Laporan Sabdanom wartawan postkotantb.com Lombok Utara


Lombok Utara, (postkotantb.com) — Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat adat Bayan di Kabupaten Lombok Utara masih setia menjaga salah satu tradisi paling sakral: Maulid Adat. Puncaknya digelar di Masjid Kuno Semokan, namun rangkaian ritualnya sudah dimulai jauh hari sebelumnya di dua dusun, Segenter dan Dasan Gelupang, Kecamatan Bayan.

Bagi masyarakat adat Bayan, Maulid bukan sekadar memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, prosesi ini adalah wujud syukur, kebersamaan, dan penguat identitas yang diwariskan turun-temurun.

Persiapan di Dusun: Menutu dan Merantes

Beberapa hari sebelum berangkat, kedua dusun melaksanakan kegiatan serupa di wilayah masing-masing sejak 28 hingga 30 Agustus 2026.

Ritual dimulai dengan _menutu_ atau menumbuk padi. Yang unik, padi tidak langsung dimasukkan ke lesung. Inan Menik, tokoh perempuan adat, terlebih dahulu memegang dan memasukkan padi ke dalam rantok. Setelah itu, warga baru melanjutkan.

Sambil menutu, kaum laki-laki melakukan merantes. Mereka menumbuk padi menggunakan anggu atau lesung secara bergantian dengan irama. Dentuman lesung yang beradu menjadi tanda bahwa persiapan Maulid telah dimulai.

Bersamaan dengan itu, Pembekel Adat Dusun Dasan Gelupang melaksanakan tunang grantung. Dilanjutkan dengan pinangin gerantung bersama Pembekel Adat Dasan Segenter. Ini adalah bentuk musyawarah dan penyatuan niat sebelum berangkat bersama. 

Hasil padi yang ditumbuk malam itu kemudian dibawa sebagai bekal dan persembahan menuju masjid.

Perjalanan Sakral Menuju Masjid Kuno Semokan

Keesokan harinya, warga adat dari Dasan Gelupang dan Segenter berangkat menuju Masjid Kuno Semokan. Beras hasil menutu diangkut menggunakan kuda yang oleh masyarakat disebut pondong Menik.

Perjalanan tidak berlangsung dalam hening. Rombongan diiringi tabuhan grantung dan klentangan sambil melewati rurung agung, jalan utama adat.


Khusus rombongan Dasan Gelupang, ada tiga titik persinggahan wajib yang disebut sembulan:

1. Sambik Pengentengan  
   Persinggahan pertama di dekat Kampung Adat Sembagek. Di sini rombongan berhenti untuk menabuh _grantung_ sebagai tanda penghormatan.
2. Pawang Baban Kuta 
   Sebelum memasuki kawasan ini rombongan kembali singgah dan menabuh. Baban berarti pintu dan kuta berarti pagar. Penabuhan di titik ini melambangkan permohonan izin untuk masuk.
3. Sesengger di Pinggiran Pawang Semokan 
   Sebelum masuk Pawang Semokan, di pinggirannya dibuat tanda sesengger. Setelah menabuh grantung di depan sesengger, perjalanan baru dilanjutkan.

Penyambutan dan Mendaup

Sesampainya di wilayah Semokan, rombongan disambut masyarakat adat dari berbagai wilayah: Lendang Jeliti, Lendang Setinggi, Lendang Berdiri, Terbis, Goar, Seleah, Segenter, Dasan Gelupang, Langkang Koq, hingga Dasan Tereng dan Gunjan Sari.

Sebelum memasuki area Masjid Kuno Semokan, seluruh rombongan berhenti di aliran sungai untuk melakukan _mendaup_, yaitu mencuci muka sebagai bentuk penyucian diri sebelum masuk ke kampung masjid.

Makna di Balik Prosesi

Setiap tahapan memiliki makna mendalam. _Menutu_ melambangkan gotong royong. _Inan Menik_ yang memulai menandakan peran perempuan sebagai penjaga awal. _Grantung_ dan _klentangan_ adalah penanda spiritual perjalanan. Sementara tiga _sembulan_ adalah bentuk adab kepada tanah, pintu, dan batas wilayah suci.

Hingga hari ini, prosesi ini tetap dijalankan apa adanya. Tidak ditambah, tidak dikurangi. 

“Karena bagi masyarakat adat Bayan, menjaga prosesi berarti menjaga jati diri,” ujar salah seorang tokoh adat.