Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A. Foto Dokumen



Jakarta, (postkotantb.com)  — Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A. menekankan pentingnya pengembangan tafsir maqashidi yang tidak hanya mendalam secara akademik, tetapi juga mampu menjawab berbagai persoalan kemanusiaan dan tantangan global. Hal tersebut disampaikan dalam rangkaian pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 30 September 2026.

Dalam pandangannya, masa depan tafsir maqashidi perlu diarahkan pada terbentuknya generasi akademisi dan ulama yang memiliki kompetensi secara mendalam, komprehensif, sekaligus aplikatif. Penguasaan terhadap Al-Qur'an, menurutnya, tidak cukup berhenti pada pemahaman tekstual dan literal, tetapi perlu disertai kemampuan mengekstraksi nilai-nilai universal Al-Qur'an yang relevan dengan kehidupan modern.

"Pengembangan tafsir maqashidi harus mampu menjembatani teks dengan konteks. Pesan Al-Qur'an perlu dipahami secara mendalam sekaligus diaktualisasikan dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan," demikian pokok gagasan yang ditekankan dalam arah pengembangan tafsir maqashidi ke depan.

Merespons Krisis Lingkungan

Salah satu agenda penting yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan tafsir maqashidi adalah penguatan kesadaran etis dan ekologis umat Islam. Krisis lingkungan global, termasuk perubahan iklim dan kerusakan ekosistem, menuntut perspektif keagamaan yang mampu memberikan landasan moral bagi upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.

Dalam konteks tersebut, tafsir maqashidi dapat dikembangkan untuk memperkuat prinsip hifz al-bi'ah, yakni pelestarian dan perlindungan lingkungan. Pendekatan tersebut menempatkan persoalan ekologis bukan semata-mata sebagai persoalan teknis, melainkan juga sebagai persoalan etis yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap alam dan keberlangsungan kehidupan.

Tafsir Maqashidi dan Tantangan Global

Prof. Hasani juga menempatkan tafsir maqashidi dalam konteks berbagai krisis global kontemporer. Perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, krisis demokrasi, pandemi, hingga konflik geopolitik merupakan persoalan kompleks yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan perspektif yang berorientasi pada kemaslahatan.

Dalam kerangka tersebut, sejumlah nilai maqashidi dapat menjadi landasan etis dalam merespons persoalan global. Di antaranya hifz al-bi'ah atau pelestarian lingkungan, al-'adalah al-iqtishadiyyah atau keadilan ekonomi, al-salam al-'alami atau perdamaian global, serta karamah al-insan atau martabat manusia.

Nilai-nilai tersebut membuka ruang bagi tafsir Al-Qur'an untuk berkontribusi dalam membangun perspektif Islam yang konstruktif terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.

Mendorong Dialog Lintas Disiplin

Pengembangan tafsir maqashidi, menurut Prof. Hasani, juga perlu dilakukan melalui dialog yang lebih intensif dengan berbagai disiplin ilmu kontemporer. Filsafat hukum (jurisprudence), etika terapan (applied ethics), teori keadilan (theories of justice), ilmu sosial, dan humaniora dinilai dapat memperkaya kerangka metodologis tafsir maqashidi.

Dengan pendekatan lintas disiplin, tafsir maqashidi memiliki peluang untuk berkembang menjadi tradisi keilmuan yang mampu mempertemukan dimensi normatif Al-Qur'an dengan kompleksitas realitas sosial.

Tidak Mengabaikan Dimensi Spiritual

Meski menekankan aspek metodologis dan aplikatif, pengembangan tafsir maqashidi tidak boleh mengabaikan dimensi etis dan spiritual. Tafsir maqashidi bukan sekadar teknik intelektual untuk memahami tujuan dan pesan Al-Qur'an. Di dalamnya terdapat dimensi spiritual berupa mujahadah nafsiyyah, yakni kesungguhan diri dalam memahami kehendak Allah sekaligus berupaya mengimplementasikan nilai-nilai tersebut demi kemaslahatan manusia.

Karena itu, pengembangan tafsir maqashidi idealnya berjalan dalam keseimbangan antara kedalaman keilmuan, ketajaman metodologis, dan kematangan etis-spiritual.

Arah tersebut pada akhirnya bermuara pada kebutuhan melahirkan generasi akademisi dan ulama yang tidak hanya menguasai khazanah tafsir, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman dan merumuskan respons keislaman yang relevan.

Tafsir maqashidi diharapkan menjadi salah satu instrumen penting untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam berbagai ruang kehidupan, sehingga Al-Qur'an tidak hanya dipahami sebagai teks yang dibaca dan ditafsirkan, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat menginspirasi terbentuknya kehidupan yang lebih adil, damai, bermartabat, dan berkelanjutan. (Red)