Melirik Pondok Angkringan Keluarga Lalu Agung Pambudi

ANGKRINGAN;  Kepala Kanmenag Loteng H. Zamroni Aziz bersama jajarannya, saat menikmati sajian dan masakan di Pondok Angkringan Lalu Agung Pambudi Fundation.

Sajikan Menu Spesial Berkualitas, Terjangkau Untuk Semua Kalangan

Imbas pandemi Covid-19, telah menyita pemikiran manusia untuk berjuang dalam mempertahankan hidup. Seperti yang dilakoni keluarga besar Lalu Agung Pambudi, bermodalkan semangat dan kerja keras menyelamatkan keluarga, kurang dari 3 bulan pondok angkringan maju dengan pesat, tak disangka dan dilyar dugaan omset setiap harinya mampu menyaingi angkringan yang lebih dulu memulai usahanya

Saparudin ( Apeng ) 

Lombok Tengah NTB

Kerja keras, ulet tak kenal menyerah dan dibarengi dengan doa , InsyaaAlah tidak akan mengkhianati hasil, selama niat dan keinginan ada, pastinya kesuksesan menaungi kita.

Lebihnya lagi ditengah Covid-19, segala kebutuhan hidup menjadi sulit dan sejumlah karyawan hotel dan yang lainnya, mau tidak mau harus gigit jari, lantaran tempat mereka bekerja tak mampu menanggung beban imbas Covid-19.

Atas dasar tersebut, tepatnya awal bulan Maret lalu, Lalu Agung Pambudi Fundation, mendirikan pondok angkringan, yang notabene karyawannya dari kalangan keluarga sendiri dibantu oleh para kolega disekitarnya.

Mensukseskan pondok angkringannya, yang beralamatkan di Kampung Marde Kelurahan Praya Lombok Tengah, Lalu Agung Pambudi hanya butuh beberapa Minggu, omsetnya bisa bersaing dengan sejumlah Angkringan di Kota Praya yang sudah lebih dulu eksis.

"Alhamdulillah, sejak Pondok Angkringan ini diresmikan pada bulan Marat lalu, sekarang sudah mampu bersaing dengan Angkringan yang notabene sudah berdiri lama," katanya saat berdiskusi sembari bertukar pengalaman  dengan sejumlah wartawan di pondok angkringan miliknya Jum'at malam (7/5).

Melejitnya usaha angkringan ini lanjutnya, itu bisa dilihat dari jumlah omset yang laku terjual setiap hari, termasuk minuman dan cemilan.

"Menu masakan yang paling banyak diminati oleh para pengunjung adalah makanan ayam geprek, sementara minuman bervariasi dan untuk minuman sendiri bisa menemembus 2.600 gelas permalam," tuturnya. "Dan bahkan selama puasa ini, pesanan ayam geprek yang delvery (pesanan yang diantar) mencapaj 60 bungkus, belum lagi yang dimakan ditempat," imbuhnya.

Untuk mempertahankan kesuksesan ini pihaknya memiliki motto, Racikan tidak boleh berubah,terutama dari segi rasa, plus pelayanan ramah dan tetap  menjaga kebersihan dan selalu higenis.

"Semakin banyaknya omzet, saya sebenarnya tidak terlalu kaget, disamping Motto dijalankan, rata rata karyawan khususnya juru racik adalah Risen sejumlah restoran terkenal. Sehingga saya tak heran jika pesanan dan kunjungan kian meningkat tajam," paparnya.

Wakil ketua umum asosiasi perumahan sehat nasional jaya pusat ini menambahkan, selain menunya banyak yang suka. Harga yang ditawarkan juga terjangkau untuk semua kalangan. Sebut saja seperti ayam geprek, ketika diluar menjual Rp 25 per kotak, pihaknya berani jual Rp 15 ribu per kotak.

Selanjutnya masalah bahan atau konsumsi, itu semua stok diambil dari hasil keluarga. Misalnya sayur mayur, telor dan yang lainnya. "Yang jelas semua bahan kita ambil dari keluarga," bebernya.

Ia menambahkan, sempitnya lokasi pondok angkringan ini, sehingga pihaknya tidak mampu menerima diatas 80 orang, sebab kapasitas pondok angkringan hanya 80 orang. "Lokasinya tidak terlalu luas, sehingga kita hanya bisa siapkan kapasitas 80 orang," ungkapnya.

Sedangkan untuk hasil, pihaknya telah menyiapkan 10 persen dari pe nghasilannya disisihkan untuk berbagi dengan kaum duafa, dan anak yatim piatu.