Lombok Utara, (postkotantb.com) – Pemandangan tak biasa terjadi di arena Perisean Selengen, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Minggu (20/9) sore.
Di tengah riuhnya tabuhan Gendang Beleq, dua orang pepadu perempuan naik ke tengah arena. Mengenakan sapuk dan ikat kepala, mereka membawa penjalin [tongkat rotan] dan ende [perisai kulit kerbau] layaknya pepadu pada umumnya.
Ini adalah sejarah baru. Sepanjang tradisi Perisean di Selengen, arena selalu dikuasai pepadu laki-laki.
Begitu wasit atau pakem memberi aba-aba, keduanya langsung beradu. Pukulannya lincah, gerakannya gesit, tanpa rasa takut. Sesekali mereka menari mengelak serangan lawan. Ribuan penonton yang memadati lapangan bersorak, bertepuk tangan, dan merekam momen langka itu dengan ponsel.
Pertarungan berlangsung sekitar 5 menit dalam beberapa ronde. Keduanya berakhir imbang dan saling berpelukan di tengah arena. Penonton pun memberikan _standing applause_.
“Jantung saya deg-degan, tapi senang sekali. Kami latihan seminggu. Kami ingin buktikan perempuan juga bisa melestarikan budaya, tidak hanya menonton,” kata Siti, salah satu pepadu perempuan tersebut.
Ketua Panitia Perisean Adat Selengen, Amaq Raden, mengatakan aksi ini sengaja diberi ruang sebagai bentuk pelestarian budaya yang inklusif.
“Kami tidak melanggar pakem. Aturan tetap sama. Hanya pelakunya yang perempuan. Ini untuk menarik perhatian anak muda, bahwa Perisean itu milik semua orang Sasak. Antusias warga luar biasa, ini jadi hiburan yang paling ditunggu,” ujarnya.
Perisean Selengen sendiri digelar sebagai wujud syukur atas hasil panen dan sebagai ajang mempererat silaturahmi warga. Tradisi ini diyakini sebagai simbol keberanian, sportivitas, dan persaudaraan.
Dengan turunnya dua pepadu perempuan ini, warga Selengen mencatat sejarah baru: Perisean bukan lagi sekadar pertarungan laki-laki, tapi panggung budaya untuk semua.
Penulis: Sabdanom


0Komentar