LFSIB: "Jangan Jadikan Tanah Tau Samawa Komoditi Broker. Beri Harga Adil ke Pemilik Lahan". 


Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Proses pembebasan lahan untuk pembangunan _conveyor belt_ PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Desa Jamu, Kecamatan Lunyuk, diduga berjalan tanpa prosedur. Warga mengaku belum pernah ada sosialisasi resmi, namun pembeli lahan sudah mulai berdatangan.  

Hal tersebut disampaikan langsung oleh warga Desa Jamu berinisial *YN*. Menurut YN, hingga saat ini tidak ada pemberitahuan atau musyawarah resmi dari PT Amman Mineral terkait pembebasan lahan untuk proyek _conveyor belt_.  

"Belum ada sosialisasi resmi sama sekali dari perusahaan. Tapi beberapa orang yg diduga calo / broker  sudah mulai datang menawarkan harga dan  membeli tanah warga. Harganya berbeda-beda," harga transaksi berkisar 1 JT ,3,5 JT ,4 JT 6 JT. Ujar YN Rabu (02/09/2026).

Kekosongan informasi ini memicu keresahan. Di tengah situasi yg sudah tidak adanya kejelasan, muncul  pihak-pihak yang mengaku dan membawa nama PT Amman Mineral,serta keberadaan para *broker* yang ikut membeli lahan warga.dan yg paling miris bahwa ada oknum comrell PT AMNT, oknum kades dan oknum LSM lokal ,yang ikut serta mengintimidasi warga agar mau menjual lahannya dan  membeli lahan warga dgn harga yg  mereka tawarkan sangat tidak layak

Menyikapi laporan tersebut, *Fivien Usman, Ketua Forum Samawa Intan Bulaeng - FSIB* angkat bicara. Ia meyakini kuat ada pelanggaran prosedur dalam proses pembebasan lahan.  

"Proses pembebasan lahan di area pertambangan itu wajib melalui tahapan sosialisasi publik, kajian AMDAL secara resmi sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku di negara ini. Itu harga mati," tegas Fivien.  

Fivien juga menyoroti keterlibatan pihak ketiga dan broker. Ia mempertanyakan transparansi jika PT Amman Mineral memang menunjuk pihak ketiga.  

"Kalau memang menggunakan pihak ketiga, harusnya lewat tender dan diketahui publik. Jangan main belakang. Yang jadi pertanyaan besar saya: oknum dan broker ini pasti cari untung besar. Kenapa untung itu tidak langsung saja diberikan ke masyarakat pemilik lahan terdampak dengan harga yang lebih baik dan adil?" katanya dengan nada tajam.  

FSIB mendesak PT Amman Mineral untuk segera turun langsung ke Desa Jamu.  

"Harapan kami, PT Amman segera terjun ke lapangan sebagai wujud peduli terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Jamu. Jangan sampai warga jadi korban informasi dan permainan harga," lanjut Fivien.  

Di akhir pernyataannya, Fivien menyerukan solidaritas untuk memperjuangkan hak masyarakat.

"Mari semua pihak bergandengan tangan untuk memperjuangkan hak-hak _Tana Tau Samawa_ sebagai daerah penghasil. Tanah kami, harga dan prosedurnya harus jelas," pungkasnya.  

*TUNTUTAN FSIB:*  

1.  *Hentikan sementara* transaksi jual beli lahan oleh oknum dan broker sampai ada sosialisasi resmi. Karena menjadi polemik saat ini di wilayah lunyuk
2.  *PT Amman Mineral wajib* melakukan sosialisasi terbuka terkait harga, dan mekanisme pembebasan lahan _conveyor belt_.  
3.  *Pemerintah Daerah dan DPRD* mengawasi agar tidak ada praktik jual beli di bawah tekanan dan harga tidak wajar.(Jhey)