Lombok Utara, (postkotantb.com) — Di Gili Meno, laut bukan sekadar bentang keindahan yang menarik wisatawan. Laut adalah ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus masa depan yang sedang dijaga masyarakat. Pesan itulah yang dilihat langsung Yang Mulia Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Désirée saat mengunjungi Gili Meno, Lombok Utara, Minggu (6/9/2026).

Perjalanan menuju pulau kecil itu dimulai dari Pelabuhan Oberoi. Di atas kapal bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Putri Victoria berbincang tentang gugusan Gili Matra yang terdiri atas Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan.

“Ini adalah salah satu pulau yang menjadi bagian dari Gili Matra,” ujar Gubernur Iqbal saat memperkenalkan kawasan tersebut.

Ketika melihat kapal-kapal nelayan, Putri Victoria tertarik mengetahui aktivitas masyarakat di laut.

“Ini kapal nelayan?” tanyanya.

“Ini kapal nelayan. Kapal ini juga digunakan untuk mengangkut penyelam. Jadi tidak hanya untuk menangkap ikan, tetapi juga untuk kegiatan menyelam,” jawab Gubernur Miq Iqbal.

Menurut Miq Iqbal, penggunaan kapal juga mempertimbangkan kelestarian ekosistem laut, mengingat aktivitas wisata harus berjalan tanpa merusak lingkungan perairan.

Percakapan sederhana di atas kapal itu menjadi gambaran awal tentang kehidupan Gili Meno: laut menjadi sumber ekonomi, tetapi pada saat yang sama harus dijaga agar tetap mampu menopang kehidupan masyarakat.

Setibanya di Gili Meno, Putri Victoria melihat langsung upaya masyarakat menjaga ekosistem laut. Ia mengunjungi kawasan konservasi penyu, melihat tukik, serta menyaksikan edukasi konservasi dan transplantasi terumbu karang yang dikembangkan melalui lima struktur webs.

Puncak kunjungan berlangsung ketika Putri Victoria bersama Gubernur Miq Iqbal dan rombongan melepas tukik ke laut di Turtle Sanctuary Gili Meno.

Tukik-tukik kecil itu bergerak menuju laut, kembali ke habitat alaminya. Momen tersebut menjadi gambaran sederhana tentang apa yang sedang diperjuangkan masyarakat Gili Meno: menjaga kehidupan di laut agar kehidupan manusia yang bergantung padanya juga tetap berjalan.

Dalam dialog dengan masyarakat Gili Meno, Putri Victoria menyampaikan kekagumannya terhadap keindahan Gili Meno sekaligus berbagai upaya masyarakat mempertahankannya.

“Saya sangat terkesan dengan semua hal yang sedang dilakukan di sini. Tempat ini sangat indah, bahkan luar biasa indah. Karena itu, segala upaya yang dapat kita lakukan untuk menjaga keindahannya merupakan kepentingan kita bersama,” ujar Putri Victoria.

Ia juga berharap berbagai praktik baik yang dikembangkan masyarakat dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.

“Terima kasih karena telah menjadi contoh atau panutan. Saya berharap berbagai contoh baik dan inisiatif yang dilakukan di sini dapat diterapkan dan dikembangkan juga di tempat-tempat lainnya,” katanya.

Bagi masyarakat Gili Meno, menjaga laut bukan semata urusan lingkungan. Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, mengatakan kehidupan masyarakat sangat bergantung pada perikanan, pariwisata, perdagangan, dan berbagai usaha yang tumbuh dari kawasan pesisir.

Karena itu, masyarakat berharap Gili Meno dapat berkembang sebagai sustainable island, pulau yang mampu mengembangkan ekonomi dan pariwisata tanpa kehilangan lingkungan yang menjadi sumber kehidupannya.

“Yang kami harapkan adalah Gili Meno dapat terus berkembang sebagai pulau yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi anak cucu kami,” ujarnya.

Upaya tersebut diperkuat masyarakat adat melalui dialog dan awig-awig, aturan serta kesepakatan adat yang menjadi bagian dari tata kehidupan masyarakat. Rehabilitasi terumbu karang, penanaman mangrove, pengawasan laut, edukasi lingkungan dan kegiatan bersih-bersih dilakukan sebagai bagian dari menjaga ekosistem.

Kelompok perempuan juga mengambil peran melalui pengembangan usaha, suvenir dan produk kreatif, termasuk pemanfaatan sampah plastik serta limbah botol menjadi produk bernilai ekonomi.

Di sinilah gagasan ekonomi biru menemukan bentuknya di tingkat masyarakat: laut dilindungi, tetapi tetap menjadi sumber penghidupan; pariwisata berkembang, tetapi daya dukung alam tetap dijaga.

Tantangannya tidak kecil. Pertumbuhan pariwisata membawa peluang ekonomi sekaligus tekanan terhadap lingkungan, terutama pengelolaan sampah dan daya dukung kawasan. Karena itu, masa depan Gili Meno sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kelestarian.

Kunjungan Putri Victoria memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak selalu dimulai dari gagasan besar. Ia dapat tumbuh dari tindakan sederhana masyarakat: menjaga terumbu karang, menanam mangrove, mengurangi sampah, mengembangkan usaha, melindungi penyu, dan memastikan laut tetap hidup.

Di Gili Meno, menjaga laut pada akhirnya bukan hanya tentang menyelamatkan penyu atau mempertahankan keindahan pantai. Ia adalah cara masyarakat menjaga sumber kehidupan, merawat ekonomi hari ini, dan memastikan harapan tetap memiliki tempat untuk tumbuh bagi generasi yang akan datang. (Red)