Tenun Bayan, Representasi Identitas Lotara

Gadis Bayan dengan ulet menenun kain dengan cara yang tradisional.

Syafrin Salam
Lombok Utara

TAK TERPUNGKIRI, Produk Budaya dapat menunjuk identitas, harkat, bahkan martabat suatu daerah. Begitu pula di Kabupaten Lombok Utara (Lotara). Salah satu daerah di Pulau Lombok, NTB ini, ternyata memiliki segudang potensi budaya yang patut dibanggakan. Yaitu, Tenun Bayan.

Betapa tidak, mulai bahan baku, bahan setengah jadi (kain tenun) hingga produk yang sudah jadi (biasanya pakaian adat) tak pelak telah menjadi tolak ukur keberagaman masyarakat di Pulau Seribu Mesjid tersebut. Beragam corak kain tenun yang dibuat komunitas penenun di Bayan, misalnya Songket, Ikat dan Londong Abang” (kain merah,red), menggambarkan keanekaragaman lapisan dan golongan masyarakat yang hidup dan berdomisili di Bayan.

Dalam komunitas Adat Bayan, kain tenun dengan corak tertentu wajib dimiliki oleh warga masyarakat adat. Biasanya kain tenunan laiknya Londong Abang, niscaya digunakan pada acara ritual adat Maulidan, Lebaran dan Ngaji Makam. Meracik kain tenun tergolong cukup sulit sekaligus rumit. Keseluruhan proses pembuatannya menggunakan kayu dan bambu, dioperasikan secara manual (kreasi tangan,red). Estimasi waktu pengerjaannya, bisa sampai dua minggu.

Ihwal yang membedakan antara tenunan Bayan dengan tenunan luar Bayan, terletak pada corak produknya. Tiap corak kain yang dikenakan pemakainya merepresentasi asal “gubuq” atau kampung tertentu di kecamatan setempat. Tenunan dibikin bukan memperhatikan corak saja, tapi kontrasting warna yang disesuaikan dengan warna kulit pemakainya.

Demi mendapatkan kain tenun Bayan, sebaiknya Anda memesan terlebih dahulu. Penenun biasanya mencocokkan corak maupun kekontrasan warna dengan keinginan si pemesan. Biasanya, sang pemesan kain tenun, dijamin puas atas kain pesanannya.

Beranjak dari corak kain, cara mengenakan pakaian adat komunitas Bayan pun unik nan khas. Pemakaiannya lengkap dengan kombinasi kain yang harus digunakan. Ada ‘Jong’ (penutup kepala), ‘Lipaq’(kemben penutup dada), ‘Poleng’ (kain yang dipakai paling bawah) dan ‘Sampur’ untuk penutup lengan kiri. Kesuluran pakain adat ini mulai dari Jong hingga Sampur khusus untuk kaum perempuan.

Khusus untuk laki-laki, terdiri dari ‘Sapuk’ (pengikat kepala), ‘Dodot Rejasa’ (kain penutup lengan kiri) biasanya warna hitam bercorak putih, serta ‘Londong Abang’ (kain paling bawah). Semua warna dan corak kain memilki makna sesuai dengan ritual adat yang ikuti.

Semisal mengikuti ritual adat adalah adat ‘gawe Urip’(resepsi hidup) biasanya mengenakan corak berwarna-warni (poleng), sedangkan ritual adat gawe Pati (syukuran meninggal) menggunakan warna merah (abang) dikombinasikan dengan warna hitam atau populer dengan ‘Londong Abang dan Rejasa’.

Namun, kain paling keramat di komunitas adat setempat adalah Jong Bayan (penutup kepala), menunjukkan ciri khas berpakaian masyarakat komunitas adat Bayan sekaligus ikon (identitas) yang langsung merepresentasi makna keseluruhan pakaian adat yang dikenakan ketika ada gelaran ritual adat.

Bicara prospek ke depan, kain tenun komunitas adat Bayan ini bisa diandalkan khususnya untuk aset Lombok Utara. Produk tenun Bayan memiliki prospek dan potensial untuk dikembangkan, terlebih lagi manakala dikombinasikan dengan keberadaan obyek wisata di kawasan tersebut: air terjun, rumah tradisionil (bale adat) hingga taman wisata Gunung Rinjani.(#)