandalika Nyale, kemudian diwujudkan dalam bentuk wayang kulit dengan pendekatan visual yang tetap berpijak pada identitas budaya Sasak.


"Wayang SuKa Mandalika bukan sekadar menciptakan bentuk wayang baru, tetapi menjadi media pelestarian budaya yang memperkenalkan cerita rakyat Lombok kepada masyarakat luas, terutama generasi muda. Melalui wayang ini, nilai-nilai filosofis, sejarah, dan kearifan lokal yang terdapat dalam naskah lontar dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterima,"Tandasnya.(irs)